logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Silat memeluk semua pecintanya-dan hidup Paradox(1/2)

wewey wita asian games 2018(tirto.id)- Segala hal tentang hidupku serupa paradoks. Aku perempuan, berdarah Tionghoa dan papaku warga negara Singapura. Aku bertarung untuk Indonesia. Ada streotipe di negara ini bahwa orang2 Tionghoa pasti mapan. Tentu itu omong kosong.

 

Situasi ekonomi tiap keluarga ibarat garis start bagi anak2 yang terlahir darinya, aku mulai jauh, jauh, dari belakang. Awalnya keluarga kami berkecukupan. Suatu ketika Papa, pebisnis kayu, ditipu rekannya. Hidup jadi bak abu di atas tanggul. Segalanya goyah, lalu ambruk. Bank menyita rumah, mobil, dsb. Hidup di kota makin menekan. Kemiskinan mendesak kami ke tepi.

Papa memboyong keluarganya ke kampung halaman Mama di Ciamis. Tinggal di kota kecil tak serta merta membuat hidup kami membaik. Papa enggan menumpang di rumah nenek karena ia enggan jadi beban. Ia ingin mandiri walau sulit.

Kami tinggal di kontrakan sempit. Papa-Mama mencoba bangkit, dari jualan bakso hingga barang2 kelontong. Kami berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi. Utang membengkak. Kami tak bisa menanggung keperluan se-hari2. Suatu kali listrik rumah diputus karena lama ditunggak. Ber-malam2 gelap gulita. Untuk mengecas ponsel Papa, satu2nya alat komunikasi, aku terpaksa menumpang di rumah tetangga.
“Memang listrik punya nenek moyang lu?” Bentakan itu selalu tergiang di kepalaku.
Nama Papa  Yeo Meng Tong. Ketika ia berduit, orang2 memanggilnya Mr. Tong dengan manis. Begitu kami kere, orang enteng menyapa Atong. Terkadang Otong. Itu membuatku jengkel.

Aku merasa beruntung memiliki Papa tangguh dan penyabar. Dia tak pernah menyuruh istri atau anak2 nya bekerja meringankan bebannya. Hal2 sepele seperti menyapu, mengepel, atau cuci piring, sering ia lakukan sendiri.

Ayah ku pernah berkata, ke Mama: “Biar Papa saja.” Papa pemimpin keluarga dan ia mengerti pemimpin itu pelayan. Papa tak banyak bicara. Dia beri contoh dengan tindakan. Sifat konsekuen papa mulai kutiru sejak aku kecil. Bergaul dengan laki2. Aku jago bermain kartu dan gundu. Jika gundu dan kartu ku menang, bisa kujual kembali. Uangnya kuserahkan ke Mama.

Itu bukan satu2nya trik cari uang. Bukan, bukan beternak tuyul. Dulu, ada snack berharga Rp500 kadang berhadiah Rp.5,000. Di warung langgananku, satu demi satu bungkus snack itu kukocok, kutimbang, kudengarkan bunyinya. Kalau cocok, aku ambil. Jika tidak, dengan polos aku  meninggalkan penjaga warung yang cemberut karena barang dagangannya aku acak2. Konyol, Naif. Kisah itu benar belaka.

Saat aku lahir, Papa menamaiku Yeo Chuwey. Bahasa Indonesia, artinya keren: nomor satu yang paling bersinar. Sayang, kegaduhan politik di Indonesia waktu itu maka, di akta kelahiranku tertera nama utama “lebih Indonesia”: Wewey Wita.

Anda mungkin mengira aku atlet badminton, wushu, kungfu, basket, bridge, atau OR yang telanjur lekat dengan etnis Tionghoa. Salah, aku pesilat. Pencak silat lebih dekat identitas keindonesiaan yang dibatasi pada etnis Melayu. Berkulit coklat, bukan kuning. Pencak silat tak melahirkan sekat2 itu. Pembatasan, hanya ada dalam kepala kita. Pencak silat, di Indonesia, memeluk siapapun pecintanya, termasuk aku.

Aku tak sangka silat bisa jadi bagian dari hidupku. Semasa kecil aku biasa bermain dengan anak lelaki dan ikut beragam ekstrakurikuler OR : Voli dan basket hingga karate dan taekwondo. Mama memaksaku menampakkan sisi feminin, sampai2 dia pernah memaksaku ikut lomba peragaan busana yang diadakan Radio Pitaloka, stasiun radio terkenal di Ciamis.

Aku terpilih sebagai juara 2. (Jenny Rijanto; Bahan dari : Wewey Wita; https://tirto.id/pencak-silat-memeluk-semua-yang-mencintainya-cVH1)-FR * Bersambung……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita