logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Mengenal Goa Maria sendangsono Yogyakarta

goa maria sendangsono(kotayogyakarta.com)-Tanggal 28/5/18 Senior kita Edhi Gunawan (Oen) dalam perjalanan religinya dia sampaikan dalam WA nya : Day 2 of our pilgrimage, after visiting Taman Doa Maria Ratuning Katentreman Lan Karaharjan, Gantang; Goa Maria Sendangsono and Goa Maria Lawangsih we stay at Hotel Citradream Yogyakarta.

 

Saya ingin mencoba lebih mengenal salah satunya yaitu : Goa Maria Sendangsono, monggo :

Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk menyebut nama tempat. Sendangsono itu sumber air yang berada di bawah pohon Sono. Sendangsono gabungan kata, Sendang dan Sono. Sendang istilah Jawa =  sumber air. Sono nama pohon Angsana. Sendangsono itu sebutan mata air di bawah pohon Sono.

 

Sendangsono di pegunungan Menoreh di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kec-Kalibawang, Kab-Kulon Progo, DIY. Sendangsono berbatasan dengan Jateng kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan.
Sendangsono tempat ziarah momentum peristiwa lahirnya Gereja umat Katolik di sekitar Kalibawang. Proses terbentuknya berkaitan perkembangan umat katolik di Kalibawang yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya Sendangsono.
Sebelum jadi tempat ziarah berciri katolik, sumber air di bawah pohon Sono dikenal sebagai tempat keramat. Di tempat itu untuk semedi. Masyarakat yakin ada roh2 berdiam di tempat itu. Legendanya Bila roh2 terganggu, mereka akan mencelakai. Di pohon Sono itu berdiam ibu bernama Dewi Lantamsari dan anak tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu jadi penguasa daerah itu.
Dongeng kuna juga, sumber air Semagung digunakan sebagai tempat istirahat bikshu2 dalam perjalanan dari Borobudur ke Boro atau sebaliknya. Dulu Boro itu biaranya para bikshu meski kini tak ada bekasnya. Bila dilihat dari jaraknya, sumber Semagung ini di tengah2 antara Borobudur – Boro.
Pada 14/12/1904, sumber Semagung dipilih sebagai tempat membaptis. Ketika orang2 Semagung masuk katolik, sumber air Semagung digunakan membaptis mereka. Tempat keramat itu diubah fungsi. Sumber air Semagung tidak lagi diperlakukan sebagai tempat tinggal roh2 tapi untuk berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu jadi awal lahirnya umat Katolik yang berciri Jawa. Dan Sendangsono jadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan berkembang di sana.

 

Goa Maria Lourdes Sendangsono

Tanggal 14/12/1904, Sendangsono diberkati oleh Rama van Lith SJ. Sumber itu untuk membaptis 173 orang di Sendangsono. Menurut keyakinan katolik air yang sudah diberkati jadi air suci. Pada (1923), ketika berkarya di Boro, Rama JB. Prennthaler SJ menggagas, menjadikan Sendangsono tempat suci karena airnya sudah diberkati.

 

Beliau usul didirikan gua untuk bersemayam Bunda Maria yang tak bernoda. Bila Maria bertahta di Sendangsono, orang2 dapat berdoa padanya minta perlindungan. Gagasan ini disambut baik oleh penduduk sekitarnya.
Setelah sepakat, gagasan itu diwujudkan. Masyarakat bergotong royong cari batu, pasir dan batu kapur. Gua dibangun bergotong royong. Patung Bunda Maria seberat 300 kg didatangkan dari Swiss dan diturunkan di Sentolo Wates Kulon Progo. Dari Sentolo ke Sendangsono (30 km) dipikul ber-sama2.
Goa Maria Sendangsono diberkati tanggal 8/12/1929. Pemberkatan itu bertepatan perayaan 75 tahun peresmian dogma Maria yang dikandung tanpa noda. Pada saat pemberkatan Rama JB. Prennthaler SJ mengatakan pendirian goa Maria Sendangsono wujud syukur atas perlindungan Bunda Maria pada karya misi di Kalibawang.

 

Jadi Goa Maria Sendangsono itu monumen peringatan 25 tahun karya misi katolik di Kalibawang. Pada Peringatan 25 tahun karya misi katolik di Kalibawang ini, Paus Pius XI memberi penghargaan kepada Bapak Barnabas Sarikrama atas jasanya dalam mengembangkan misi katolik di Kalibawang.

 

Goa Maria ini didirikan untuk ucapan terima kasih atas karya Tuhan bagi umat Kalibawang. Dalam kotbahnya Rama JB. Prennthaler mengingatkan umat agar jangan cari mukjijat di Sendangsono. Bila berziarah ke Sendangsono, mengucap syukur pada Tuhan lewat Bunda Maria karena telah melimpahkan rahmat dan kemurahanNya ke manusia.

 

Dalam pemberkatan itu juga ada doa penyerahan yang didoakan oleh Rama FX. Satiman SJ: Ibu Maria yang murni di Kalibawang berkatilah dan lindungilah kami yang mengungsi ke hadapanmu.
Agar suasana religius di sekitar Kalibawang, Rama JB. Prennthaler SJ memberi lonceng 19 buah yang dibeli dari Nederland. Lonceng2 itu dibunyikan 3x pada jam 6 pagi, 12 siang dan 6 sore. Lonceng itu digunakan menandai dan mengajak orang katolik berdoa. Saat ini beberapa lonceng sudah hilang.
Tahun 1958 dibangun stasi (rumah2 kecil) 14 buah. Stasi itu diberi arca jalan salib. Stasi itu dibangun dari Gereja Promasan sampai Sendangsono (jaraknya 1 km). Pembangunan stasi itu untuk membantu peziarah merenungkan hidupnya sekaligus persiapan bertemu Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria.

 

Arsitektur Sendangsono

Pembangunan Sendangsono itu bertahap. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan agar layak sebagai tempat doa. Maka yang dihasilkan juga bertahap. Pembangunan tahap pertama adalah goa, lanjut stasi dan kapel di samping goa. Sejak 1958-1969, tidak ada data pembangunan dan keadaannya gersang.
Sejak 1969, Rama YB. Mangunwijaya Pr. terlibat perancangan pembangunan Sendangsono. Melalui tangan Rama YB. Mangunwijaya Sendangsono jadi tempat indah, asri, sejuk dan tenang untuk berdoa. Awalnya, Rama Mangunwijaya Pr tidak membuat kerangka dan arah (tidak ada grand design). Baru ketika Rama Mangun wafat (1996), bangunan2 itu ditafsirkan dan ditemukan filosofi2 tertentu.
Dengan memahami wastu citra Rama Mangunwijaya Pr, arsitektur Sendangsono dipahami lebih komplit. Secara garis besar, gaya pembangunan Sendangsono bermodel rumah Jawa. Dalam tradisi Jawa bangunan terdiri dari pelataran, rumah depan, tengah dan belakang. Masing2 bernilai dan fungsi sendiri2.
Mirip arsitektur gaya Jawa, arsitektur Sendangsono dibagi jadi 3 bagian : Jalan masuk, pelataran, dan daerah sakral. Bagian jalan masuk ditandai jalur jalan salib. Jalan salib ada dua jenis: panjang dan pendek. Jalan salib panjang terdiri dari 14 stasi yang ada di sepanjang jalur Gereja Promasan sampai Sendangsono. Sedangkan jalan salib pendek di kompleks Sendangsono bagian utara.

 

Jalan salib panjang dan pendek untuk membantu peziarah merenungkan diri dan mempersiapkan hati untuk berdoa. Secara filosofis, jalan salib menggambarkan perjalanan dan perjuangan hidup manusia dalam mencari dan mencapai kebahagiaan. Pada jalan salib pendek, stasi2 itu dihiasi ornamen bunga mawar. Ornamen itu menggambarkan perjuangan manusia tidak sia2 tapi bernilai sangat berharga.
Bagian pelataran, tempat untuk istirahat dan perjumpaan antar manusia. Bagian pelataran ditandai  bangunan2 rumah panggung. Bangunan2 juga tidak diberi warna khusus. Warna dominannya coklat, hitam dan polos (tak berwarna). Rumah2 panggung untuk istirahat, refreshing, diskusi dsb.

 

Pelataran disusun model trap trapesium dan bukan trap bergaris. Filosofinya, pelataran ini tempat dialog. Dialog yang benar adalah dialog yang tidak mendasarkan pada strata sosial. Setiap orang punya kedudukan sama. Maka, trap trapesium menunjang orang berdialog secara setara.
Bagian sakral itu bagian yang pokok dari arsitektur Sendangsono. Bagian ini terdiri dari dua yaitu pelataran dan bagian sentral. Pada bagian sakral, pelataran diberi warna merah dan warna putih. Warna merah menggambarkan keberanian dan tanda Roh Ilahi. Warna putih mencerminkan kesucian.

 

Idealnya, setiap orang yang masuk pelataran yang warna merah dan putih menyesuaikan diri dan membangun sikap hening, tenang dan mengarahkan hati pada Tuhan. Pada bagian sentral ada bangunan Goa Maria dan Kapel Tri Tunggal Mahakudus (Kapel Trinitas).

 

Bagian sentral ini ruang pertemuan antara manusia dengan Tuhannya melalui perantaraan Maria. Orang katolik menyakini Maria, Ibu Yesus sekaligus dapat jadi perantara syukur dan permohonan kepada Tuhan. Maria dihormati sebagai Ibu yang dapat menolong manusia yang ingin dekat Tuhan.
Meskipun dibangun dalam konteks budaya Jawa, bangunan2 Sendangsono mengaktualisasikan keyakinan iman kristiani. Bangunan2 itu antara lain:
*Kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus ini rumah joglo. Atapnya disusun jadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
*Kapel Para Rasul. Bangunan ini di utara goa. Ciri bangunan: tiang terdiri 3 pilar, atapnya disangga  kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran dengan model kolosium romawi. Tiang 3 pilar mencerminkan pokok iman kristiani akan Allah Tri Tunggal.

 

Kerangka penyangga mencerminkan eratnya hubungan antara Allah Tri Tunggal dengan para Rasul. Kehidupan para Rasul bergantung penyangganya yaitu Allah. Atap terdiri dari 12 sudut menggambarkan Rasul Yesus yang berjumlah 12 orang.
*Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Harapannya Maria jadi pelindung dan pengantara bagi segala bangsa untuk bertemu Tuhan.
*Salib Milenium. Salip Milenium dipasang tahun 2000 sebagai tanda mulainya milenium ke tiga.

 

Gaya bangunan Sendangsono dapat penghargaan dari Ikatan Arsitektur Indonesia. Penghargaan dikaitkan kemampuan Rama YB. Mangunwijaya Pr membangun dengan memperhatikan kelestarian lingkungan; ramah lingkungan. (Inspirasi dari Edhi Gunawam-P58; Bahan dari : http://kotayogyakarta.com/gua-maria-sendangsono/)-FatchurR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita