Lahir Di Kandang Ayam Hermanto Kini Jadi Crazy Rich Dengan 75 Perusahaan

(merdeka.com)-Hermanto Tanoko pengusaha sukses di Indonesia. Putra bungsu pendiri PT. Avia Avian, Soetikno Tanoko ini punya banyak perusahaan. Sehingga disebut ‘Crazy Rich’. Doeloenya Hermanto lahir di kandang ayam. Berikut ulasan lengkapnya.

 

Lahir di Kandang Ayam

Melalui unggahan channel Youtube ‘SuccessBefore30’, pengusaha sukses Hermanto bercerita kisah hidupnya. Dibalik kesuksesannya, Hermanto dulu lahir di kandang ayam. “Saya lahirn  Bulan September 1962 di Kota Malang. Mama anaknya 5, saya terkecil nomor lima, dan semua dilahirkan oleh Bidan.

 

Karena ekonomi waktu itu susah, karena papa kena PP10 tahun 60, jadi harus tinggal di emper-emper, gunung kawi, vihara, akhirnya bisa sewa rumah bekas kandang ayam dengan ukuran 1,5×9 m, saya begitu lahir tinggal di kandang ayam,” ujar Hermanto menceritakan.

 

Ayah dan  Ibu Pekerja keras

Dia ceritakan ayah dan ibunya pekerja keras. “Papa pekerja keras, mama juga. Jadi papa itu tiap harinya naik sepeda ke Singosari beli hasil bumi dari petani, terus dijual di Malang. Sedang mama menjual pakaian bekas di depan rumah. ” kata Hermanto.

 

Paham Investasi sejak kecil

Dia paham investasi sejak usia (5). Bermula ketika dirinya dapat angpau Imlek. “Papa tahun 62 itu buka toko cat, kalau mama tahun 64 buka toko kelontong. Waktu saya usia (5), berarti tahun 67. Kalau Imlek tradisi Chinese kasih angpau ke anak-anak. Setelah uang terkumpul, mama papa menawarkan investasi. You mau enggak invest tepung terigu, harganya mau naik. Oke mau. Bapak catat,” ujar Hermanto.
“Terus besoknya sudah tanya lagi, tepung terigunya naik belum terjual. Ditawari lagi saya, mau beli biskuit enggak, ini yang mau naik biskuit. Oh mau. Beli biskuit, terus dibelikan minyak goreng dan seterusnya. Jadi saya di toko itu jadi senang, jadi tau, jual roti itu untungnya cuma sekian. Jual telur asin sekian, jual minyak goreng sekian, jadi nilai uang itu enggak gampang nyari gitu,” lanjutnya.
“Mama itu dengan anak luar biasa baiknya, enggak pernah melarang, suruh semua dimakan. Saya setelah tau, mana bisa, setelah makan roti disuruh makan yang lain, untungnya belum dapet ini. Belum jualan 10x lipat baru bisa makan. Jadi kami ini mengerti nilai uang mulai usia dini,” pungkasnya.

 

Belajar dagang  dari Kelereng

Hermanto melanjutkan. Ia mengatakan dirinya belajar dagang dari kelereng. “Jadi enggak bisa jajan karena tau harganya mahal. Sampai kalau mainan kelereng itu, saya itu latihannya pakai batu yang bunder. Dari situ saya latihan dari jarak 1-2 meter sampai titis bagus gitu,” kata Hermanto.
“Jadi waktu di sekolah banyak orang bawa kelereng, kalau dia mulai kalah, saya mainin. Akhirnya saya mainin menang banyak, saya dikasih cuan. Dari untung yang didapat, akhirnya saya main sendiri, sampai menangnya berkaleng-kaleng,” lanjutnya. “Akhirnya yang bagus saya cuci, saya jual di toko mama. Jadi saya jual di toko mama itu waktu 6 tahun 7 tahun,” imbuhnya.

 

Pernah jaga Toko Cat

Di usia (8), dia diajak sang ayah untuk membantu menjaga toko catnya. Di sana ia belajar tentang product knowledge. “Di usia, 8-10 itu papa mulai ngajak saya ke toko catnya. Jadi saya disuruh melayani di toko cat itu melayani pembeli, mulai dari satu ons dua ons. Terus dari sana saya tau, kalau papa saya ini merk tertentu itu jadi agen tunggal,” ungkap Hermanto.
“Kalau agen tunggal itu untungnya jauh lebih besar. Dari sana saya jadi belajar product knowledge, produk yang untung besar itu apa keunggulannya dibanding brand yang sudah laku. Keunggulannya banyak, dari harganya lebih murah, lebih kental, lebih cepat kering, lebih kilap,”. “Dari situ, kalau ada pembeli brand yang terkenal saya switch ke brand yang papa jadi agen tunggal. Hampir 90% menurut”.

 

Pernah jaga Apotek

Tak hanya menjaga toko cat, dia diberi kepercayaan oleh ayah mengurus apotek yang dimiliki keluarganya di usia 14 tahun. “Di usia 14, saya dipanggil papa, ditanya di sebelah rumah ini ada apotek mau dijual. Kalau enggak dibeli, sayang, karena ini persis di sebelah rumah. Tapi kalau dibeli, siapa yang jaga. Tanya nya ke saya,” ujar Hermanto menceritakan.
“Saya aja yang jaga. Habis pulang sekolah saya jaga. Oh bisa ya? bisa pak. Dibeli sungguhan suruh saya yang jaga. Jadi saya pulang sekolah, makan, jam 13 sampai jam 21 saya itu di apotek. Jadi saya belajarnya itu, jam 4-5 pagi. Jadi saya bangun pagi. Buat PR, belajar, sampai sekarang saya bangunnya jam 4-5 pagi. Jadi udah kebiasaan sampai saat ini saya bangun pagi”.
“Saya di awal punya mimpi, apotek harus paling ramai di Malang. Jadi dari mimpi itu saya mempelajari. Apotek yang sudah ramai itu harga jualnya berapa persen ambil untung, terus ngelayanin pelanggan itu berapa lama, itu saya selidiki semua,” terangnya.
“Akhirnya, saya berinisiatif, agar harga saya paling murah yaitu dengan beli kontan, dapat potongan 15-20%, saya berikan ke pembeli. Terus karena obat saya enggak lengkap, kelemahan itu saya jadikan kekuatan, dengan saya kasih ongkos kirim, ongkos ambil resep gratis. Jadi saya cuma sedia sepeda motor, saya ngelayani costumer, enggak perlu nunggu obat. Saya kirimkan,” pungkasnya.

 

Bangun pabrik Cat Avian

Dia menceritakan ketika ayah dan dirinya membangun dan mengelola pabrik cat Avian. “Setelah menikah, usia 19. Saya diminta membantu papa di Pabrik Cat Avian. Jadi papa ini merintis Avian di tanggal 1/11/1978, waktu devaluasi rupiah dengan 18 karyawan,” kata Hermanto.
“Di akhir 1982, saya diminta membantu, itu awal ketemu papa saya tanya, Avian ini visi ke depannya apa. Cita-cita papa ini apa. Papa saya nangkep, papa ingin Avian jadi nomor satu di Indonesia. Padahal pabriknya belum besar, pagar aja enggak ada. Drum-drum itu ditaruh di sawah,” lanjutnya.
“Jadi saya semangat. Saya ngomong, pa kalau gitu kita harus memperkuat, mutu bagus kita pertahankan terus. Nah itu Avian itu tumbuh terus, double digit tiap tahuna. Jadi Avian kini sudah 40 tahun. Ibarat kalau setiap 10 tahun itu naiknya puluhan kali, dawarsa kedua puluh naiknya ratusan, dasawarsa ketiga puluh naiknya ribuan, dasawarsa keempat puluh ini sudah puluhan ribu kali,” imbuhnya.
“Sehingga merk cat nasional yang dari home industri bisa bersaing dengan perusahaan global dan kami jadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Di dunia, pada HUT ke-40 ini, kami bersyukur jadi no. 40”.

 

Sukses lewati Krisis 98

Di usia (35), dia sukses melewati krisis 98. Kesuksesan ini, berkat pesan ayah yang ia ingat dan laksanakan. “Waktu krisis 97 98, kami seluruh perusahaan, seluruh anak cucu punya usaha, gak ada yang hutang tak bisa dibayar, hutang ke bank atau hutang ke principle. Semua bisa dibayar karena papa mengajarkan. Jangan hutang dalam mata uang asing karena kita jualan dan dapat uang Indonesia”.
Jadi kalau hutang mata uang asing, ada devaluasi atau perubahan, terus nilainya berlipat kali, you enggak bisa bayar, bagaimana tanggung jawabmu ke bank atau pihak ketiga. Jangan tamak, tapi you harus punya perhitungan tanggung jawab. Ini yang menyelamatkan kami dari tiap krisis apapun”.

 

Sosok Hermanto Tanoko

Hermanto Tanoko salah satu pengusaha sukses. Dengan meniru jalan karier sang ayah, Hermanto mulai merintis usahanya di berbagai bidang. Saat ini Tan Corp Group memiliki lebih dari 15 ribu karyawan. Tan Corp Gorup terdiri 8 subholding, 77 perusahaan, dan lebih dari 300 brand. Perusahaan itu telah berhasil mendapat ratusan penghargaan nasional dan internasional.

 

Bangun Hotel Rp 1,8 Triliun

Melalui wawancara Rico Huang dengan Hermanto pada (26/6/19), dia membenarkan hotel Vasa Luxury Hotel yang ia bangun dengan Tung Desem Waringin menghabiskan biaya Rp1,8 triliun. “Iya, kalau dihitung keseluruhan dengan office towernya ya,” terang Hermanto.
Hotel mewah tersebut menjadi hotel kebanggaan Hermanto dan juga masyarakat Surabaya. Vasa Luxury Hotel jadi tempat menginap favorit Presiden Jokowi jika ke Surabaya.

 

(add; Addina Zulfa Fa’izah; Bahan dari : https://www.merdeka.com/trending/lahir-di-kandang-ayam-hermanto-kini-jadi-crazy-rich-punya-75-perusahaan.html)-FatchurR *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita