logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Pelajaran dari Anak yang meneyentuh hati

Sedekah(dokterasuransi.wordpress.com- Pelajaran Berharga; Ketika itu aku duduk di teras Gedung

di salah satu kompleks sekolah. Seorang nenek tua menawarkan dagangan, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tapi karena kasihan aku beli satu plastik.

 

Nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras tak jauh dariku. Kulihat banyak dagangannya. Rasa kue nya cukup enak. Sayapun tergerak. Untuk….beli lagi Buat oleh2 orang di rumah. Saya Beli lagi  dan saya keluarkan uang 50.000, saya Beli lagi Nek. (saya beli 10 plastik, kasih bonus 1 ya nek)

Nenek tersenyum dan ditambah 1 plastik lagi…. Jadi dapat 11 plastik.

 

Tak lama kulihat anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi nenek. Aku perkirakan bocah itu baru kelas satu atau dua. Dialognya dengan nenek jelas dari tempat aku duduk. “Berapa harganya Nek?”

“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.

 

Anak kecil itu mengeluarkan uang 50.000an dan berkata : “Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya, kan bisa dijual lagi.”

Nenek jelas sekali terlihat ber-binar2 matanya : “Ya Tuhan, terima kasih  banyak nak. Puji Tuhan…ya Tuhan kabulkan Doa saya untuk beli obat cucu yang lagi sakit.” Nenek langsung jalan.

 

Refleks aku panggil anak lelaki itu. “Siapa namamu ? Kelas berapa?”

“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.

“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?’”

 

” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”

“Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu ?”, tanyaku semakin tertarik.

 

“Betul Pak, agar tiap seminggu 1x saya sedekah 50.000. Sesudah itu saya berdoa agar Tuhan berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal”.

Aku pegang bahu anak itu : ” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?”

“Ketika saya masih TK kecil, pak”

 

Tak terasa air mataku menetes : “Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang seratus ribuan ke tangannya.

Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :

 

“Terima kasih banyak, Pak… Tapi …untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan. Tapi bapak punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.

Radit menyalami tanganku dan menciumnya. “Tuhan menyertaimu nak ..”, jawabku lirih.

 

Aku beranjak, tidak jauh dari situ kulihat nenek penjual kue berada di apotik. Bergegas aku ke sana, kulihat nenek akan bayar obat yang dibeli. Aku tanya pada kasir harga obatnya dan dijawab Rp 90.000.

Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya bayar… Kembaliannya berikan ke nenek ini”

“Ya Tuhan…. Pak…”

 

Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik,  dengan AIR MATA membasahi pipiku. “karena saya menyesal, Mau memberkati nenek, tapi pamrih… Minta bonus 1 “, sedang anak SD tadi, memberkati dengan tulus-ikhlas, bahkan kuenya  diberikan kembali pada nenek.

Hari ini saya, dapat Pelajaran Berharga, bagaimana memberi dengan tulus,  ikhlas.

 

Sahabat Alumni,

Ada kalanya seorang anak Lebih jujur; Lebih tulus; Lebih ikhlas dari pada orang dewasa, Kita harus ajarkan anak-anak kita sedari dini tindakan nyata yang bukan teori semata. Dan kita harus menjadi contoh.

 

Kadang, tanpa disadari, kita lebih sering menawar (habis2an) jika belanja di pasar. Sekalipun kepada pedagang sayur nenek nenek tua / orang2  kecil, tapi Sering kita makan di restaurant mewah tidak pernah menyesal membayar berapapun.

 

Tapi dengan orang miskin kita menekan mereka, untuk dapat beli dg harga yg murah. (Harry Rekso Samudro-A61; sumber dari https://dokterasuransi.wordpress.com/2017/06/26/cerita-yang-menyentuh-hati-nurani/)-FR

3 Responses to Pelajaran dari Anak yang meneyentuh hati

  • Sidharta says:

    Cerita yg menarik. Ungkapan cinta kasih yg tukus tanpa pamrih. Banyak “cinta kasih” yg diberikan, tp berharap mendptkan pahala/rahmat/berkat dll alias timbal balik, dijadikan ajang bisnis.

  • Fatkhur Rochman says:

    Kehidupan kini banyak yang menganut cara pamrih

  • Harry Reksosamudraser. says:

    Lha toko2 selalu berikan bonus, jika kita membeli yg hakekatnya identik dg rumus petani tanam bibit dulu, baru menuai hasil panen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita