logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?(1/2)

perkawinan tidak bahagiaIbu saya adalah seorang yang baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah karena lambung ayah kurang baik. Setelah itu, masih harus memasak nasi untuk anak2 yg sdg dlm masa pertumbuhan.

 

Setiap sore, ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun. Jelang malam, dgn giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu. Ibu wanita rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yg baik. Tidak sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tdk memahaminya.

 

Ayah saya laki2 bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum2an keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya waktu mengantar kami ke sekolah. Ia seorang ayah penuh tanggung jawab, mendorong anak2 berprestasi dalam pelajaran.

 

Ayah, laki2 yg baik di mata anak2, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya, di mata ibu, ia bukan pasangan yg baik. Kerap kali saya lihat ibu menangis terisak diam2. Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah-ibu, dan betapa baiknya mereka. Harusnya mereka merupakan perkawinan yg baik.

 

Saya bertanya pada diri sendiri, “Dua orang yang baik mengapa tdk diiringi dgn perkawinan yg bahagia?”

Setelah dewasa, saya memasuki perkawinan dan perlahan saya tahu jawaban itu. Di awal perkawinan, saya sama spt ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah dgn sungguh2 berusaha memelihara perkawinan.

 

Anehnya, saya tidak bahagia dan suamiku sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dgn giat saya membersihkan rumah dan memasak dgn sepenuh hati. Tapi kami berdua tidak bahagia. Suatu hari, saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami berkata, “Temani aku sejenak dengar alunan musik”

 

Dengan mimik tidak senang saya berkata “Apa tidak lihat masih ada separoh lantai lagi yg belum dipel?”

Begitu kata2 ini terlontar, saya termenung, kata2 yang tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya mempertunjukkan kembali perkawinan ayah-ibu, sekaligus mengulang  ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada kesadaran muncul..

 

Saya hentikan pekerjaan, memandang suamiku, dan teringat ayah yg tidak dapat yang dia butuhkan di perkawinannya. Waktu ibu habis membersihkan rumah pdhal yg dibutuhkan ayah menemaninya. Terus menerus mengerjakan rumah tangga itu cara ibu mempertahankan perkawinan.

 

Ia beri ayah rumah bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya sendiri . (Rudy Harinugroho; dari grup WA-DDS; Bahan, Linlin; dari https://article.cerpen.co.id/post_140485.html)-FR *Bersambung…….

3 Responses to Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?(1/2)

  • Dan rJenny Rijanto says:

    Didlm perkawinan suami bkn saja sebagai kepala rmh tangga yang hanya mamberi kecukupan dng materi dan istri yang hanya sebagai koki dan petugas service cleaning aja tp komunikasi kebersamaan bersama keluarga juga saling terbuka menyelesaikan masalah2 pasti menjadi kel yang hangat dan bahagia

  • Harry Reksosamudra says:

    Falsafah Jawa menyatakan : Jika menikah serasa spt dulur, biasakan namanya dulur itu kadang tengkar ?
    Jng terbawa semasa sama2 msh jomblo yg mn segala serba bebas tanpa batasan akibat kebiasaan dimanja ortu. Jd kala sdh menikah terjadi perobahan drastis terutama dlm benak pikiran msg2 yg merasakan adanya beban yg drastis dirasakan, shg beban psikis dibawah sadar menyebabkan perasaan tertekan, tp tdk berdaya melepaskan diri yg setiap saat menekan dlm kehidupan ini.

  • YULI says:

    kok kawin sih bukannya menikah duluyah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita