Penyebab nekat bunuh diri

kisah-nyata mau bunuh diri(Kabar-posting)-Ma “Aku ke Surga Dulu, Terlalu Lelah di sini”. Selanjutnya ia “Terjun Bebas” dari Lantai 21; Hati ibu Shu-shu ini hancur memeluk tubuh putrinya yang dingin beku. Sang ibu menyekolahkan putrinya yang “bodoh” ke universitas bergengsi, lalu memasukkan ke firma hukum terkenal di Dalian.

Betapa besar pengorbanan ibu untuk putrinya. Namun, baru setahun lulus, sang putri balas jasa ibunya dengan cara  ini, menyedihkan. Anak2 adalah harapan ortu. Tak dipungkiri ortu berharap agar anaknya jadi sosok sukses nantinya. Siapa sangka, kalau ada sedikit kesalahan, maka terjadi hal menyedihkan seperti kisah nyata berikut ini.

Ibu itu Liu Yu usia (50) lulusan full-time undergraduate yang bisa dihitung jari dari teman2 seusianya ketika itu. Setelah lulus, Liu mengabdikan diri jadi pendidik di sekolah. Karena menonjol, ia berposisi bagus sepanjang kariernya. Di usia ke (35), ia jadi wakil kepala Department of Business Administration di Dalian University, Tiongkok, ia profesor dan staf menengah termuda di universitas ini saat itu.

Suaminya pegawai negri dengan kedudukan tinggi. Keberhasilan pasangan ini membuat banyak orang iri hati. Tahun 1984, Liu Yu melahirkan anak perempuan dan diberi nama Shu-shu. Dia bilang ke suaminya, anak kita harus lebih meonjol dibanding anak keluarga lain. Namun, kondisi putrinya membuat ibu Liu tercengang : 1 tahun 7 bulan, saat anak lain bisa lari kesana kemari, Shu-shu belum bisa berjalan lancar.

Kemampuan bicara Shu-shu lambat, anak lain bisa panggil “tante”, “nenek” dsb. Shu-shu sulit mengucapkan papa-mama. Kondisi ini membuat ibu Liu kecewa. Yang membuat ibu Liu makin kecewa, ketika Shu-shu masuk SD. Dia selalu dapat nilai nol setiap kali ujian, untuk soal yang mudahpun, ia tak mengerti. Agar putrinya pintar, ibu Liu memaksa putrinya minum suplemen2 tiap hari.

Nilai Shu-shu tak bertambah baik, Shu-shu tumbuh dewasa lebih cepat, baru SD sudah menstruasi. Temannya yang dokter menyarankan, sang ibu “program menguatkan otak” untuk anaknya. Tapi tidak membuat ibu Liu menyerah menciptakan “program unggulan” bagi anaknya. Ia atur waktu belajar Shu-shu dengan padat, dan mencari berbagai guru privat ahli membimbing Shu-shu.

Hasil bimbingan tidak mengecewakan, Shu-shu berhasil juara-1 di kelas 5 SD pertama kalinya. Liu tentu senang dan minta Shu-shu ikut pertandingan cerdas cermat nasional. Sayangnya Liu dikecewakan hasil anaknya. Ia tidak mengerti pertanyaan yang diajukan, lawannya sudah tahu jawabannya. Shu-shu belakangan menulis di buku diarinya, Shu-shu kesal bukan main begitu terbayang dengan hal itu :

“Responku lambat, aku selalu jadi terakhir dalam tiap kegiatan. Tapi, mama tidak mau mengakui kelemahanku ini, dia dan papa merasa Shu Shu orang hebat, sehingga mereka pikir, dengan turunan genetik sama, mana mungkin tidak pintar? Jadi, punya ortu hebat tidak selalu bagus, aku tidak bahagia, mereka hidup tersiksa karena diriku”.

Musim panas 1997, Shu-shu sekolah di SMP. Ibunya menguras habis tabungannya, cari lagi guru hebat untuk les Shu-shu malam hari. Shu-shu ditempa jadi anak yang lebih unggul dari yang lain. Ibunya puas akan nilai yang dicapai Shu-shu, katanya “Kepintaran kamu itu hasil galian yang mama paksakan.”

Tahun 2000, Shu-shu masuk SMA ternama, tapi di ujian pertama, ia tak lulus di banyak mata pelajaran. Karena itu, wali kelas Shu-shu memanggil ibunya, ia curiga Shu-shu sebelumnya dapat bocoran sehingga bisa diterima di SMA ini. Hal ini membuat ibu Shu-shu marah lalu berkata, “Saya bisa menggugatmu atas fitnahan ini” Liu membawa hal ini ke kepala sekolah, dan wali kelas ini minta maaf.

Ia minta Shu-shu dipindah ke kelas terbaik di SMA itu agar tidak lagi diajar wali kelas itu. Tapi Shu-shu yang tidak bisa mengikuti pelajaran berkata mau keluar sekolah 1 minggu kemudian. Shu-shu yang selalu nurut kata mamanya, berkata : “Saya mau pindah sekolah.” Ibunya melotot dengar keinginan putrinya. Tapi Shu-shu ngotot ingin pindah sekolah.

 

“Saya sama sekali tidak paham penjelasan guru. Mata pelajaran SMA itu sulit. Saya ingin pindah sekolah kesusteran dan kerja di rumah jompo,” kata Shu-shu yang membuat mamanya tersedak mendengarnya. Ibunya marah besar karena hal ini, walaupun suaminya sudah membujuknya untuk menghormati keputusan Shu-shu, tapi reaksi ibu Liu sangat keras dan malah berkata,

 

“Banyak anak lebih buruk dari Shu-shu bisa kuliah, kenapa dia tidak bisa? Hei Liang Jun (Suami ibu Lu), kamu dengar baik2 ya, kecuali besok aku mati, kalo tidak, aku pasti memasukkan Shu-shu ke universitas bergengsi!”. Liu mulai turun tangan mengajar anaknya. Tahun 2003, Shu-shu masuk fakultas ekonomi universitas ternama. Liu menangis menerima lembar penerimaan dari universitas.

Liang Jun, bersukur atas upaya keras istrinya : “Kalau bukan karena kamu, Shu-shu pasti tidak ada harapan lagi.”. Di semester pertama, Shu-shu mahasiswi satu2nya yang mata kuliahnya paling banyak gagal. Shu-shu akhirnya harus diam di rumah dan belajar. Shu-shu menulis di diarinya, “Mama yang pintar melahirkan anak tidak pintar, tapi tidak mau menerima kenyataan. Kasihan.

Anak yang tidak pandai memiliki ibu yang pintar, dan anaknya dipaksa harus pintar, menyedihkan”. Dengan usaha keras Shu-shu menamatkan kuliahnya. Di hari terakhir kuliah dia sampaikan kesan-pesan kuliahnya,

 

“Lulus, semua orang senang dan terjun ke masyarakat, dan berdikari, yang paling menggembirakanku, aku tidak perlu belajar lagi. Lelah rasanya 16 tahun perjalanan di sekolah, dan saking lelahnya sampai2 membuatku berulang kali tidak mau hidup lagi.” Ibunya tidak berhenti disitu, ia memasukkan anaknya ke kantor pengacara.

Shu-shu memiliki atasan yang ketat. Di hari pertamanya bekerja, pengacara memberi Shu-shu pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. Ketika Shu-shu minta tolong pada rekan kerjanya, semua sedang sibuk dan tidak bisa membantunya.

 

Malamnya Shu-shu dimarahi atasannya, dia menangis. Karena itu ia katakan ke mamanya tidak mau kerja lagi. Ibu Liu marah, namun semua itu diterima Shu-shu dengan cara diam. Semakin lama Shu-shu semakin terpuruk di kantornya dan semakin ingin keluar dari sana.

Karena hidup tertekan sejak kecil hingga lulus kuliah dan terjun ke masyarakat, Shu-shu memutuskan mengakhiri hidupnya, ia lompat dari lantai 21 dan tewas seketika. Beberapa hari kemudian, ibu Liu yang tidak mampu menerima kenyataan itu menemukan surat dari Shu-shu yang isinya:

“Papa, mama, aku selalu berharap bisa jadi anak seperti yang diharapkan. Tapi, aku bukanlah anak tipe seperti itu. Aku lelah, benar2 lelah, aku selalu hidup di lingkungan yang bukan milikku, kelebihan orang lain selalu menonjolkan kebodohanku. Aku lelah, dan ingin istirahat, mungkin di surga nanti aku bisa bertemu teman2ku yang tidak pintar tapi bahagia.”

Huruf demi huruf yang ditorehkan terakhir kali oleh Shu-shu itu membuat Liu terpukul dan sadar, tapi terlambat. Ketika diwawancarai, Liu mengatakan : “Saya ceritakan masalah ini, hanya ingin menyadarkan para ortu lain atas hal yang dialami putri saya. Pepatah Turki mengatakan “Tuhan saja menyiapkan pohon yang pendek bagi burung yang bodoh”.

Kalimat ini saya kutip dari buku diari Shu-shu, saya selalu memaksa Shu-shu terbang ke pohon tinggi yang bukan untuknya, hingga akhirnya dia jatuh. Kalau direnungkan, bukankah saya hanya berharap agar anak saya bahagia ?

Tiap anak berbakat beda, Ortu yang bijak cukup membimbing mereka menemukan arah yang jadi milik mereka, bukan hanya menyuruh mereka ke satu jalan. (Stevie Suyono-A65; sumber dari http://kabarposting.com/2017/06/20/kisah-nyata-ma-aku-ke-surga-dulu-terlalu-lelah-di-sini-detik-selanjutnya-ia-pun-terjun-bebas-dari-lantai-21-penyebab-dia-nekat-bunuh-diri-adalah/)-FR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita