(Rokok)-dan klaim sejarahnya

Merokok itu biasa, kita temui dimanapun. Yuk bersama republika.co.id kita intip klaim sejarahnya : Merokok bukan kebiasaan kita. Dikenalkan orang2 Belanda. Tembakau dari Amerika Selatan dan Hindia Barat. “Rokok dari bahasa Belanda ‘roken’ (mengisap asap tembakau)”

 

Kata Ketua Koalisi Rakyat Bersatu (KRB) Melawan Kebohongan Industri Rokok, Kartono Mohamad (24/4). Dia nilai penting pelurusan sejarah rokok dan tembakau di Indonesia. Agar masyarakat tidak mem-bangga2kan kebiasaan ini sebagai nilai luhur budaya Tanah Air. Tembakau diperkirakan, masuk ke Indonesia abad XVI dibawa bangsa Portugis dan Spanyol.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda memproduksi tanaman tembakau jadi tanaman komersial via sistem tanam paksa pada petani2 pribumi. “Sepanjang penjajahan Belaanda itu rokok ditanam di Indonesia dan hingga kini rokok diinovasi dengan berbagai rasa, termasuk keretek,” tuturnya.

Direktur Rumah Kajian dan Advokasi Kerakyatan (Raya) Indonesia Hery Chariansyah menambah, warisan budaya terlahir bukan dari candu dan kecanduan. Budaya tumbuh bersama komunitas yang menggali dari kearifan lokal berikut falsafahnya. “Karena itu, rokok keretek bukan warisan budaya kita. Dia tidak bisa disamakan dengan Candi Borobudur, angklung, dan tari kecak” kata Hery.

Atas alasan itu, alih2 memaksakan rokok keretek diakui warisan budaya. Rokok dan rokok keretek lebih baik disimpan di museum sebagai pelajaran sejarah tentang candu atau sistem tanam paksa. “Rokok keretek tidak bernilai yang patut dipertahankan, dilestarikan keberadaannya, atau diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

PBB (UNESCO) mendefinisikan warisan budaya bangsa bila berciri orisinal, unik, punya nilai yang diterima dunia. Selain itu, warisan budaya harus bernilai kemanusiaan menyeluruh dan menyejahterakan orang. Dari definisi itu, terlihat rokok keretek tidak masuk kualifikasi pengertian warisan budaya.

Hery menegaskan, menjadikan rokok keretek sebagai warisan budaya tidak menguntungkan bangsa, tapi member untung industri rokok. Hery menilai, agenda menjadikan rokok keretek warisan budaya itu agenda kepentingan bisnis industri rokok dengan sentimen kultural.

 

Perangkap kemiskinan
Wakabid Penelitian Lembaga Demografi FE dan Bisnis UI Abdillah Ahsan mengatakan, kebiasaan merokok itu perangkap kemiskinan. Jumlah uang yang dibelanjakan untuk kebutuhan pokok jadi turun. ” Itu tanpa terkena penyakit mengorbankan banyak hal” katanya dalam diskusi, di Jakarta.

Dia katakan, hal2 yang dikorbankan akibat kebiasaan merokok, antara lain, sektor pendidikan, kesehatan, dan gizi keluarga. Dengan uang yang dikeluarkan untuk beli rokok itu, tidak bisa dialokasikan kembali untuk sektor2 lain.

Pengeluaran untuk rokok dan susu pada rumah tangga termiskin setara dengan 13 kali dari pengeluaran untuk belian daging, 5x lebih besar dari pembelian susu dan telur, dan 2x lebih besar dari beli ikan dan sayuran. Ia ilustrasikan, jika perokok mengonsumsi satu bungkus/hari berharga Rp 10.000 per bungkus, pengeluaran ini setara Rp 36,5 juta/tahun.

 

“Uang itu bisa dipakai untuk biaya haji, biaya sekolah, uang muka pembelian rumah, renovasi rumah, bahkan untuk modal usaha.”    (antara, ed : Andri Saubani

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/04/25/o66jk611-salah-kaprah-rokok-dalam-klaim-sejarah)-FatchurR

One Response to (Rokok)-dan klaim sejarahnya

  • Harry Reksosanudra says:

    Merokok sdh jd hal buruk walau bisa berdampak luas sbg penghasilan buruhnya, jg pajak yg sukarela dibayar penikmatnya dlm bentuk cukai. Merokok psikologisnya memberi ketenangan, inilah yg dibayar mahal akibat cukai yg selamgit, bg penghasilan rata2 dingri ini, toh rakyat kecil yg berat beban hidupnya, msh tetap merokok, akibat beban psikis yg berat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita