logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Romo Sis sosok pendidik ideal

romo sis dempo malang”In Memoriam” Romo Sis, Sosok Pendidik Ideal. KOTA Malang kehilangan tokoh pendidik andal. Dia bukan hanya pengajar, bukan hanya guru atau kepala sekolah, tetapi juga seorang pembimbing dan pencerah jalan kehidupan bagi lingkungannya.sahabat yang sangat setia.

 

Karena itu, kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia pendidikan di Malang khususnya, dan Jatim umumnya. Setidaknya bagi lingkungan pendidikan Katolik, Ordo Karmel, dan SMU Katolik St Albertus yang lebih dikenal dengan sebutan “SMAK Dempo” (sekarang SMUK Dempo).

 

Itulah sekelumit kesan dan kenangan indah tentang Romo Emmanuel Siswanto OCarm, yang telah dipanggil Sang Khalik ke haribaan-Nya pada hari Sabtu (13/4) pukul 04.40, di RKZ Surabaya. Setelah dibawa ke Malang dan disemayamkan selama tiga hari di aula SMUK Dempo, jenazahnya dimakamkan hari Selasa seusai persembahan misa rekuiem yang dipimpin Uskup Malang Mgr HJ Pandoyoputro OCarm bersama sekian banyak pastor.

 

Selama tiga hari disemayamkan, jenazah Romo Sis selalu dikerumuni pengagumnya. Siraman syair-syair doa yang indah dan syahdu terus mengalun dari sanak keluarga dan handai taulan, serta para (mantan) anak didiknya. Dengan khusyuk mereka memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing, tanpa diusik dan mengusik, tanpa beban di atas niat yang suci dan ketulusan hati. Semuanya satu tujuan, satu hajat dan satu permohonan, agar Romo Sis mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

 

Pada hari pemakaman jenazah lebih terasa sebagai “reuni akbar” bagi keluarga besar SMUK Dempo. Baik bagi murid, mantan murid, maupun wali murid dan para kerabatnya. Setidaknya sekitar 10.000 pelayat memadati kompleks SMUK Dempo dan sekitarnya.

 

Mulai dari aula, tenda-tenda di lapangan olahraga, sampai ruangan kelas dan gang-gang serta serambi di bangunan sekolah itu. Juga halaman dan jalan-jalan umum di sekitarnya. Semuanya penuh sesak dengan manusia dan berbagai jenis kendaraan, mulai roda dua sampai sekitar 30 bus besar.

 

Aula tempat jenazah disemayamkan dan dipersembahkannya misa rekuiem, begitu semarak, tetapi sepi dan anggun. Begitu padat dijejali manusia, tetapi sepi dari perbincangan. Hening dan hening. Semuanya terhanyut dalam suasana sendu yang dipancarkan oleh berbagai karangan bunga duka cita yang memenuhi dinding dan sudut-sudut ruangan.

 

Juga terimbas wibawa almarhum yang merambat dari peti jenazah di depan altar suci itu! Alunan lagu-lagu yang dikumandangkan koor siswa-siswi sekolah ini semakin menghunjamkan rasa kesedihan dan kehilangan yang tak ternilai!

 

Iring-iringan kendaraan pengiring jenazah dari SMUK Dempo ke pemakaman Kristen Sukun pun cukup panjang, sekitar tujuh kilometer. Kemacetan tak terhindarkan sepanjang jalan yang dilewati. Masyarakat mengira ada pejabat tinggi atau jenderal yang meninggal.

 

Setelah mengetahui bahwa peti jenazah di mobil yang membawanya itu “hanya” seorang guru dan seorang kepala sekolah, mereka tampak setengah tak percaya.

 

Jarang pengiring jenazah sampai sebanyak itu. Apalagi terdapat beberapa mobil mewah di antara sekitar 30 bus besar. Dan di pemakaman Sukun pun ribuan pelayat sudah menunggu untuk memberikan penghormatan terakhir.

***

 

ROMO Sis memang berhasil melaksanakan profesinya sebagai pendidik secara cemerlang. Ia patut mendapat julukan sebagai “pendidik ideal”. Dia termasuk tipe manusia pendiam, tertib, keras, dan berdisiplin tinggi. Dia jarang tertawa lebar, paling hanya dengan senyum mengulum di sudut bibirnya. Tetapi, dia juga hangat, dan bersedia menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya.

 

Yang luar biasa, beliau bisa menghafal nama-nama muridnya, baik yang masih aktif belajar maupun yang sudah lama lulus. Juga hafal riwayat hidupnya, bahkan tahu siapa orangtuanya, apa pekerjaannya, berapa saudaranya, di mana rumahnya, dan sebagainya.

 

“Itulah anugerah istimewa dari Tuhan, dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama,” kata Mgr HJ Pandoyoputro dalam sambutannya.

 

Padahal, Romo Sis menjabat sebagai Kepala SMUK Dempo selama lebih dari 30 tahun (1967-1997). Dan menurut catatan Tata Usaha SMUK Dempo, selama itu sekolah ini meluluskan sekitar 12.000 siswanya. Beliau berkecimpung dalam dunia pendidikan lebih dari 32 tahun.

 

Sebelum di SMUK Dempo, beliau menjabat Kepala Sekolah SMAK Mater Dei Probolinggo (1963-1967). Juga menjadi bapak asrama di AMUK Dempo. Dan dalam masa “pensiun”, 1967-2001 masih dengan giat menjabat Ketua Yayasan Sancta Maria yang membawahi SMUK Dempo.

 

Bahkan setelah itu, 22 Januari 2002 sampai wafatnya pada tanggal 13 April 2002, beliau diminta come back dan secara resmi menjabat lagi sebagai Kepala SMUK Dempo. Menurut informasi, kepemimpinan Romo Sis dalam dunia pendidikan masih sangat dibutuhkan, meskipun usianya sudah di atas 72 tahun.

 

Kedisiplinan dan kehangatan yang menyatu dengan kasih sayang merupakan kunci sukses beliau sebagai pendidik. “Saya takut, tetapi juga kagum. Saya ingin selalu berada di dekatnya. Dan, keinginan ini terwujud jika saya dihukum Romo Sis, berdiri di kantor dekat beliau duduk,” ujar Romo Heribertus Heru Purwanto OCarm, yang kini menjabat Provinsial Ordo Karmel Indonesia, dalam sambutannya pada penutup misa rekuiem.

 

SMUK Dempo memang sudah lama dikenal luas. Dari sekolah ini telah dicetak ratusan kader bangsa yang berkualitas tinggi. Bahkan ribuan, yang kini tersebar bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

 

Sebut saja misalnya, Widjojo Nitisastro, Rudini, Rachmat Saleh, Ben Mboy, Romo Mangunwijoyo (alm), P Swantoro, Romo Heri (Provinsial Orde Karmel), M Iksan (mantan Rektor IKIP Malang), dan sebagainya. Entah berapa ribu orang yang telah berhasil meraih gelar sarjana, sekian banyak guru besar, dokter spesialis, insinyur, dan lain-lain.

 

Guru dan para (bekas) muridnya di bangku sekolah ini bukan hanya mempelajari ilmu untuk mengejar ijazah, tetapi lebih mendasar daripada itu. Mulai membangun basis untuk menguasai berbagai macam ilmu secara substansial agar bisa “menggelinding” secara tuntas.

 

Mereka sekaligus belajar memahami kehidupan manusia seutuhnya, menghilangkan sekat seribu satu perbedaan, menghapus berbagai kecemburuan dan memupuk kecintaan sejati. Dunia jadi saksi apakah para alumni SMUK Dempo tetap andal dan mampu mewujudkan cita-cita yang telah ditanamkan sebagai kultur sekolah itu. Romo Sis telah memberi teladan dan menyebar-luaskan…!

***

 

MENINGGALNYA Romo kelahiran 22/12/1929 itu mengejutkan banyak pihak. Bukan hanya di lingkungan sanak keluarga, tapi juga tiap orang yang mengenal beliau. Berita cepat tersebar via berbagai macam alat komunikasi canggih. Baik di dalam maupun ke luar negeri. Proses peristiwa ini terjadi begitu cepat.

 

Menjelang akhir Maret, Romo yang merupakan putra kedua dari keluarga PC Poespowardojo di Batu itu memang merasa kesehatannya terganggu. Ia pergi ke dokter, diberi obat dan disuruh beristirahat. Tetapi, sampai 2 April beliau belum masuk kantor.

 

Beberapa murid yang merasa kangen setelah selama liburan Paskah tidak berjumpa, 3 April menjenguk ke kediamannya. Mereka saling memberikan berbagai cerita ringan dan senda gurau. Tidak disangka bahwa sorenya Romo Sis harus dibawa masuk ke RS Panti Waluyo (RKZ) Malang karena sesak napas.

 

Keluarganya hanya mengira ia sakit ringan. Menurut adik iparnya, B Sudiro, saat di rumah sakit itu Romo Sis masih bisa diajak bercanda. Juga tanggal 4 April. Tetapi, pada Jumat (5/4), tiba-tiba ia muntah-muntah, lalu tidak sadarkan diri.

 

Sabtu pagi diberi suntikan oleh dokter, dengan harapan 12 jam kemudian sadar. Ternyata sampai hari Minggu belum juga sadar. Maka dokter yang merawatnya merekomendasikan Romo Sis dikirim ke RKZ Surabaya. Ini dilaksanakan pada hari Senin (8/4) dan masuk RKZ Surabaya sekitar pukul 13.00.

 

Proses perawatan dan pemeriksaan pun diintensifkan. Akhirnya diketahui bahwa terjadi penyumbatan pembuluh darah pada otak kecil. Beberapa bekas muridnya yang telah “menjadi orang” berinisiatif membawa Romo Sis ke rumah sakit di Singapura. Namun, keinginan ini tidak diberi rekomendasi oleh tim dokter yang merawatnya, karena kondisi pasien sudah cukup parah.

 

Muncullah ide baru, mereka akan mendatangkan dokter dari Singapura untuk melakukan operasi di Surabaya. Namun, sebelum keinginan itu terwujud, keburu Tuhan telah memanggil Romo yang semasa hidupnya “gila kerja” itu.

 

Semuanya pun pasrah, dengan dilandasi iman bahwa kehendak Yang Maha Kuasa adalah yang terbaik bagi setiap umatNya. Juga yang terjadi pada Romo pendidik ideal ini. Semuanya telah selesai. Selamat jalan Romo Sis! Semoga Tuhan memberi tempat yang mulia bagimu!

 

Bahkan, juga sekaligus sebagai pastor yang tekun membaca, belajar, dan berdoa, bapak yang bijaksana. (Budiono-A72;  sumber dari JA NOERTJAHYO; http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0304/04/jatim/236940.htm dan https://susyssn.wordpress.com/2009/03/05/romo-sis-sosok-pendidik-ideal/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita