Jadilah pemanis kehidupan

Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya pendahulu kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah juga jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya.

Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya. Kita tidak suka jadi korban. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang.

Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang tidak kita miliki lagi. Bagi kawan yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki paradigma hidup; saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1. Jadilah pemanis kehidupan.
Disekitar kita begitu banyak orang yang suka minum kopi. Tetapi, saya hampir tidak pernah mengenal orang yang minum kopi tanpa gula. Bahkan sekalipun kita menyebutnya ‘kopi pahit’, ternyata  menggunakan gula juga. Mengapa gula selalu ada dalam setiap cangkir kopi yang disajikan?

Karena gula membuat rasa pahit pada kopi terasa manis. Anda yang mengetahui rasa asli kopi tentu tahu jika sebenarnya kopi itu mirip arang. Karbon yang tersisa dari benda hangus. Makanya rasanya tidak enak. Tetapi, ketika kedalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula; kita menikmatinya dan menjadikannya sebagai minuman favorit.

Bayangkan jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita tidak lagi disiksa oleh rasa pahit itu. Boleh jadi, kita menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan rintangan. Kita bisa tersenyum ditengah terpaan cobaan. Dan kita masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.

2. Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti.
Dibawah tempat tidur saya ada banyak sekali semut. Setelah diperiksa, ternyata ada sisa gula dari kue kering yang dimakan anak-anak. Ternyata benar; ada gula, ada semut. Para semut tidak lagi memperdulikan lokasi dan situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong hadir.

Ini tidak hanya benar bagi para semut. Coba saja perhatikan orang yang memberi manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi para pengikut setianya. Para tokoh Agama dan orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan.

Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan. Kita? Sesekali orang lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh. Tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya ya? Mereka malah mengira seolah kita ini tidak ada.

Sekalipun kita sudah menyodorkan wajah kita. Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi tidak ditanggapi. Barangkali, karena kita belum bisa menjadi pribadi yang manis bagi mereka. Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis.

3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang.
Mari berhenti marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus mengevaluasi dan memperbaiki diri supaya tidak menjadi sepah.

Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. Saya mengenal seorang eksekutif senior yang mumpuni. Setelah memasuki masa pensiun dari jabatanya yang tinggi, saya pikir beliau akan menjadi seperti ‘tebu-tebu’ yang lainnya. Ternyata saya keliru.

Perusahaan memperpanjang masa kerjanya dengan system kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. Lanjut beliau ditarik oleh perusahaan lainnya. Bagi saya, beliau inilah salah satu living legend yang tidak pernah membiarkan dirinya ‘kehilangan rasa manis’. Meski usianya jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis.

Rasa manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.

4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan.
Sekarang, cobalah ambil sesendok gula terbaik yang anda miliki. Lalu suapkan sesendok gula itu kedalam mulut Anda, dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang pun bisa melahapnya terlalu banyak.

Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin.

Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan. Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah Anda.

Tahukah Anda apa yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya?. Rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri Anda sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.

5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah.
Sepah di kebun tebu saya jumlahnya tidak terlalu melimpah. Namun jika dibiarkan tetap saja menjadi sampah. Banyak pilihan memperlakukannya. Jika saya membuangnya ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menambah nutrisi pada pupuk kandang yang saya dapatkan. Jika saya buang ke kolam ikan, maka dia akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan.

Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah. Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah.

Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup.

Kita boleh berharap itu, karena Agama mengajarkan, setiap perbuatan baik atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan sepadan. Beruntung kita yang percaya, karena setidaknya kita memiliki harapan; bahwa kapanpun dan umur berapapun kita perlu mempersiapkan tempat pulang ke alam keabadian.

Tidak perlu merasa kecewa karena telah dihempaskan lingkungan yang Anda harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang dibutuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki.

Tetapi, bukan itu fokus perhatian kita. Cukuplah selalu memikirkan, caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.” (Tjahjo Rahardjo)-Aguk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita