logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Bapak tidak kasihan Ibu?

pasien bpjsMerawat pasien BPJS harus ‘pintar2’ mengatur efisiensi biaya dan tetap menjaga mutu pelayanan. Salah satu efisiensi adalah ‘length of stay (LOS)’ atau lamanya pasien dirawat di rumah sakit, semakin lama dirawat maka akan semakin besar biaya yang akan ditanggung rumah sakit.

 

Terkadang obat2an yang mahal bisa diberikan untuk pasien BPJS jika secara pengalaman ’empiris’ atau penelitian yang dapat dipercaya menunjukkan dapat membuat ‘LOS’ lebih pendek.

 

Masalah klasik pada pasien BPJS, adalah ingin pulang jika sudah 100% sehat seperti sebelum sakit. Sebabnya karena pasien BPJS merasa sudah dibayar pemerintah dan sebagian sudah dipotong gajinya / sudah bayar premi.

 

Perasaan sudah sehat ini mungkin bisa cepat tercapai jika pasiennya masih relatif muda dan penyakitnya hanya penyakit ringan seperti diare ringan, gastritis, demam tifoid biasa, demam berdarah biasa atau asma.

 

Tapi kalau penyakitnya kronis dan parah (misal kanker dan stroke) yang terbaring ber-tahun2 di rumah, lalu sejak ada BPJS dirawat dan makan harus dimasukkan lewat selang di hidung? kapan sembuhnya? Kapan bisa si pasien berdiri sendiri dan berjalan lagi. Sebulan? Dua bulan? Setahun? Bahkan ada pasien stroke begini tetap lumpuh sampai akhir hayatnya.

 

Pasien-pasien BPJS pun yang lebih suka berlama-lama dirawat, kebanyakan adalah pasien dengan pekerjaan informal, pekerjaan yang tidak ada target atau malah tidak bekerja. Pasien BPJS yang ‘sibuk’ dan punya banyak tanggung jawab biasanya tetap mau cepat-cepat pulang dan bekerja lagi.

 

Pasien yang secara klinis membaik, tidak perlu dirawat lagi tetapi tidak mau pulang dengan keluhan yang sepertinya di-berat2kan. Maka ada dilema, kalau pasien ‘dipaksa’ pulang dia bisa melapor kemana-mana dan terjadi kegaduhan, tetapi kalau tidak dipulangkan, maka kasihan pasien lain yang lebih parah terkadang tidak ada ruangan menginap gara-gara pasien-pasien yang ‘manja’ ini.

 

Untuk itu, ada beberapa cara memotivasi pasien yang ‘betah dirawat’ ini untuk mau pulang, antara lain:

1. Resiko tertular penyakit lain. Pasien harus diinformasikan bahwa rumah sakit banyak kuman yang kemungkinan berkembang biak dari pasien lain, dari petugas kesehatan ataupun pembesuk.

 

Jadi bila berlama-lama di rumah sakit, padahal tidak ada obat-obatan atau tindakan yang sangat penting yang harus diberikan, maka si pasien mungkin saja dapat terkena penyakit infeksi lain.

 

2. Rumah sakit bukan tempat istirahat yang baik. Pasien mungkin merasa nyaman di rumah sakit ada perawat yang menyapa 3 kali sehari, dokter 1 x sehari dan banyak pembesuk. Tetapi pasien perlu diingatkan di rumah sakit akan banyak mendengar teriakan kesakitan, suara muntah, suara batuk. Belum lagi tangisan dari keluarga yang meninggal dan suara-suara aneh lain. Jadi, untuk istirahat penyembuhan, sebaiknya di rumah saja.

 

3. Kasihan dengan yang menunggu. Pasien yang kronis, kerjanya tidak ada/tidak bertarget, sebagian besar ingin berlama-lama dirawat karena keluarga/suami/istri biasanya jadi perhatian saat menunggu. Namun pasien perlu diingatkan untuk balik memperhatikan keluarganya yang menunggu.

 

Para penunggu itu sebagian besar ingin cepat-cepat pulang dan tidak menunggu di rumah sakit lagi. Apalagi kalau ada bapak-bapak yang ‘manja’ tidak mau pulang dan tiap hari ada saja keluhan baru, maka saya selalu mengatakan pertanyaan sesuai judul diatas untuk menyadarkan si suami kalau istrinya sebenarnya menderita juga lama-lama tidur di rumah sakit.

 

Nah, bila pertanyaan kunci diatas ditanyakan, biasanya pasien yang sudah tahap penyembuhan tetapi malas pulang itupun mengalah, karena kalau ditanyakan, si keluarga biasanya mengaku terus terang sudah sangat jenuh menunggui si sakit dan ingin membawanya pulang.

 

Tetapi harus diyakinkan, kondisi gawat darurat yang membahayakan jiwa benar2 teratasi. Sebab, kalau pasien disuruh pulang dan sebelum seminggu (7×24 jam) sudah masuk rumah sakit lagi karena kasus yang sama, maka di episode keduanya, si pasien ini tidak dibayar BPJS lagi, namun masuk dalam tagihan BPJS kasus sebelumnya. (Posma Siiahaan; http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/bapak-tidak-kasihan-sama-ibu_561d091e319373710c8b4568)-FatchurR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita