ADA PELUANG MEMPERSULIT-1
”Jika bisa dipersulit mengapa dipermudah” Hayo siapa tidak kenal ungkapan paling populer ini ?, setidakya kalau mengimplementasikan cukup mengasyikkan, melihat orang lain dalam kesulitan akibat dari ulah kita. Simak bagaimana penerapannya secara positif bagi pengembangan diri.
Jika Anda pernah berurusan dengan birokrasi swasta dan pemerintah, Anda pasti tidak asing dengan ungkapan ini. Itulah ungkapan yang menggambarkan buruknya sikap mental para birokrat yang seharusnya punya kredo melayani publik, namun sebaliknya justru mereka yang akhirnya harus dilayani publik.
Tak heran jika kita mengurus perizinan atau proses tertentu, maka dengan segala kelihaiannya para birokrat itu akan mempersulitnya. Akibatnya urusan jadi bertele-tele dan benar-benar menyita waktu.
Jika takluk, maka kita harus merelakan sejumlah uang untuk mempercepat urusan itu. Kebiasaan ini melestarikan mental korupsi di masyarakat. Jadi, ungkapan kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah benar-benar menjadi penyakit mental yang luar biasa mengesalkan dan merugikan.
Kalau demikian adanya, bagaimana mungkin ungkapan tentang penyakit mental itu bisa diaplikasikan secara positif ? Bukankah jika semakin banyak orang melakukannya, maka akan semakin runyam pula situasi yang kita hadapi ?
Marilah membayangkan, misalnya Anda mudah sekali kehilangan kepercayaan diri. Akibatnya, segala hal yang Anda lakukan jadi buruk hasilnya. Seandainya ada formula yang membuat Anda bisa ‘mempersulit’ munculnya rasa kurang percaya diri itu, kira-kira akankah pekerjaan yang Anda lakukan bisa memberi hasil lebih baik ?
Kemungkinan besar kinerja Anda akan lebih bagus hasilnya jika Anda bisa melakukannya dengan penuh percaya diri. Jadi titik perhatiannya adalah mempersulit munculnya rasa kurang percaya diri.
Cukup sederhana itulah prinsipnya. Persulit munculnya kebiasaan negatif. Dengan strategi itu, kemungkinan Anda bisa lebih matang dan efektif. Kebiasaan negatif apa saja yang harus dipersulit atau tidak boleh dipermudah kemunculannya ? Ikuti terus lanjutannya pada artikel Bermanfaatkah Negative Thinking-2? (FatchurR; dari berbagai sumber)






Jl. kedungsari 117-119 Surabaya
Telp. (62-31) 5312215-5353183-4
Fax. (62-31) 5312636
Buletin Media Alumni bag. 1, 


Sedikit menyimpang . Waktu saya ngurus SHM rumah saya di BPN setempat , saya mendengar langsung keluhan seorang nenek2 yang jalannya sudah ter-tatih2. Hari tu dia diminta untuk datang kepada seorang pejabat di BPN untuk melanjutkan sertifikasi rumahnya. Eh ……… ternyata si Pejabat ingkar janji, dia tidak ditempat. Akhirnya si Nenek pulang kembali kerumahnya yang berjarak kurang lebih 15 km dari BPN itu dengan naik angkutan kota yang harus pindah angkutan 3 kali dalam hari yang panas itu. Dan …….. si Nenek mengatakan bahwa kasus seperti itu sudah sering dialami dalam mengurus sertifikat yang sudah 2 tahun tidak selesai2 itu.
Dan saya yakin si Pejabat tidak merasa bersalah , tidak merasa berdosa, tidak merasa telah menyiksa si Nenek yang sudah rentah itu. Tanpa nurani setelah itu mati ? Hahahaha ……. tentunya si Pejabat akan masuk Surga ! Tapi …… ada tapinya lho ! Setelah dia mengalami penyiksaan sepanjang masa di api neraka !
Ma kasih Oom reportase pengalamannya. Dapat dipakai contoh bagi yang berminat ?