logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Aku bukan underdog

Lemah, bodoh, underdog, hampir tiap hari teman2 memanggilku seperti itu di sekolah. Dari 2007 sampai hampir lulus diawal tahun 2010, di SMAK Mater Dei Probolinggo. Menjadi bahan gunjingan guru-guru dan tertawaan teman-teman sekolah sudah biasa menjadi konsumsi setiap saat dan sepanjang tahun.

 

Nyatanya memang begitu, hampir seluruh pelajaran di sekolah pasti dapat nilai buruk bila tak mencontek. Beberapa pengajar yang tidak tahan akhirnya mendekati saya dan berkata “Kalau gini terus kamu nggak akan bisa maju”, saat itu saya masih belum sadar dan acuh dengan pernyataan tersebut.

 

Kemudian pada suatu hari ditengah-tengah kebingungan, saya tersentak saat berada di ruang pelajaran seni lukis Bapak Heri. Beliau memberi nilai 90 pada hasil lukisan saya. Sebelumnya saya akan bercerita sedikit. Di jaman saya beberapa anak memiliki bakat ke arah “seni” ketimbang disiplin lain.

 

Di kelas Pak Heri tidak mudah mendapat nilai 80, 85, 90, bahkan 95. Saya tergolong beruntung mendapat nilai tadi diantara teman-teman yang jauh lebih berbakat. Saya sangat ingat ketika beliau berkata kepada saya “Saya suka dengan penambahan pola-pola itu di lukisanmu, bagus!”. Mendadak semuanya menjadi lebih jelas, “aku harus menjadi seniman”.

 

Tidak menunggu lama-lama akhirnya saya putuskan untuk berlatih melukis dengan Pak Heri di rumahnya. Minggu pertama hingga minggu ketiga saya lewati dengan semangat yang membara, namun kemudian masalah muncul. Di rumah, orang tua saya memiliki basic yang berbeda dengan orang sosial/IPS seperti saya.

 

Bapak seorang penulis dan scientist biologi, ibu seorang pebisnis yang tidak mengenal seni, tentunya mereka terganggu dengan aktifitas yang saya lakukan dengan Pak Heri. Akhirnya saya berhenti belajar seni lukis di rumah Pak Heri karena orang tua saya yang tidak menyukai hal tersebut, itu yang akhirnya membuat pak Heri kecewa kepada saya.

 

Hal tersebut bukan jadi soal karena ada yang lebih mengkawatirkan. Orang tua saya marah besar ketika mendengar anaknya ingin kuliah di kampus seni. Mereka tidak pernah mendidik anaknya untuk menjadi seorang seniman, mengapa anaknya justru menuju arah yang ditentang?.

 

Setelah dinyatakan lulus SMA, setiap hari saya mencari cara untuk membujuk mereka berdua agar memperbolehkan anaknya ini mendaftar di kampus seni. Ribuan rayuan keluar begitu saja demi keinginan yang mendalam. Saya selalu meyakinkan mereka terhadap masa depan yang jelas dari seorang seniman.

 

Iming2 soal kesuksesan, finansial yang tercukupi, hingga ketenaran yang jadi kebanggaan. Merekapun luluh dengan keinginan yang kuat dari saya. Sebelum keberangkatan saya ke Yogya, bapak bilang “Di kampus seni bukan berarti berisi calon seniman2 hebat, banyak para pecundang disana, para manusia yang lari dari kenyataan hidup dan berpura-pura memiliki bakat”, setelah mendengar itu saya hanya berucap “Tenang pak, saya bukan pecundang itu!”.

 

Di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta hanya saya yang tidak diterima dari teman-teman satu SMA, kami bertiga mendaftar jurusan Desain Komunikasi Visual waktu itu. Sangat terpukul sekaligus menyadari bahwa kegagalan tes dikarenakan saya belum banyak berlatih dengan maksimal. Saya tetap ambisius, mencari kampus seni yang lain.

 

Selang seminggu saya segera mendaftar di ISI Surakarta/Solo malam hari, untunglah masih bisa mendaftar karena ternyata esok harinya pendaftaran sudah ditutup. Tibalah tes masuk perguruan tinggi seni untuk kedua kalinya, dengan segala persiapan saya berharap kali ini lolos. Saya pulang ke Jawa Timur lagi setelah tes ujian masuk.

 

Alhasil setelah beberapa minggu menunggu pengumuman, saya dinyatakan diterima di jurusan TV dan Film. Sejak saat itu saya bersumpah tak mau kalah dengan teman-teman yang sudah diterima di Yogyakarta. Saya harus lebih hebat dari mereka. Saya berjuang seperti api yang tak kunjung padam untuk membalas kegagalan-kegagalan yang lalu.

 

Semester demi semester telah saya lalui dengan sangat memuaskan. Saya mendapat banyak project yang menarik, berkeliling dibanyak tempat di Indonesia maupun luar negeri, dan diakhir kelulusan saya mendapat predikat Cumlaude dari Institusi tempat saya belajar.

 

Saya berterimakasih kepada semua pihak yang membantu proses perubahan diri, dari yang lemah hingga menjadi seorang sineas yang bisa dibanggakan. Sangat menyenangkan bila telah menemukan passion yang sesuai dengan ambisi kita. Di bawah ini saya sertakan cover dari film-film saya yang telah menembus pasar nasional maupun internasional.

 

Bagi saya ini baru awal dari sebuah pencapaian, dan buat kalian yang masih belum semangat, teriakkan dalam hati “Aku Bukan Underdog!”.

 

Profil Singkat Alumni: Sito Fossy Biosa, biasa dipanggil Osa adalah alumni SMAK Mater Dei angkatan 2007. Lahir di Probolinggo, 31 Juli 1991. Cowok yang kerap diremehkan semasa sekolah ini telah membuktikan bahwa pendidikan semasa di Mater Dei telah mengarahkan dirinya untuk menggapai masa depannya, terkhusus perjumpaan dengan Pak Heri (Guru Seni SMAK MADe).

 

Kini ia menjadi sineas (Film Director)  yang sudah melahirkan banyak karya, di antaranya: Ilusi, Celengan Gawe Bapak, Paradugma Sampah, Saronen Sarompet, yang digarap bersama rekan-rekannya. Ia juga tak segan untuk berbagi ilmu perfilmannya melalui berbagai seminar. Untuk mengenal lebih jauh tentang dirinya bisa menghubungi melalui fb: Sito Fossy Biosa. (Diteruskan oleh Fr Bryan Agung; )

One Response to Aku bukan underdog

  • GoHwieKhing King Gaudi says:

    Saya mengagumi seseorang yang karirnya jarang dilajani orang lain. Dan saya selalu berusaha mengenalnya, seperti mengejar barang koleksi saja.

    Sekarang saya boleh bangga punya adik kelas meski pantas jadi anak saya. Apalagi karir yang dijalaninya adalah karir kakak sulung saya dulu. Sempat membuat 3 film jaman hitam putih awal tahun 1960 an. Dari kakak saya ini saya banyak belajar memotret. Sayang hidupnya yang lebih kearah seniman dan entah pengaruh apa lainnya, dia lebih suka berganta ganti kegemaran seninya.
    Saya harap saudara BRYAN ini bisa berkarir dengan mantap meniti tangga kesuksesan dengan tanpa lupa berbekal Leadership untuk memimpin diri kemudian memimpin orang lain. Kecerdasan Finansiil untuk mengelola pencapaian tujuan meski tanpa modal uang apalagi saat punya uang. Dan Kesadaran Spiritual untuk tau batas kemempuan dan tidak berantakan dikala sukses dan hancur dikala suram. Hidup ada masa pasang surutnya.

    Semoga bermanfaat, maju terus mencapai yang bias Anda gapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita