The Kindness of a stranger: Marga Tjoa

Tjoa Kwie Soe-1Kisah margaTjoa tidak “seheboh” marga Han (yang hanya sedikit dikutip di tulisan sebelumnya, masih banyak kisah “menggemparkan”). Seperti juga marga Han, marga Tjoa juga memelihara silsilah keluarga dari tanah leluhurnya di Tiongkok.

 

Imigran pertama di Surabaya (di Jawa) dimulai oleh Tjoa Kwie Soe (1739-1793) yang tiba di Sedayu 1753. Meski tidak heboh, kisah Tjoa Kwie Soe ini menyerupai kisah-kisah novel dengan tema : The Kindness of a Stranger (Claudine Salmon juga menduga adanya embellishment dari kisah cikal bakal marga Tjoa ini).

Alkisah ketika kapal junk milik Tjoa Kwie Soe tiba di Sedayu, ada perahu kecil yang mendekati junk dan para penumpangnya minta tempat persembunyian. Tjoa Kwie Soe menerima para penduduk lokal ini ke dalam kapalnya meskipun tidak tahu latar belakangnya dan membantu mereka untuk bersembunyi.

 

Peristiwa dibalik pelarian ini diawali dengan latar belakang jatuhnya kekuasaan di Surabaya ketangan Belanda di tahun 1743 (Mataram menyerahkan haknya atas seluruh kota pesisir utara Jawa ketangan VOC). Mataram sebelumnya telah menerapkan system dua regensi di Surabaya, Kasepuhan dan Kanoman.

 

Belanda mempertahankan system ini dan ketika tahun 1750 regen Kasepuhan wafat, regen Kanoman menyangka dia yang akan diangkat menjadi regen Kasepuhan untuk menggantikannya. Ternyata Belanda mengangkat regen lain dari Ambarawa bernama Setionegoro.

 

Tjoa Kwie Soe-2Regen Kanoman pun melakukan pemberontakan dan akhirnya harus melarikan keluarga mereka. Pelarian inilah yang kemudian ditolong oleh Tjoa Kwie Soe. Salah satu penumpang perahu itu terdapat seorang putri bernama Nyai Roro Kiendjeng, anak regen Pasuruan bernama Toemanggoeng Angga Djaja.

Ketika tahun 1758 Belanda berhasil mengembalikan ketertiban, Belanda mencalonkan dua orang regen baru untuk Surabaya, Raden Adipati Tjondro Negoro dan Toemanggoeng Djojodirono; keduanya adalah saudara laki-laki Nyai Roro Kiendjeng. Sebagai balas budi, keluarga regen yang baru menikahkan Nyai Roro Kiendjeng dengan Tjoa Kwie Soe.

 

Syaratnya saat wafat Nyai Roro Kiendjeng minta dimakamkan di pemakaman keluarganya. Makam Nyai Roro Kiendjeng ini masih dapat ditemukan di makam muslim Ampel yang direstorasi besar-besaran oleh keluarga Tjoa tahun 1930. (Pertanyaan pembaca sudah terjawab disini, mengapa foto makam muslim ampel dipasang di album orang Tionghoa di Surabaya)

Persahabatan yang berawal dari kebaikan hati orang tak dikenal dan keahlian wiraswasta yang diperoleh dari leluhur Tjoa Kwie Soe yang kaya raya di Fujian menjadi paduan pas yang kemudian menjadikan marga Tjoa sangat berpengaruh di Surabaya baik di lingkungan Pecinan maupun di bidang bisnis.

 

Berkat kedekatannya dengan keluarga regent, Kwie Soe mendapatkan kontrak-kontrak pajak perkebunan dan diakhir hidupnya (seperti juga Han Kik Ko mendirikan pabrik gula Kraton) mendirikan pabrik gula di Sidoarjo.

Dari dua anak Kwie Soe, hanya satu yang jelas riwayatnya; Tjoa Phik Kong (1768-1837). Phik Kong memiliki dua istri, istri keduanya wanita Jawa. Masing-masing istri melahirkan satu anak laki. Anak yang tertua (dari istri pertama), Khik Yong (1791-1863) mengembangkan bisnis keluarga mereka ke property. Dia membeli 15 buah rumah dan mengembangkan tanah untuk agrikultur.

 

Perkebunan Keputran Kidul jadi milik Khik Yong tahun 1848. Tahun 1852 dia beli Darmo estate (dari keluarga Liem yg juga kaya raya saat itu ~ SAN LIEM KONGSIE) yang saat itu merupakan perkebunan tebu lengkap dengan pabrik gula dan pabrik destilasi arak (kelak area ini dibeli oleh OJS untuk persiapan tram listriknya: baca di album tram listrik di STD).

 

Tjoa Khik Yong mewariskan kekayaan dan propertinya ke dua anaknya yang masih hidup, Tjoa Djien Hoo (1814-1790) dan Tjoa Djien Sing (1824-1909). Tjoa Djien Hoo hidup tenang tidak tertarik dalam pengembangan industry gula, sebaliknya dia lebih suka membaca literature China dan literature Jawa, sementara adiknya Djien Sing menjadi kapten Surabaya tahun 1874 hingga 1889.

Anak Djien Hoo yang tertua, Tjoa Sien Hie (1836-1904) sangat berhasil dalam industry gula. Dia memiliki pabrik-pabrik gula terbesar di Jawa Timur seperti Tamangsari (Sidoarjo) dan Pojejer (Mojokerto). Selain itu dia juga mengembangkan perkebunan tebu dan persawahan (beras) di Karah. Tjoa Sien Hie memiliki tiga belas anak laki dan sebelas anak perempuan.

 

Anak tertua Tjoa Tjwan Khing (1857-1932) mengembangkan perkebunan opium di Surabaya. Tahun 1889 dia beli lahan luas di Ngagel milik Rothenbuhler (nama ini muncul di tulisan marga Han, orang local menyebutnya Mbah Deler yg makamnya di Lapangan Golf Gunung Sari : info dari P-Dukut) dan menjualnya kembali 1917 ke pemerintah ketika daerah itu disiapkan jadi lahan industry.

 

Adiknya Tjoa Tjwan Lok menguasai perkebunan opium di Gresik. Pamannya berpangkat letnan Gresik. Kiprah Tjwan Lok melebar ke industry penerbitan dengan dibelinya surat kabar Bintang Soerabaia, Koran pertama bahasa melayu. Adik2nya yang lain masing2 memiliki pabrik gula di Jagi (Surabaya Selatan), pabrik gula Candi dan Porong dan lahan luas di Patemon (Petemon) dan Simo.

Kiprah mereka dalam industry gula dalam menghadapi resesi paska perang dunia pertama memaksa mereka beraliansi dengan Keluarga Han dan keluarga The di Surabaya, dan beberapa Keluarga lain dibidang rempah-rempah, kayu jati, hutan persil, karet, tembakau, seperti antara lain Keluarga Tan, Djie, Liem, Kwee, Oei (Oei Tiong Ham), Lie, Njoo….

Dari kisah Tjoa Kwie Soe, kita belajar tentang prasangka. Banyak kisah menceritakan hal sama ber-ulang2 tentang kebaikan hati orang yang tidak kita kenal dan dari etnis apapun. Seringkali kita tidak menduga siapa yang datang turun tangan memberikan bantuan pada saat kita jatuh.

 

Bahkan orang terbaik yang kita harapkan datang membantu kita ternyata tidak selalu ada dan siap ketika itu. Bayangkan jika prasangka buruk ada dibenak Tjoa Kwie Soe ketika kapalnya didekati perahu pelarian di Sedayu yang bersejarah itu.

Kita tidak pernah tahu bahwa teman kita yang saat ini kita bina baik-baik dan kariernya biasa-biasa saja, sepuluh tahun mendatang mendapatkan berkah luar biasa dalam bisnis atau bidang lainnya, persahabatan yang berlangsung lama tidak bisa digantikan siapapun. Rasa percaya tidak bisa tumbuh dalam waktu sekejab. Pada saat itu kesuksesan karier seorang sahabat akan akan mengangkat teman-temannya yang lain. (Go Hwie Khing; dari grup WA AMD)

2 Responses to The Kindness of a stranger: Marga Tjoa

  • Saya sedang menelusuri sejarah / silsilah kelurga saya dari fihak kakek The Ping Oen….

  • Benny Budidarmawan ( Cai Wan Liang). says:

    Bagus artikelnya .
    Saya xing Tjoa jg.
    Engkong asal usulnya dari Tuban,namanya Tjoa Tjeng Liat.
    Lalu pindah ke Solo 1937.
    Papa daya Tjoa Tjan Siong.
    Saya Cai Wan Liang.
    Bgmnakah caranya saya bisa mulai menelusuri jejak leluhur di atasnya engkong saya yg dahulunya berasal dari Tuban?
    Mohon petunjukjnya.
    Terima ksh sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita