logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical
Komentar baru

SERBA SERBI KARTU KREDIT

Jangan pernah tergiur cicilan 0%, lebih murah bayar dengan kartu kredit dari pada bayar tunai. Pihak Bank tak pernah rugi dengan program semacam ini, mereka tetap meraup untung. Tewasnya Irzen Octa (56) di tangan debt collector rekanan CB membuat citra Bank menjadi tercoreng di mata nasabah.

Meski ketiga pelaku sudah dijadikan tersangka namun itu tak cukup memperbaiki citra Bank yang sudah terlanjur tercoreng. Apalagi terbunuhnya nasabah kartu kredit itu terjadi di ruang negosiasi Bank yang bersangkutan.

Awalnya niat Irzen datang ke kantor Bank itu untuk menyelesaikan hutang kartu kreditnya. Tindakan Irzen sudah benar karena dia berniat menyelesaikan hutangnya, langsung berhadapan dengan pihak Bank. Namun apa mau dikata, niat baik Irzen itu justru membawa maut baginya.

Peristiwa terbunuhnya Irzen pun membuat nasabah kartu kredit lain ketar ketir. Terutama nasabah yang bermasalah dengan kartu kreditnya. Mereka tentu khawatir andai diminta mendatangi kantor Bank penerbit kartu kredit untuk menyelesaikan hutangnya akan mengalami nasib yang sama seperti Irzen. Hal ini tentu menjadi preseden yang buruk bagi pihak Bank.

Namun sesungguhnya tak semua berakhir seperti itu. Ini saya alami sendiri sebagai nasabah kartu kredit yang cukup punya masalah. Kebetulan saya punya beberapa kartu kredit yang semuanya bermasalah alias macet. Para debt collector sudah hilir mudik bertamu ke kantor dan rumah saya.

Mulai dari yang berwajah sangar, atau yang berwajah ramah tamah. Mereka tak datang sendiri, kadang mereka ber-2, bahkan pernah ber-3 dan ber-4. Waktu itu betapa takutnya saya pada mereka. Bentuk-bentuk intimidasi sudah tentu ada tapi tak sampai kelewat batas.

Namun lambat laun entah karena terlalu sering para debt collector itu mengunjungi saya, rasa takut dan cemas itu pun sirna. Apalagi beberapa teman saya pernah berkata, “Jangan khawatir dengan para debt collector, mereka bakal tak membunuh”.

Akhirnya, saya pun bisa melakukan negosiasi pada para debt collector. Beberapa di antara kartu kredit itu sudah beres dan dinyatakan lunas dengan sistem pembayaran yang cukup ringan. Namun beberapa kartu kredit lainnya masih belum ada kata sepakat.

Saya pernah mendatangi kantor penerbit kartu kredit, diantaranya X Finance dan CB. Syukurnya, saya tak mendapat masalah seperti Irzen. Saat mendatangi kantor pusat X Finance di Gedung Y  Sudirman Jakarta, saya disambut dengan ramah oleh bagian debt collection Bank tersebut.

Kami berbincang penuh kehangatan, dan saya pun mengutarakan kesulitan keuangan yang saya alami hingga menyebabkan macetnya pembayaran kartu kredit saya tersebut. Setelah mendengar itu, bagian debt collection memberi saya surat permohonan keringanan. Saya pun diharuskan membayar setengah dari total tagihan saya tanpa bunga.

Demikian pula saat mendatangi kantor CB di Pondok Indah. Saya tak menemukan banyak masalah. Saya diterima dengan ramah oleh bagian collection. Pertemuan dilakukan dalam ruang khusus. Saya diberi keringanan pembayaran oleh CB dengan cicilan.

Meski akhirnya cicilan keringanan ini tetap bermasalah, saya masih bisa nego dengan pihak Bank melalui telepon. Satu kartu beres dengan pembayaran yang sangat ringan, sedang satu kartu lagi masih dalam tahap cicilan ringan.

Saat membaca berita tewasnya Irzen saya kaget juga, kok bisa sampai separah itu. Ini kesalahan oknum debt collector yang tak mematuhi rambu yang ditetapkan pihak Bank. Sialnya, pihak Bank pun harus ikut bertanggung jawab karena kematian Irzen terjadi dalam kantor Bank bersangkutan.

Berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan pada nasabah kartu kredit, terutama bagi mereka yang sudah masuk kategori macet.

Pertama, yang namanya tagihan kartu kredit tetaplah hutang yang harus Anda bayar, dan itu wajib dibayar. Anda tak bisa lari dari hutang. Saya sempat lari dari hutang, namun itu bukan jalan yang terbaik. Bukan saja kondite Anda yang jadi jelek, nama Anda pun masuk blacklist BI.

Kalau sudah di-blacklist jangan harap Anda bisa dapat pinjaman dari Bank, tak bisa kredit rumah, atau kendaraan bermotor. Yang lebih tak enak kalau diteror lewat telepon, lewat debt collector, surat, dan sebagainya.

Saya pernah mengalami hal demikian. Bayangkan, dalam sehari saya bisa dapat puluhan telepon dari berbagai Bank. Meski tak sampai dibunuh tapi buat malu teman sekantor, tetangga, keluarga, dan tak bisa tidur nyenyak. Soalnya, para debt collector itu juga datang malam hari.

Kedua, yakinlah, hutang kartu kredit itu secara hukum masih masuk ranah hukum perdata, jadi Anda tak perlu khawatir dijebloskan ke penjara gara-gara tak mampu / gagal bayar kartu kredit, kecuali kalau Anda memang niat tak bayar dan melarikan diri, bisa dipidana.

Bank tak akan sembarangan menggugat Anda ke pengadilan gara-gara hutang kartu kredit Anda yang tak sampai sepuluh juta. Kalau masuk pengadilan / hukum, pihak Bank akan lebih banyak mengeluarkan uang, buat bayar pengacara, waktu, tenaga, dan sebagainya.

Bahkan untuk mendapatkan kepastian hukum yang tetap, Bank harus menunggu sampai tujuh tahun. Itu pun Bank belum tentu menang. Pengadilan biasanya lebih berpihak pada nasabah, yang penting Anda masih punya niat untuk bayar.

Ketiga, Kalau masih khawatir digugat Bank, atau tak mampu menghadapi teror, sewalah pengacara terdaftar. Mereka ini banyak mengiklankan diri di koran. Biarkan mereka menghadapi debt collector itu, karena secara hukum segala urusan yang menyangkut tagihan kartu kredit dan negosiasi dengan Bank sudah Anda serahkan pada pengacara Anda.

Biasanya mereka dibayar ± 10% dari tagihan kartu. Syukur kalau pengacara itu teman Anda. Paling tidak, secara perdata Anda sudah benar dan berada di jalur hukum. Jadi, pihak Bank dan debt collector tak bisa sewenang-wenang terhadap Anda.

Biasanya pihak Bank-debt collector akan sebel pada Anda karena mereka harus berhadapan dengan kuasa hukum, bukan pada Anda. Dan ini makin merepotkan mereka. Akhirnya, Anda akan dibujuk melakukan negosiasi. Sehingga Andalah yang memegang kartu truf. Tapi tak selamanya cara ini ampuh, namun secara hukum Anda sudah terlindungi dan terhindar dari kesewenangan.

Keempat, cermatlah memakai kartu kredit. Belanja barang sekunder demi gaya hidup bukan cara tepat kalau menggunakan kartu kredit. Jangan pernah tergiur dengan iming-iming “Cicilan 0% atau “Lebih murah dengan kartu kredit daripada bayar tunai”.

Pihak Bank tak pernah rugi, mereka tetap meraup untung dari program ini. Niatkan Anda menabung kalau ingin beli sesuatu. Anda harus bayangkan andai suatu saat karena sesuatu hal Anda tak mampu bayar cicilan kartu lagi. Punya kartu kredit penuh risiko kalau tak digunakan secara bijak.

Disarankan, lebih aman tak punya kartu kredit sama sekali. Hidup lebih tenang dan damai. Sungguh tak enak punya hutang apalagi kalau tak mampu bayar. Semua itu sudah saya alami dan itu sebagai pembelajaran buat hidup. (Andre Wahjudibroto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita