Hirup udara segar untuk perbaiki kualitas hidup

Tirto.id-Pepohonan rimbun mengelilingi taman 5.000 M2 itu. Macam2 bunga warna-warni ikut menghias pinggiran taman. Siapa pun bisa mencium bau harumnya. Pengunjung2 menikmati keindahan taman dan melakukan selfi. Suasana sore itu desain gambar Taman KB, Semarang. Diharapkan terealisasi Mei 2018.

 

Berkonsep outdoor, secara umum, Semarang bisa dibilang  salah satu kota sadar perlunya membangun taman kota untuk bersantai. Taman KB akan ditambahi macam2 pepohonan dan fasilitas2 kenyamanan pengunjung : Toilet dan ruang ganti lengkap dengan AC ramah difabel. “Nanti akan lebih adem dan futuristik, supaya bisa melepas penat” kata Walikota Semarang, Hendrar Prihadi.

Menurut BPS, total ruang terbuka hijau di Semarang 242 taman kota dengan luas 3.202 m2.  Masih jauh lebih sedikit dibanding dengan Jakarta yang punya 4.332 taman luasnya 37.9 Juta m2. Meski luas dan jumlah tamannya banyak, Jakarta tetap sumpek. Bisa jadi, jumlah taman yang ada belum berbanding lurus dengan jumlah polusi yang dihasilkan setiap harinya. Jakarta harus berguru dengan Surabaya.

Kota pimpinan Tri Rismaharini ini salah satu kota di Indonesia yang fokus membangun fasilitas taman kota. Akhir Oktober-2017 Surabaya dipilih PBB jadi 3 kota terbaik di dunia kategori “Global Green City.”
Baik untuk kesehatan Meental
“Kita yang tinggal di kota besar cuma butuh tempat duduk2 murah (taman). Karena taman jarang, maka dulu Sevel [gerai Seven Eleven] ramai.” Firsta, yang melewatkan masa kecil di Surabaya, baru pindah ke Jakarta dan sebelumnya tinggal di Batam. Di antara 3 kota itu, Jakarta-lah yang tersumpek. Kepenatan akibat rutinitas harian tak bisa dinetralkan, karena minim tempat menghirup udara segar.

Keluhan Firsta sebagai warga pendatang bisa jadi rujukan pemda untuk lebih giat membangun taman kota. Penelitian2 menunjukkan aktivitas di ruang terbuka hijau meningkatkan kesehatan mental. Salah satunya penelitian Jo Barton dan Jules Pretty pada jurnal Environmental Science and Technology (2010).

 

Ia meneliti 1252 orang di Inggris yang beragam aktivitas di alam dengan berkebun, bersepeda, mancing, berkuda, dan jalan2. Hasil beragam aktivitas tadi terbukti dapat memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental para partisipan.

Dengan The Rosenberg Self Esteem Scale (RSE), mengukur suasana hati dan kesehatan mental. Sebelum beraktivitas alam secara rutin, rata2 kesehatan mental yang mempengaruhi kepercayaan diri mereka ada di angka 0,42, yang mempengaruhi suasana hati 0,19. Setelah melakukan beragam aktivitas itu, nilai kesehatan mental mereka naik masing2 jadi 0,94 dan 0,93.

Kelompok usia yang berubah terbesar di bawah 30 tahun. Efek perubahan makin berkurang seiring bertambahnya umur. Orang yang berumur lebih dari 70 tahun paling sedikit mengalami perubahan suasana hati dan kesehatan mental. Peneliti merekomendasikan aktivitas di ruang terbuka hijau itu terapi bagi orang2 yang bermasalah kesehatan mentalnya.

Untuk menata kesehatan mental sejak dini, maka anak-anak perlu diperkenalkan interaksi dengan alam dan berkegiatan di luar ruangan. Untuk itu, pemerintah perlu menambah taman2 di kota. Dari penelitian juga diketahui faktor2 yang mempengaruhi kesehatan mental. Misal tempat tinggal pindah2 dan kurangnya ruang terbuka hijau di daerah pindahan.

 

Penelitian lain oleh Ian Alcock dkk dalam jurnal Environmental Science and Technology mengkonfirmasi dampak buruk pindah rumah. Individu yang pindah ke daerah lebih hijau mungkin beruntung, karena  signifikan akan memiliki sehat mental lebih baik setelah 3 tahun pindah. Sebaliknya, yang pindah ke daerah lebih suram seperti Firsta, kesehatan mentalnya bisa lebih buruk.

Kelompok yang pindah ke lebih asri, 74,07% lebih cepat menikah dibanding 62,55% kelompok sebaliknya. Mereka cenderung pensiun dini menikmati hidup dengan persentase 10,61%, dibanding kelompok sebaliknya 8,51%. Yang pindah ke tempat lebih baik cenderung menetap dan tak pindah2.

Jika melihat penelitian2 itu, Firsta sebaiknya kembali ke kampung halamannya Surabaya. Kota yang lebih hijau dibanding saat ia melewatkan masa kecilnya. Kecuali, Jakarta mau terus berbenah dan mau menambah ruang terbuka hijau.  (tirto.id – adi/msh; Aditya Widya Putri)

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (https://tirto.id/perbaiki-kualitas-hidup-dengan-menghirup-udara-segar-czuJ)-FatchurR

Tirto.id-Pepohonan rimbun mengelilingi taman 5.000 M2 itu. Macam2 bunga warna-warni ikut menghias pinggiran taman. Siapa pun bisa mencium bau harumnya. Pengunjung2 menikmati keindahan taman dan melakukan selfi. Suasana sore itu desain gambar Taman KB, Semarang. Diharapkan terealisasi Mei 2018.

 

Berkonsep outdoor, secara umum, Semarang bisa dibilang  salah satu kota sadar perlunya membangun taman kota untuk bersantai. Taman KB akan ditambahi macam2 pepohonan dan fasilitas2 kenyamanan pengunjung : Toilet dan ruang ganti lengkap dengan AC ramah difabel. “Nanti akan lebih adem dan futuristik, supaya bisa melepas penat” kata Walikota Semarang, Hendrar Prihadi.

Menurut BPS, total ruang terbuka hijau di Semarang 242 taman kota dengan luas 3.202 m2.  Masih jauh lebih sedikit dibanding dengan Jakarta yang punya 4.332 taman luasnya 37.9 Juta m2. Meski luas dan jumlah tamannya banyak, Jakarta tetap sumpek. Bisa jadi, jumlah taman yang ada belum berbanding lurus dengan jumlah polusi yang dihasilkan setiap harinya. Jakarta harus berguru dengan Surabaya.

Kota pimpinan Tri Rismaharini ini salah satu kota di Indonesia yang fokus membangun fasilitas taman kota. Akhir Oktober-2017 Surabaya dipilih PBB jadi 3 kota terbaik di dunia kategori “Global Green City.”
Baik untuk kesehatan Meental
“Kita yang tinggal di kota besar cuma butuh tempat duduk2 murah (taman). Karena taman jarang, maka dulu Sevel [gerai Seven Eleven] ramai.” Firsta, yang melewatkan masa kecil di Surabaya, baru pindah ke Jakarta dan sebelumnya tinggal di Batam. Di antara 3 kota itu, Jakarta-lah yang tersumpek. Kepenatan akibat rutinitas harian tak bisa dinetralkan, karena minim tempat menghirup udara segar.

Keluhan Firsta sebagai warga pendatang bisa jadi rujukan pemda untuk lebih giat membangun taman kota. Penelitian2 menunjukkan aktivitas di ruang terbuka hijau meningkatkan kesehatan mental. Salah satunya penelitian Jo Barton dan Jules Pretty pada jurnal Environmental Science and Technology (2010).

 

Ia meneliti 1252 orang di Inggris yang beragam aktivitas di alam dengan berkebun, bersepeda, mancing, berkuda, dan jalan2. Hasil beragam aktivitas tadi terbukti dapat memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental para partisipan.

Dengan The Rosenberg Self Esteem Scale (RSE), mengukur suasana hati dan kesehatan mental. Sebelum beraktivitas alam secara rutin, rata2 kesehatan mental yang mempengaruhi kepercayaan diri mereka ada di angka 0,42, yang mempengaruhi suasana hati 0,19. Setelah melakukan beragam aktivitas itu, nilai kesehatan mental mereka naik masing2 jadi 0,94 dan 0,93.

Kelompok usia yang berubah terbesar di bawah 30 tahun. Efek perubahan makin berkurang seiring bertambahnya umur. Orang yang berumur lebih dari 70 tahun paling sedikit mengalami perubahan suasana hati dan kesehatan mental. Peneliti merekomendasikan aktivitas di ruang terbuka hijau itu terapi bagi orang2 yang bermasalah kesehatan mentalnya.

Untuk menata kesehatan mental sejak dini, maka anak-anak perlu diperkenalkan interaksi dengan alam dan berkegiatan di luar ruangan. Untuk itu, pemerintah perlu menambah taman2 di kota. Dari penelitian juga diketahui faktor2 yang mempengaruhi kesehatan mental. Misal tempat tinggal pindah2 dan kurangnya ruang terbuka hijau di daerah pindahan.

 

Penelitian lain oleh Ian Alcock dkk dalam jurnal Environmental Science and Technology mengkonfirmasi dampak buruk pindah rumah. Individu yang pindah ke daerah lebih hijau mungkin beruntung, karena  signifikan akan memiliki sehat mental lebih baik setelah 3 tahun pindah. Sebaliknya, yang pindah ke daerah lebih suram seperti Firsta, kesehatan mentalnya bisa lebih buruk.

Kelompok yang pindah ke lebih asri, 74,07% lebih cepat menikah dibanding 62,55% kelompok sebaliknya. Mereka cenderung pensiun dini menikmati hidup dengan persentase 10,61%, dibanding kelompok sebaliknya 8,51%. Yang pindah ke tempat lebih baik cenderung menetap dan tak pindah2.

Jika melihat penelitian2 itu, Firsta sebaiknya kembali ke kampung halamannya Surabaya. Kota yang lebih hijau dibanding saat ia melewatkan masa kecilnya. Kecuali, Jakarta mau terus berbenah dan mau menambah ruang terbuka hijau.  (tirto.id – adi/msh; Aditya Widya Putri)

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (https://tirto.id/perbaiki-kualitas-hidup-dengan-menghirup-udara-segar-czuJ)-FatchurR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita