logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

(Teropong)-Waspadalah dengan penyakit Batu Empedu

Berikut sajian berita WA Lama dari seniorku HE: Kawan2, Jangan remehkan Batu Empedu. Bagi penderita sakit batu empedu gak apa2, tak perlu operasi seperti aku asal tidak menggangu. Tahun 1995 aku USG. Ada batu empedu berbentuk pasir, sepertiga kantong empedu. Dokter bilang jika gak ganggu gak apa2 .

 

Tetapi tak terasa 20th lebih batu empedu makin mendesak dan memenui kantong empedu sampai ke saluran2 empedu . Karena ada batu yg nyangkut disaluran, jadi bengkak dan sakit dan infeksi ke liver , pecernaan, ginjal, ke paru dan ke jantung . Saya rawat inap RS. Di RS tak bisa dioperasi karena banyak infeksinya dan harus di sembuhkan DULU.

 

Setelah dioperasi saya masih demam karena ada sisa2 infeksi dan tetap pengobatan berlangsung itu lah diriku ini. Jadi 1th lalu aku sakit pecernaan sampai di indoscopi itu karena saat itu udah infeksi batu empeduku yg saat itu aku ngadakan syukuran di Probolinggo di rumah sahabat Bietje .

 

Jadi gara2 batu empedu yang udah penuh sampai kesaluran2 dan membuat infeksi saat itu dioperasi batu  empedunya. Ok moga2 dipahami kawan2 semua trims. Tuhan memberkati kita. (Harry Eff-P61)

 

Catatan FR : Berikut saya kasih bonus tentang  Batu Empedu (Cuplikan dari kompas.com) : Pola makan tidak sehat memicu risiko pembentukan batu empedu, yang tidak jarang penderitanya generasi muda. Sejauh ini, pembedahan laparoskopi jadi cara mengatasi gangguan batu empedu.

Itu disampaikan konsultan Gastro Hepatologi Dr dr Rino A Gani pada seminar dokter bertajuk “Endoscopic Update” di Rumah Sakit Premie Bintaro Tangerang Selatan, (29/8). “Kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat jadi salah satu penyebab batu empedu” katanya.

Makanan tidak sehat ialah makanan berkadar lemak tinggi, garam, atau bersantan. Batu empedu terbentuk dari kejenuhan konsentrasi asam empedu, pigmen, atau Kolesterol yang mengeras di kantong atau saluran empedu. Potensi batu empedu dikaitkan dengan berat badan berlebih atau obesitas. Bisa juga pada orang dengan kandungan lemak berlebih di dalam tubuhnya.

Sejumlah kasus, penderita batu empedu sering dialami usia (40) ke atas. Di usia itu, risiko penimbunan lemak di tubuh lebih besar, ditambah fungsi kantong dan cairan empedu menurun. Khusus di Indonesia, pembentukan batu empedu juga karena infeksi saluran pencernaan, demam tifoid yang tak terselesaikan, dan tipus.

 

“Penyakit ini penyebab penderita batu empedu tidak didominasi usia di atas (40), tapi menjalar ke usia lebih muda” ucap Rino, yang juga Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. Ada sejumlah pendekatan mendeteksi batu empedu. Paling dasar melakukan pemeriksaan ultrasonografi. Dengan metode itu, 97% batu empedu di kantong empedu bisa terlacak.

Jika batu itu di saluran empedu, harus dilakukan tindakan Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP), yakni teknik menggabungkan endoskopi dan fluorokospi mendiagnosa atau terapi sejumlah masalah yang ada di saluran empedu.

 

Bukan Maag
Ahli bedah saluran cerna Errawan Wiradisuria menjelaskan, terbentuknya batu empedu bisa diketahui jika penderitanya mengalami sejumlah gejala : Timbul rasa sakit di perut kanan atas dan punggung. Itu dianggap sakit maag. “Saat minum obat maag akan sembuh, tapi tak lama kambuh” ujar Errawan.

Jika batu empedu menimbulkan gejala2 itu, dokter akan mengangkat batu empedu. Ada cara2, di antaranya metode pembedahan laparoskopi, pembedahan minimal invasif menyasar sumber masalah. Dengan metode itu, ahli bedah bisa angkat batu empedu dengan lihat gambar dalam perut yang dikirim kamera kecil yang dimasukkan. Operasi dilanjutkan dengan pengangkatan kantong empedunya.

“Hilangnya kantong empedu tidak berpengaruh signifikan pada kondisi kesehatan,” ucap Errawan, yang juga Ketua Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopi Indonesia. Ia tekankan, saat pengangkatan selesai, harus dilakukan pembersihan total. Itu agar tidak bermasalah kemudian hari.

Dengan bedah minimal invasif, luka sayatan 1-1,2 cm, jauh lebih kecil dibanding pembedahan konvensional yang luka sayatan 30 cm. Jika sumber masalah sulit diatasi laparoskopi, proses pembedahan dikembalikan ke metode konvensional. (B12; Lusia Kus Anna; Sumber Harian Kompas)

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://health.kompas.com/read/2015/08/31/145700123/Pola.Makan.Tak.Sehat.Picu.Batu.Empedu)-FatchurR

One Response to (Teropong)-Waspadalah dengan penyakit Batu Empedu

  • Harry Reksosanudra says:

    Ternyata empedu itu kecil2 cabe rawit, bisa pengaruhi seluruh organ dalam secara masif & signifikan. Ada rumor jk sp pecah, cairan empedunya meracuni tubuh, sp orangnya bisa tewas, kan mengerikan. Sekedar buat pengetahuan, bagaimana proses empedu pecah itu, apa lgs sekarat ato ada tahapan prosesnya. Mudah2an bisa diterangkan di Web ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita