logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Bidang Kedokteran perlu antisipasi Era Disrupsi

Bidang Kedokteran perlu antisipasi Era Disrupsi(m.mediaindonesia.com)-ERA teknologi industri 4.0 yang mengandalkan kecerdasan buatan, big data, dan internet of things telah merambah dunia pelayanan kesehatan. Karena itu, bidang kedokteran perlu antisipasi era disrupsi karena kemajuan teknologi. 

 

Teknologi perlu dimanfaatkan optimal untuk menghasilkan tata laksana pengobatan.”Pelayanan2 kesehatan global kini didorong memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Institusi pendidikan kedokteran harus mengantisipasinya” ungkap Dekan FKUI Ari Fahrial Syam dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam UI, di Jakarta (8/9).

 

Menurutnya, teknologi kini bisa kian membantu dalam mendiagnosa kondisi pasien dan memprediksi yang terjadi kemudian hari pada pasien. Salah satu kemajuan itu inovasi kapsul endoskopi nirkabel pada penanganan penyakit lambung.

 

Dilengkapi indikator pendarahan, kapsul endoskopi otomatis bisa memberi tanda lokasi pendarahan pada saluran cerna pasien. Dokter tak perlu lagi mengamati gambar secara manual. “Penemuan ini mempermudah dokter mencari penyebab penyakit hingga perawatan pasien bisa lebih baik dengan tata laksana yang tepat” imbuhnya.

 

Ari menambahkan kemajuan teknologi tinggi di bidang kedokteran menentukan arah pengobatan pasien di masa datang. Dia berpendapat pengobatan secara presisi kian dibutuhkan. Artinya, pengobatan pada pasien perlu diarahkan pada pendekatan klinis yang berbeda atau personalized medicine.

 

Risetnya mengenai kuman Helicobacter pylori (H pylori) mencoba membuktikan pendapat itu. Infeksi H pylori merupakan infeksi kuman pada lambung yang menyebabkan gangguan, seperti maag. Penyakit itu saat ini menjangkit setengah penduduk dunia.

 

Penelitiannya intensif selama 2014-2017 mengungkapkan faktor etnik berperan tingginya prevalensi kuman H pylori di Indonesia. Dari hasil risetnya, ditemukan 3 etnik : Papua, Batak, dan Bugis memiliki tingkat prevalensi kuman H pylori tinggi ketimbang suku2 lain. Etnik Papua memiliki prevalensi 42,9%, diikuti Batak 40%, dan Bugis 36,7%.

 

Belum diketahui mengapa tiga etnik itu berprevalensi tinggi. “Mungkin bisa karena kebiasaan tidak mencuci tangan dan sebagainya tapi yang jelas butuh penelitian lebih lanjut untuk mengungkapnya,” jelasnya. (Dhika Kusuma Winata; Bahan dari : http://m.mediaindonesia.com/read/detail/183427-bidang-kedokteran-perlu-antisipasi-era-disrupsi)-FatchurR *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita