Merasa Kaya, Merasa Miskin

nelayan tradisionalkompas.com; Merasa Kaya, Merasa Miskin, Kita menyebutnya kehidupan modern. Ukurannya adalah waktu. Karena waktu adalah uang. Dan uang adalah penanda kehidupan modern. Giddens bilang, runaway world, dunia yang berlari, dunia yang lepas kendali. Dunia serba cepat, serba instan, serba uang; serba material.

Tengoklah jalan2 utama kota saat orang berangkat kerja di pagi hari, atau pulang kerja di malam hari. Tengoklah ribuan wajah-wajah cemas yang takut terlambat sampai ke tempat kerja. Tengoklah mereka berpacu dan terjebak dengan kemacetan berjam-jam, hanya supaya bisa mendapatkan uang untuk melakukan pembayaran atas rumah, mobil dan gaya hidup yang sering mereka tak punya waktu untuk menikmatinya.

Itulah hidup di kota-kota besar kini…
Kita membeli mobil agar alat ini bisa membawa kita dengan cepat ke tempat kerja. Agar kita bisa menghemat waktu. Kita membeli mobil agar punya waktu lebih banyak untuk kerja yang menghabiskan waktu agar bisa membayar mobil yang kita beli dengan mengangsur…

Kita terjebak dengan kemacetan dan hanya bisa berpikir harus berangkat lebih awal lagi agar tak membuang waktu di jalanan.

Begitukah kita bekerja? Dengan kesadaran kita tidak punya waktu lagi untuk merasakan denyut kehidupan, karena sebagian besar waktu kita habis untuk bekerja…

Kerja, kerja, kerja… semboyan yang akhir2 ini digembar-gemborkan lagi itu kini terasa hampa, sebab kita sering lupa untuk apa sebenarnya kita kerja…

Semuanya, tampak wajar, Anda pakai baju yang dibeli untuk bekerja, meluncur menerobos kemacetan lalin dalam mobil yang sedang Anda angsur, untuk sampai pada pekerjaan yang dibutuhkan. Pekerjaan itu penting, dilakukan agar Anda mampu membayar baju, mobil dan rumah yang Anda tinggalkan kosong sehari penuh, supaya Anda dapat tinggal di dalamnya.

Selamat memasuki perangkap waktu. Inilah dia, momoknya: jika Anda memiliki uang, Anda tak memiliki waktu. Kalau Anda punya banyak waktu, Anda seringkali bersakit-sakit demi uang.

Mungkin kita belum kaya untuk menikmati hidup sesungguhnya. Tapi coba tengok rumah megah di berbagai kawasan elit kota. Anda tak akan menjumpai penghuni di dalamnya, mereka sedang sibuk bekerja. Mereka harus melakukan dengan baik agar bisa membayar semua tagihan.

Mereka harus meyakinkan diri mereka kalau anak buahnya melakukan semua pekerjaan dengan baik. Mereka harus yakin tak ada yang dicuri atau diselewengkan dari perusahaan milik mereka. Mereka harus memastikan pendapatan mereka tidak kurang untuk membayar utang dan bunganya. Ketika semua anak buah pulang, mereka juga sering tidak bisa langsung pulang ke rumah.

Mereka harus bertemu dengan penasihat keuangan mereka, memikirkan cara agar uang mereka tidak diam saja dan kehilangan nilainya. Uang juga harus bekerja dan memperbanyak dirinya sendiri. Begitu bunyi salah satu dalil untuk melanggengkan kekayaan seperti yang mereka percaya selama ini.

Mereka adalah orang yang harus datang paling pagi ke kantor dan pulang paling akhir dari tempat itu. Mereka adalah orang-orang baik yang harus memastikan bahwa semuanya berjalan lancar baru bisa tidur nyenyak.

Tidur nyenyak?

Ketika bujangan, mereka bertekad bekerja keras agar tak kekurangan uang bila mereka kawin. Bekerja keras membuat promosi jabatan berlangsung dari ke tahun. Beban ditambah, gaji bertambah. Sampai tiba-tiba mereka sudah berada di puncak. Rambut memutih. Kulit pucat karena hampir tak pernah kena sinar matahari—padahal kita hidup di khatulistiwa. Mobil mewah berderet di garasi. Di mana-mana ada apartemen dan kamar mewah yang hampir tak pernah ditiduri.

Inikah kehidupan sesungguhnya yang kita kejar?
Kita yang rajin berselancar di internet, mungkin suatu ketika pernah menjumpai kisah yang sangat populer berikut ini

Seorang miliarder sedang berada di sebuah desa nelayan yang tenang dan teduh ketika sebuah perahu merapat. Di dalam perahu tampak beberapa ekor ikan tuna. Si miliarder memuji hasil tangkapan si nelayan yang istimewa. ’’Berapa lama Anda melaut untuk mendapat tangkapan ikan sebagus ini?’’

’’Oh, hanya sebentar saja.’’
Si miliarder kemudian bertanya, kenapa dia tidak melaut lebih lama lagi dan menangkap ikan tuna lebih banyak lagi? Bukankah tidak ada rintangan apa-apa untuk mendapat tuna lebih banyak lagi?

Sang nelayan hanya mengatakan, hasil tangkapannya hari ini sudah cukup untuk memenuhi keluarganya yang mendesak. ’’Lantas, apa yang Anda lakukan dengan sisa waktu Anda selanjutnya?’’ tanya si miliarder.

’’Saya tidur larut malam, menangkap ikan sebentar, bermain dengan anak-anak saya, tidur siang dengan istri, jalan-jalan di desa setiap sore, minum anggur dan bermain gitar bersama teman-teman. Saya punya kehidupan yang sibuk dan penuh Tuan.’’

Si miliarder tersenyum dan berkata bangga, ’’Saya tahu sangat banyak tentang bisnis, karena itu mungkin bisa membantu Anda. Saya CEO dari jaringan perusahaan superbesar. Anda seharusnya mengikuti jejak saya. Anda pasti bisa.

 

Caranya, Anda harus menghabiskan lebih banyak waktu mencari ikan, dan dengan hasilnya membeli perahu yang lebih besar, dan dengan hasil perahu yang lebih besar itu, Anda bisa membeli beberapa buah perahu. Akhirnya, Anda mungkin mempunyai armada penangkap ikan.

 

Ketimbang menjual ikan Anda pada penadah, Anda bisa menjual langsung ke pengolah, dan akhirnya Anda akan memiliki pabrik pengalengan Anda sendiri. Anda mengontrol produknya, pemrosesannya, dan distribusinya. Anda akan bepergian kemana-mana. Anda akan berkelana ke seluruh dunia untuk menjual produk Anda. Rumah Anda pindah ke Jakarta, London, atau New York. Perusahaan Anda akan menggurita dari ujung ke ujung.’’

Sambil bengong si nelayan bertanya, ’’Tetapi, Tuan, dibutuhkan waktu berapa lama untuk semua itu?’’
’’Mungkin lima belas sampai dua puluh tahun.’’
’’Tetapi, setelah itu apa yang harus saya kerjakan Tuan?’’

Si miliarder berkata, ’’Lalu Anda akan bisa pensiun. Pindahlah ke sebuah desa nelayan kecil di mana Anda bisa tidur sampai larut malam, menangkap ikan sebentar, bermain dengan anak-anak Anda, tidur siang bersama istri Anda, berjalan-jalan seputar desa tiap sore, dan Anda bisa minum anggur bersama teman-teman . Anda bisa…’’

Si miliarder tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Dia berlari cepat ke Jaguar metalik yang sedang menunggunya. Ada rapat penting dengan anak-anak perusahaannya siang ini. Dia pusing, dia harus memarahi direktur-direkturnya yang tak mencapai target, mencari cara memecat tanpa pesangon mereka yang dinilainya tidak produktif, dan memikirkan cara merayu dan menyogok pejabat tambang agar memberinya izin usaha pertambangan…

Dia adalah CEO yang tidak pernah puas.
Dia juga dinobatkan sebagai CEO yang paling rajin bikin perusahaan tahun ini. Dia direktur perusahaan listrik, direktur perkebunan kelapa sawit, direktur kebun durian, direktur pabrik ikan asin, sampai direktur penggalangan dana korban bencana…

Cita-citanya banyak, enerjinya juga banyak. Sayang dunia begitu sempit, sehingga tak ada lagi tempat yang bisa dia dirikan perusahaan baru…
Berbahagiakah si miliarder kita ini?

Brian Dawson, orang yang bertanggungjawab terhadap rekrutmen tenaga-tenaga ahli Coca Cola, selalu menuturkan nasihat ini pada mereka yang akan bergabung dengan perusahaan multinasional itu.

Bayangkanlah hidup ini sebagai sebuah permainan tempat Anda melempar-lemparkan lima buah bola di udara. Namakan saja bola-bola itu — pekerjaan, keluarga, kesehatan, kawan, dan semangat. Dengan cepat Anda segera tahu bahwa pekerjaan adalah sebuah bola karet. Jika Anda menjatuhkannya, bola itu akan melenting lagi. Tetapi, keempat bola lainnya — keluarga, kesehatan, kawan, dan semangat — adalah bola kaca. Bila Anda menjatuhkan salah satunya, ia akan tergores dan tak bisa diperbaiki lagi.

Saya ingat, dulu, di ujung sebuah jalan , di Surabaya Barat, ada warung ayam dan bebek goreng Pak Qomar. Setiap hari, warungnya hanya buka pukul 12 siang dan tutup paling lambat pukul lima sore. Mereka yang mau bersantap harus rela antre, yang tak beruntung, kadang harus rela menunggu warungnya buka besok.

Mengapa Pak Qomar tak memperpanjang waktu buka warungnya, menambah ayam dan bebek gorengnya? Mengapa pula Pak Qomar selalu tutup tiap hari Jumat, hari-hari besar, dan sedikitnya dua hari dalam setiap bulan? Malaskah?

’’Istirahat itu penting. Menikmati hasil kerja kita itu perlu. Sebab, sesungguhnya kita memilki dua kehidupan — satu diberikan Tuhan kepada kita, dan satunya kita buat. Kita harus bisa menyeimbangkan keduanya. Tentu saja kalau kita ingin bahagia. Sebab, menurut saya, untuk itulah kita hidup,’’ kata Pak Qomar.

Mungkin karena itu, Pak Qomar selalu merasa sudah kaya. Sementara sang CEO selalu merasa masih miskin, meski dia dikenal sebagai tokoh yang kaya raya. *** (Yong Sidharta; Penulis : ubing haris; kompas.com)

 

Catatan / Komentar dari GHK :

Kalau tidak mawas diri dengan bekal kesadaran spirituil, orang atau masyarakat bisa terjebak memakan promosi yang menyelewengkan opini seseorang atau masyarakat. Sehingga opini ini jadi terbentuk seolah begitulah seharusnya yang baik dan benar.

 

Tumbuhlah keserakahan yang menimbulkan kerusakan kehidupan, mulai dari kerusakan keluarga dan kekeluargaan, hancurnya family tradition, sampai kerusakan lingkungan hidup yang mustinya segera disadari sebagai jalan bunuh diri masal.

 

Yang mengikuti arus dibilang modern, padahal soal apa yang dimakan dan cara makan dan bagaimana memakai tubuh dan pikiran saja semakin menyimpang dari bagaimana seharusnya kita jalani. Hasil kemoderenan malah berujung mengorbankan kesehatan tubuh mental spirituil diri, pasangan hidupnya dan anak cucunya. Mungkin juga merusak masyarakat lebih luas.

 

Happiness is guidance by knowledge and inspired by love, bagi yang iling lan waspodo. Semoga kita bisa. (Go Hwie Khing)

—————

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita