logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Silat memeluk semua pecintanya-dan Mengubah hidupku(2/2)

wewey wita asian games 2018(tirto.id)- Aku tak peduli. Buatku, berlenggak-lenggok itu tak nyaman. Kurasa bakatku OR. Semua guru olahraga mengenalku. Dalam berbagai kejuaraan OR antar sekolah, namaku selalu muncul dan mereka banggakan. Lalu, terjadilah sesuatu yang mengubah hidupku.
Dalam pesta perpisahan kakak kelas, seorang guru mendatangiku. Dengan enteng dia bilang: “Wewey, Bapak udah daftarin kamu, ya. Uang pendaftaran sudah masuk. Dua hari lagi pertandingan.”
Aku terbelalak. “Tanding apa, Pak?” kataku.
“Silat.”

Aku bingung, tapi kalau harus mengembalikan uang pendaftaran, aku tak tahu cari ke mana. Tapi aku menurut. Hanya 2 hari belajar. Yang ajaib, guru itu mengajariku etiket masuk gelanggang, salam kepada wasit, dan hal2 sepele lain. Tak ada teknik pertarungan. Dan, kejuaraan pertamaku itu, meski kelas 4 SD, berat badanku melewati ambang batas yang ditentukan. Maka, aku diturunkan melawan anak2 SMP.

Takut? Jelas. Musuhku atlet2 pencak yang punya jam terbang, lha aku cuma berlatih memberi salam selama dua hari. Aku menang dengan skor 3-2 di pertandingan pertamaku berkat teknik tendangan karate. Tendang, tendang, dan tendang. Aku gagal jadi juara umum, namun saat juara terbaik diumumkan, namaku disebutkan. Sejak itulah aku diminta guru2 menggeluti pencak silat secara serius.

Popwilnas. Popda. Popnas. Satu demi satu kejuaraan berjenjang untuk pelajar itu kuikuti. Seperti aku jelaskan di awal, hidupku penuh paradoks. Dan itu terjadi lagi di kejuaraan senior pertamaku, saat membela Kabupaten Ciamis di ajang Porda.

Dalam kompetisi, lazimnya kasus pencurian umur terjadi saat si atlet mengurangi umur jagar tak melebihi batasan. Aku malah sebaliknya. Waktu itu, atlet Porda harus berusia 17-35 tahun, aku baru 14 tahun. “Kalau kamu siap, gampang, semua bisa diurus” kata pelatih.

Saat itu, aku tak paham dan peduli apakah yang kulakukan benar. Yang kuinginkan ikut kejuaraan dan berprestasi. Lagi pula, kita sama2 tahu, sulap-menyulap bukan hal yang aneh di negara ini. Aku memenangkan emas. Kabar soal pencurian umur pun bocor dan jadi perbincangan. Orang2 sepertinya bangga sebab seorang atlet usia dini mampu mengalahkan atlet2 lebih senior.

Emas Porda itu berarti berbonus Rp10 juta untukku, tapi yang kuterima Rp7,5 juta—kukira aku tak perlu menjelaskan bagaimana bisa terjadi. Aku tak mempermasalahkan hakku, lagi pula Rp7,5 juta bagi anak SMP sepertiku saat itu sudah amat besar. Dari titik itu karierku atlet pencak silat melejit. Aku bergabung dengan PPLP di Bandung.

Selain Papa-Mama, aku beruntung memiliki kakek-nenek yang berjasa ketika aku meniti karier di Bandung. Meski sulit, mereka memaksaku menerima uang pemberian mereka, yang aku tahu didapat dengan susah payah. Saat di Bandung, aku kadang tak bisa makan lahap. Apakah keluarga di Ciamis sudah makan atau belum? Aku telah meninggalkan keluargaku dalam situasi sulit.

Pilihan pelik merantau ke Bandung harus kuambil. Hanya dari sana aku berharap membantu Mama-Papa, dan 5 adikku menyambung hidup dengan uang saku dan bonus kemenanganku di kejuaraan2.

Jika boleh jujur, aku sudah letih. 15 tahun aku bertarung, bertarung, bertarung. Aku sadar jadi atlet bukan jaminan pasti untuk masa depan—ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang. Namun, di sisi lain, kerja belum selesai, belum apa2. Aku akan berhenti jika sudah berprestasi terbaik bagi bangsaku, negaraku: Indonesia. Dan kini berhasil………

 

(Jenny Rijanto; Bahan dari : Wewey Wita; https://tirto.id/pencak-silat-memeluk-semua-yang-mencintainya-cVH1)-FR * Tamat……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita