logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?(2/2)

Kesadaran Membuat Keputusan Yg Sama

perkawinan tidak bahagiaSaya duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya tanya pada suamiku, “Apa yang kau butuhkan?”

“Aku butuh untuk menemaniku, rumah kotor sedikit gak apa2.” ujar suamiku. 

 

Saya kira dia perlu rumah yg bersih, ada yang memasak, dst. *”Yang paling kuharapkan au bisa lebih sering menemaniku.”

Ternyata sia2 pekerjaan2 yang saya lakukan, hasilnya benar2 membuat saya terkejut. Kami teruskan menikmati kebutuhan masing2, dan baru saya sadari dia juga banyak melakukan pekerjaan sia2, kami memiliki cara masing2 mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.

 

Sejak itu, saya menderetkan daftar kebutuhan suami, dan letakkanya di atas meja. Begitu juga suamiku, dia menderetkan daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yg panjang dan jelas, misal: Waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk tiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dstnya.

 

Hal2 mudah dilaksanakan, tapi ada yg sulit, misal: dengarkan aku, jangan beri komentar. Ini  kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti org bodoh. Menurutku, ini benar2 masalah gengsi laki2. Saya meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia tanya, kalau tidak saya hanya mendengarkan serius..

 

Bagi saya ini benar2 jalan yg sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dlm pernikahan kami. Tanya pada pasangan kita, “Apa yang kau inginkan?” ternyata dapat menghidupkan pernikahan.

 

Kini, saya tahu perkawinan ayah-ibu tak bisa bahagia, Mereka bersikeras menggunakan cara sendiri mencintai pasangannya, bukan mencintai pasangannya dengan cara yang diinginkan pasangan kita. Kita mungkin lelah melayani pasangan kita, namun dia tidak menghargai. Akhirnya kita kecewa dan hancur.

 

Tiap orang layak punya perkawinan bahagia, asal caranya tepat, jadilah orang yang dibutuhkan pasangan kita Lebih baik terlambat menyadari, daripada tidak menyadari sampai akhir. (Rudy Harinugroho; dari grup WA-DDS; Bahan, Linlin; dari https://article.cerpen.co.id/post_140485.html)-FR *Tamat…….

One Response to Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?(2/2)

  • Harry Reksosamudra says:

    Sadarilah jk kedua kutub pria & wanita tdk akan pernah sinkron berada disatu kutub, oleh krnmnya perlu adanya saling toleransi, dg catatan pihak pria hrs lbh banyak berkorban. Lain halnya didunia barat yg mrk berbagi segala pekerjaan yg ada, kultur Timur bobot urusan rmh pd pihak wanita yq mmg sesuai dg tradisi yg sdh berlangsung ribuan tahun. Artinya bobot tanggung jawab dirumah diatas pundak ibu rumah tangga, pdhal banyak sekali bidangnya, terutama pendidikan anak2 yg lbh banyak menyita waktu serta resikonya.
    Setlh tahu kondisi demikian, sbg pria sdh selayaknya jk para suami bisa menyadari terbentuknya rmh tangga bahagia itu, pihak pria sbg imam dlm keluarga bisa melakukan fungsi sesuai kodratnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita