Enaknya berselingkuh

soimah hotKUPANDANGI tubuh Syahrini, istriku yang tertidur pulas. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya. Di malam yang lain, ada kalanya dengkuran itu sangat keras, namun tidak membuat aku sampai terganggu. Bila kebetulan aku terbangun karena dengkurnya, aku membetulkan letak kepala atau lehernya agar tidak terlalu miring.

 

Siapa tahu itu penyebab dengkurnya makin nyaring. Aku sering membaca artikel yang mengulas bahwa mendengkur itu tidak boleh dianggap sepele, bisa berakibat fatal, dan mengakibatkan kematian. Jam dinding di tembok kamar kami menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

 

Besok hari Minggu, sehingga aku tidak perlu takut seandainya bangun kesiangan. Biasanya aku bangun sekitar pukul 05.00, yang sudah merupakan kebiasaanku semenjak masih remaja di kampung. Dan kebiasaan bangun pagi ini tetap terpelihara hingga aku merantau. Setelah berumah tangga pun kebiasaan bangun di pagi hari ini masih tetap kupertahankan.

 

Bahkan aku sering menolak jika diminta Syahrini untuk tetap tidur dulu beberapa jam lagi, terutama bila  hari libur. Dan aku biasanya menolak tawaran ini dan tetap bangkit dari tempat tidur walau rasa kantuk masih tersisa. Istriku sangat menyayangi, mengasihi dan memperhatikan aku.

 

Aku berani mengatakan kasih sayangnya terhadapku melebihi kasih sayang ibuku dulu. Dan aku berani bertaruh di dunia ini tidak pernah kutemukan wanita sebaik Syahrini. Aku merasa beruntung punya kekasih Syahrini, karyawati di sebuah perusahaan swasta bergaji besar, 4x lipat dari penghasilanku.

 

Semenjak masih pacaran, Syahrini sering membeli baju baru, celana baru atau sepatu baru untukku. Aku sendiri selama ini lebih suka membeli pakaian bekas atau sepatu bekas dari pasar loak. Yang penting pintar dan jeli memilih barang yang masih bagus.

 

Disamping harganya murah namun barang masih berkualitas. Sebab banyak barang bekas yang kualitasnya prima, asal kita pandai memilih. Aku juga kerap diajak makan di restoran-restoran, yang ada di mal-mal megah, yang bagiku sangat mewah.

Ketika bersuami-istri, sikap Syahrini tiada berubah. Dia tetap wanita dan istri yang penuh kasih dan perhatian. Makananku diperhatikan. Kulkas selalu dipenuhi buah-buahan dan aneka makanan bergizi. Dan semua itu tersedia untuk diriku. Maka tidak mengherankan bila dalam beberapa bulan semenjak married, berat badanku bertambah drastis.

 

Aku yang tadinya kurus kerempeng, kini agak gemukan. Tidak sedikit kaum kerabat atau sanak saudara yang mengatakan bahwa setelah menikah, aku jauh lebih muda dan ganteng pula. Masih banyak contoh betapa istriku selalu membuatku senang-bahagia. Sementara aku tidak pernah memberi apa-apa selain gajiku setiap bulan.

***

TAK terasa 6 tahun kami menikah, namun belum ada tanda-tanda istriku hamil. Padahal kami mendambakan keturunan. Kami sudah mendatangi dokter spesialis kandungan di berbagai RS, atau tukang urut di berbagai kampung, yang kata orang “manjur”. Namun belum ada hasil. Mengkhawatirkan, mengingat aku dan Syahrini sama-sama anak sulung. Adik-adikku sudah punya putra dan putri.

Banyak orang menyarankan kami mengadopsi anak tetangga atau anak dari panti asuhan. Tapi aku  tidak mau. “Kalau harus mengadopsi anak, harus anak dari adikku atau adik Syahrini,” kataku. Tidak sedikit sanak keluarga yang menganjurkan aku kawin lagi. Tetapi semua itu kuanggap angin lalu, yang tidak perlu ditanggapi. Aku dan Syahrini tetap berharap datangnya kabar baik, namun harus tetap tekun berdoa dan berusaha.
***

DI kantor, aku terkenal suka menggoda Soimah. Cewek bahenol dan sedikit genit itu tergolong “matang” dari segi usia. Entah kenapa belum ada lelaki yang mengajaknya nikah, padahal wajahnya cantik-manis. Entah mengapa pula dia kok seperti “jinak-jinak merpati” sama aku walau dia paham aku sudah beristri.

 

Bagi teman-teman sekantor, sudah merupakan pemandangan biasa jika misalnya dalam suatu kesempatan tiba-tiba aku merangkul pundaknya, lalu merayu-rayu dan mengggoda. “Gombal dan ember” teriaknya, namun sambil tersenyum senang.

Biasanya adegan semacam ini akan  memancing tawa riuh seisi kantor. Itu menjadi hiburan di kala kepenatan mulai datang menjelang jam pulang kantor. Betapa pun aku bisa berbuat lebih jauh lagi terhadap dia, namun hati kecilku tetap mengingatkan ada rambu-rambu yang tidak boleh kulanggar.

 

Sebagai lelaki, aku sering merasa tergoda untuk berbuat sesuatu yang lebih “dalam” lagi terhadap Soimah. Namun komitmen untuk tidak menodai pernikahanku yang juga bisa menyakiti hati istriku, membuat aku tetap sadar dan mampu menjaga diri dan nafsu. Sekadar iseng sajalah, pengusir jenuh.

Dalam hatiku yang paling dalam, aku pun tidak pernah punya niat sedikit pun untuk menceraikan Syahrini, wanita yang sangat menyayangi aku itu, sekalipun akhirnya dia tidak mampu memberiku keturunan. Aku selalu percaya, mukjizat itu selalu ada, asalkan kita tekun berdoa dan minta pada Tuhan.

 

Aku juga bisa merasakan kalau dia tidak mau berpisah dari aku, bahkan bila aku harus membagi cinta untuk wanita lain. Sekalipun dia pernah dengan nada berat dan sambil terisak-isak mempersilakan aku untuk menikah lagi supaya mendapat anak, bagiku itu hanya salah satu contoh bagaimana dia ingin membahagiakan dan menyenangkan aku sekalipun untuk itu dia harus berkorban perasaan dan diri.

***

MALAM jahanam itu akhirnya tiba juga. Aku dan Soimah berduaan di kamar hotel bintang lima di luar kota. Iblis dan setan akhirnya sering tampil sebagai pemenang. Dan aku ditaklukkan. Yang seharusnya tidak boleh terjadi, di malam itu terjadilah, walau penyesalan yang beratnya tiada terperikan menghantui dari waktu ke waktu.

Hingga suatu hari, Soimah datang menghampiriku dan membisikkan kalau dirinya hamil. Ujung-ujungnya dia minta aku menikahinya sebelum kasus ini diketahui umum. Dunia serasa kiamat.  Ketika informasi ini sampai ke telinga istriku, dia menangis dalam kehancuran dan ketidakrelaan. Aku pun menangis sesenggukan, dengan nafas yang terasa sangat sesak.

“Ada apa Pa? Bangun… bangun…” Syahrini menggoncang-goncang tubuhku, dan aku terbangun.
“Mimpi apa Pa? Kok tadi seperti ketakukan dan menangis?”
“Oh…aku tadi mimpi ditangkap KPK,” jawabku berseloroh menarik nafas lega. Ternyata aku menghamili Soimah cuma dalam mimpi. Dan hal tidak akan pernah terjadi. Aku tidak mau melukai hati istriku.

Aku kembali merebahkan diri sambil tersenyum bahagia. Istriku menarik selimut sampai ke leherku. “Terimakasih Tuhan,” seruku dalam hati seraya memeluk istriku ketika dia sudah berbaring kembali di sampingku (Hans Jait; http://m.kompasiana.com/post/read/685104/2/selingkuh.html)-Aguk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita