“Sick Man of Asia” dan Presiden Baru

Obyek wisata ThailandBagi sebagian orang Indonesia, Malaysia adalah negara yang dianggap pesaing terdekat dalam bidang kemajuan ekonomi. Banyaknya interaksi antara Indonesia-Malaysia positif dan negatif, menjadikan Malaysia sering dianggap tolok ukur dan pembanding utama. Meski tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu diakui Malaysia jauh berada di depan kita, meski tentu Indonesia masih bisa mengejar ketertinggalannya.

Sejatinya, pesaing terdekat Indonesia di Asia Tenggara adalah Thailand. Negara ini berciri-ciri dan struktur ekonomi hampir sama dengan Indonesia, yakni pertanian yang ditopang dengan industri yang tumbuh. Indonesia dan Thailand juga dikaruniai kecantikan alam yang luar biasa.

Keindahan BremiBeda dengan Malaysia atau Singapura yang mengandalkan wisata belanja dan man-made attraction, Thailand (juga Indonesia) berharap pada turis asing yang datang untuk menikmati keindahan alamnya. Indonesia selalu berebutan kue investasi luar negeri dan wisatawan mancanegara.

Dan dalam kedua hal tersebut, Thailand mengungguli Indonesia, terutama sejak krisis 1998; Thailand jauh lebih cepat sembuh. Industri makanan, kebutuhan sehari-hari, serta industri otomotif negeri Gajah Putih ini tumbuh sangat pesat, ditunjang pembangunan infrastruktur dan insentif lain sehingga memberi kenyamanan investor luar negeri. Negeri itu menjelma menjadi industri baru, dengan ekonomi yang ditunjang sebagian besar dari ekspor.

Thailand juga mencatatkan pertumbuhan fantastis dalam industri pariwisata dengan kunjungan wisatawan asing yang terus naik. Pada tahun 2013, negara tersebut menerima sekitar 26 juta kunjungan turis asing. 26 juta! Pada tahun yang sama, Indonesia ‘hanya’ didatangi sekitar 8.9 juta turis mancanegara.

Bisakah kita kejar?

Saya pertama kali ke Thailand pada September 2006. Salah timing, pikir saya. Karena waktu saya datang, pas terjadi kudeta terhadap sang Perdana Menteri yang populer, Thaksin Shinawatra, yang dilakukan oleh militer. Saya justru berpikir, perjalanan saya di Thailand akan menjadi pengalaman baru, itung-itung menyaksikan (dan merasakan) kudeta militer.

Saya berpikir saya akan menjumpai hotel-hotel yang kosong, jalan-jalan yang lengang, dan orang-orang asing yang berlari berebutan ke airport untuk melarikan diri. Saya tidak mengalami hal-hal tersebut. Di tempat-tempat wisata, para turis tetap santai duduk-duduk di kafe-kafe pinggir jalan, atau berenang di pantai. Dan hotel-hotel pun sama sekali tidak kosong.

Airport juga tidak menampakkan chaos dan rush. Satu-satunya perbedaan dari hari-hari biasa adalah saya menemukan banyak tentara dengan senjata di tangan, dan panser serta tank di perempatan dan pertigaan jalan, juga di depan gedung-gedung pemerintah. Itulah Thailand.

Kudeta yang baru terjadi di Thailand 2014 ini pun tak menimbulkan penurunan jumlah wisatawan yang drastis. Konon kedatangan turis hanya turun sekitar 4%. Tidak banyak. Semuanya kembali pada terbangunnya reputasi Thailand yang selama ini dianggap mampu menjamin keamanan bagi semua, meski dalam keadaan “genting” seperti kudeta.

Benarkah begitu sulit Indonesia mengejar Thailand?

Cukup benar. Thailand memiliki keunggulan dibanding Indonesia. Negeri itu hanya terdiri dari satu wilayah daratan utama, beda dengan Indonesia yang terdiri dari beribu pulau, yang menyulitkan dan menjadikan biaya logistik sangat mahal. Thailand yang memiliki kecantikan alam sama dengan Indonesia, terletak lebih dekat dari Eropa, Asia Timur, atau Timur Tengah…asal wisatawan mancanegara ke Asia Tenggara. Thailand berpenduduk yang lebih sedikit, hanya sepertiganya Indonesia.

Tapi sesungguhnya Indonesia berpeluang menyalip Thailand. Negeri itu terus menerus dilanda kekacauan politik sejak Thaksin dikudeta pada 2006. Sejak itu, perdana menteri berganti-ganti, yang diwarnai dengan kekerasan, penutupan bandara, hingga pengusiran delegasi Asean.

Negeri yang dikenal sebagai “Land of Smiles” ini kini mungkin tak bisa tersenyum selebar dulu. Diakui atau tidak, meski industri pariwisata tetap tumbuh, namun kepercayaan investor asing mulai pudar. Perlu disadari, bahwa hiruk pikuk politik Thailand, menurut saya, akan terus terjadi setelah kudeta Mei 2014.

Negeri ini, sejak 1930-an mengalami 20x kudeta, jadi ketika militer beralasan, kudeta (2014) untuk menjaga kestabilan, kita patut bertanya. Bisa jadi ini kebiasaan militer Thailand. Biasa mengkudeta.  Khusus kudeta kali ini, media internasional mulai memperingatkan kita semua akan munculnya “The Sick Man of Asia” yang baru, dan itu adalah Thailand. Bisa jadi.

Barangkali Thailand perlu berkaca pada Indonesia. Indonesia jauh lebih majemuk dari sisi sosial politik dan budaya. Militer-pun pernah sangat berkuasa dan sampai saat ini masih menjadi kekuatan berpengaruh dalam peta politik Indonesia

Namun, politik dalam negeri Indonesia cenderung lebih stabil. Dan anak-anak sekolah di Indonesia tak akan kerepotan untuk menghafalkan jumlah presiden Indonesia dibandingkan anak-anak di Thailand. Karena dalam kurun waktu 1945-2014 negeri yang bukan ‘land of smile’ ini baru memiliki 6 (menjelang 7) presiden saja. -*1

Inilah kesempatan Indonesia. Kalau belum bisa mendatangkan turis berpuluh juta ke Indonesia, setidaknya Indonesia memenangkan dengan mutlak perebutan kue investasi dari para investor yang mengalihkan modalnya dari Thailand ke Indonesia.

Inilah salah satu tugas sulit presiden baru 2014. Prabowo atau Jokowi, keduanya tak bisa mengelak dari takdir bahwa 2015, Indonesia akan menghadapi Asean Economic Community, era yang menantang ada di hadapan Indonesia. Inilah kesempatan dan momentum Indonesia yang tidak boleh lepas. Sama sekali tidak boleh lepas.

Kalau mau mengejar Malaysia, kalahkan dulu Thailand. Dan negeri itu kini tengah ‘lunglai’ karena politiknya.

——

-*1 “Lagu Lama Politik Thailand” oleh Heru Susetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita