logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

(Sampah)-Pembangkit Listrik dan pencemarannya(1/2)

Langkah pemerintah mengubah sampah jadi sumber energi menarik, tapi bagi sebagian aktivis lingkungan, upaya itu lebih banyak menimbulkan pencemaran berbahaya daripada bermanfaat menghasilkan listrik.

 

Kelompok aktivis lingkungan mengajukan judicial review atas Perpres No.18/2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah (PLTSa) ke MA. Alasannya karena dianggap bertentangan dengan UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah di Indonesia.

 

Perpres soal (PLTSa) ‘yang berpotensi masalah’ itu menyebut spesifik penggunaan metode thermal incinerator atau pembakaran mengubah sampah jadi energi di 7 kota, yaitu Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Solo, dan Makassar.

 

Menurut Margaretha Quina dari Pusat Hukum Lingkungan, CEL, “Pembakaran (sampah) itu dilarang  eksplisit oleh UU Pengelolaan Sampah. Kalau kita lihat perda2 dari 7 kota, tidak satupun memberi ruang membakar sampah lewat PLTSa.” Juga ada larangan bakar plastik dan kandungan plastik dalam sampah. Jika jika pembakaran berlanjut artinya ‘mendorong pemda melanggar aturan yang mereka buat’.

 

Butuh tambahan energi

Selain melanggar larangan bakar sampah, (PLTSa) diduga mengeluarkan lebih banyak energi untuk dapat listrik yang tak seberapa, mengingat karakteristik sampah kita yang tak dipilah dan cenderung basah. Sampah ini butuh energi tambahan untuk dikeringkan dan agar suhu tungku pembakaran tetap tinggi.

 

Setelah pembakaran tersisa abu yang mengandung zat pencemar persisten dan berbahaya. “Ini limbah B3 yang proses penanganannya khusus, sehingga biaya tambahannya besar” jelasnya. Adapun pencemar logam berat yang timbul dari hasil pembakaran sampah di incinerator : Arsen, merkuri, dan kadmium, serta pencemar persisten dan organik termasuk dioksin dan furan.

 

“Dioksin itu karsinogenik tipe 1, artinya sudah dipastikan menimbulkan kanker terhadap manusia. Dan ini dampaknya mungkin baru 10-15 tahun lagi kita lihat. Gara-gara kita membakar 1000 ton sampah per hari, menghasilkan 25% residu abu, yang notabene limbah B3, maka itu dibebankannya ke generasi yang akan datang,” ujar Margaretha. Bersambung………

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160610_majalah_sampah)-FatchurR

Catatan : Pada dasarnya apapun upaya kita tentu ada kelemahannya. Jadi perlu diantisipasi (FR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita