logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Mengapa kita teriak ketika marah

Ketika bunda Teresa memandikan anak gelandangan ditepi sungai Gangga. Ia melihat ada keluarga yang sedang bertengkar, saling berteriak.

Ia berpaling ke murid2nya dan bertanya: “Kenapa orang suka saling berteriak kalau sedang marah?” Tanya bunda Teresa. Salah satu menjawab: “Karena kehilangan sabar, kita berteriak.”
“Tetapi, kenapa harus berteriak pada orang yang ada di sebelahmu? Kan, pesannya bisa juga sampai dengan cara halus?” tanya

Murid2 saling adu jawaban namun tidak ada satu yang mereka sepakati.
Akhirnya sang bunda bertutur: “Bila 2 orang bermarahan, hati mereka sangat menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar terdengar. Semakin marah, semakin keras teriakan karena jarak ke 2 hati pun semakin jauh.”

“Apa yang terjadi saat 2 insan jatuh cinta?” lanjutnya.
“Mereka tidak berteriak pada 1 sama lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati tidak ada atau sangat dekat.”

Setelah merenung ia teruskan. “Bila mereka makin saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara. Hanya berbisikan dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Akhirnya, mereka tidak perlu lagi berbisikan. Mereka cukup saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah 2 insan yang saling mengasihi.”

Bunda Teresa memandangi murid2nya dan mengingatkan dengan lembut: “Jika terjadi pertengkaran, jangan biarkan hati menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak lagi bisa ditempuh.”…   (Dr. Rudianto Lauw; https://www.facebook.com/permalink.php?id=1522311298020132&story_fbid=1655472541370673)

———-

 

Selanjutnya kami sajikan sajian psichologi lainnytya :

1- Kisah Sony Xperia dan Lenyapnya Gairah Seksualitas

2-Sudut pandang

3-Marah dan

===========

 

Kisah Sony Xperia dan Lenyapnya Gairah Seksualitas
Dunia bisnis yg sangat dinamis… Sukses masa lalu bukan jaminan sukses masa depan: Ini tulisan bagus tentang Jepang vs Korea.

Setelah Vaio, kini Sony merencanakan juga untuk menjual divisi Sony Xperia dan divisi televisi Bravia. Vaio, Xperia dan Bravia adalah deretan brand tangguh. Duka kepiluan terasa membayang menyaksikan kejatuhan brand legendaris dari Jepang ini.

Sampai kapan Sony mampu bertahan, sebelum maut menjemputnya untuk tidur dalam keabadian? Dan apa hubungan lenyapnya gairah seksualitas dengan drama kejatuhan tragis perusahaan Sony?

Rencana Sony untuk melepas divisi smartphone Sony Xperia dan televisi Bravia (setelah menjual Vaio beberapa bulan lalu) memang terasa amat perih. Hanya bisnis Playstation yang mungkin menyelamatkan mereka. But how long can Sony survive?

Salah satu opsi yang amat pahit untuk Sony mungkin adalah ini : membiarkan ikon kebanggaan Jepang ini dicaplok dan diakuisisi oleh Samsung.
Profit Samsung tahun lalu tembus Rp 250 triliun. Sony? Rugi 25 triliun. Betapa jauhnya perbedaan kinerja ini, bagaikan langit dan bumi.

Padahal 25 tahun lalu, petinggi Sony selalu tertawa sarkastis dan penuh hinaan setiap mendengar kata Samsung (dulu, saat Sony masih menjadi dewa dalam jagat elektronik dunia, dan Samsung hanyalah produsen kulkas dengan kualitas abal-abal).

Veteran pegawai Samsung berkisah, betapa sakit hatinya dulu, karena sering di-bully dan dianggap anak kere oleh manajer Sony (“Disitu kadang kami merasa sedih”, demikian pegawai Samsung itu bercerita).
Namun rasa sakit hati itu mungkin juga menjelma menjadi dendam membara. Hampir semua pegawai Samsung selalu punya tekad untuk menaklukkan dan menghancurkan Sony, suatu hari nanti.

Untuk mewujudkan tekad itu, CEO Samsung pada tahun 1995 merilis program perubahan besar-besaran (transfromasi masif) untuk meningkatkan mutu dan inovasi produk Samsung. Slogan yang mereka usung saat itu bunyinya heroik : change everyhthing except your wife. Ubah semuanya. Ubah semua proses bisnis, perilaku dan budaya kerja. Ubah semuanya kecuali istrimu. Demi Samsung yang lebih hebat.

Kalau slogan kalian mungkin kebalikan dari slogan samsung itu. Change your wife every two years.
Pada akhirnya, rasa sakit hati dan heroisme Samsung itu itu mendapatkan validasi. Kini revenue dan profit Samsung jauh diatas Sony. Profitnya bahkan triliunan kali lipat.

Tak terbayangkan, bahwa kini profit Samsung 250T dan Sony justru rugi 25T; dan Samsung siap mencaplok Sony. Banyak penduduk Jepang yang akan mrebes mili jika ikon kebanggaan mereka sampai dicaplok oleh “perusahaan abal-abal” dari sebuah negeri yang dulu pernah mereka jajah.

Pelajaran dari kisah Sony : Jangan pernah bersikap arogan dan menyepelekan calon rival. Sebab arogansi hanya membawamu menuju kematian. Arogansi akan perlahan membuatmu terpelanting dalam kesunyian. Samsung mungkin sebagian besar telah sukses menggilas Sony (yang dulu selalu menghinanya dengan ledekan penuh rasa jumawa).

Namun barangkali juga ada faktor lain yang lebih fundamental, dan ikut membuat Sony limbung.
Faktor itu adalah fakta bahwa negeri Jepang adalah negeri yang menua (aging nation). Studi demografis menulis, dalam 40 tahun ke depan penduduk Jepang akan berkurang 25%. Dan kemudian 90 tahun lagi, penduduk Jepang akan lenyap hingga 60%-nya.

Ya, bangsa Jepang pelan-pelan akan punah dalam makna yang sebenarnya. Kenapa penduduk Jepang pelan-pelan punah? Karena 90% perempuan muda Jepang enggan menikah dan punya anak. Ribet dan mahal. Mereka lebih suka menjadi Jomblo Forever.

Yang lebih pahit. Penduduk Jepang yang sudah menikah juga makin kehilangan gairah seksual dengan pasangannya. Data dari Japan Family Planning menyebut, lebih dari 50% pasangan Jepang melakukan hubungan seksual sebulan 1x. Banyak diantaranya yang hanya 3 bulan1x.

Kombinasi perempuan jomblo enggan menikah-punya anak, dan pasangan yang makin tidak bergairah secara seksual, membawa akibat fatal. Jumlah bayi baru yang lahir di Jepang kian merosot. Akibatnya; Penduduk Jepang lebih didominasi penduduk tua dan uzur. An aging nation. Negeri yang Menua.

Fenomena itu lazim juga disebut sebagai “demographic death spriral”. Negeri Jepang kian menua, dan pelan2 terjebak dalam spiral kematian menuju kepunahan. Implikasi dari “gejala negeri yang menua” ini bagi perusahaan bisnis? Sama. Perusahaan2 Jepang juga kian menua. Dalam arti, pegawainya akan lebih banyak didominasi orang2 tua (berusia 50 tahun keatas).

Bagi perusahaan seperti Sony yang bergerak di industri elektronik dan digital, fenomena itu bisa berarti petaka. Kenapa? Sebab dalam industri elektronika berbasis digital, dinamika kompetisi dan inovasinya bergerak dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat.

Sementara jika perusahaan lebih didominasi “pegawai tua yang senior”, acapkali iklim inovasi tidak bisa tumbuh dengan subur. Pegawai-pegawai yang senior (dan sudah karatan) acapkali lebih resisten dengan dengan perubahan. Pegawai yang senior juga sering punya ego tinggi, dan enggan bekerjasama dengan lainnya. “Sebab hey, gue kan sudah senior dan ratusan tahun kerja disini” ?

Negeri yang makin menua. Perusahaan dengan mayoritas pegawai yang kian uzur. Fakta ini yang boleh jadi merupakan salah satu faktor fundamental dibalik kejatuhan Sony.Tragisnya : fenomena penuaan alamiah itu dipicu oleh kian lenyapnya gairah seksual penduduk Jepang.

Tak terbayangkan, sebuah ikon legendaris Jepang yang dulu begitu digdaya jatuh hanya karena hal sepele. (Andre W-A68; http://strategimanajemen.net/2015/02/23/the-death-of-sony-antara-kehancuran-sony-xperia-dan-lenyapnya-gairah-seksualitas/)

———–

 

Sudut pandang
Seorang penulis terkenal duduk di ruang kerjanya. Dia mengambil pena & mulai menulis:
Tahun lalu saya harus dioperasi mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring lama di ranjang.
Di tahun yg sama saya berusia 60 tahun & harus keluar dari pekerjaan di perusahaan percetakan. Pekerjaan itu sudah saya tekuni selama 30 tahun & itu pekerjaan yg menyenangkan.

Di tahun yg sama saya ditinggalkan papa saya yg tercinta
Dan masih di tahun yg sama, anak saya gagal di ujian akhir kedokteran karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah bentuk kesialan lainnya di tahun itu.
Akhirnya dia menulis: Sungguh! Tahun yg sangat buruk

Istri sang penulis masuk ke ruangan & menjumpai suaminya yg sedang sedih & termenung. Dari belakang sang istri melihat tulisan sang suami. Per-lahan2 ia mundur & keluar dari ruangan.
Kurang lebih 15 menit dia masuk lagi & meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sebagai berikut:
Tahun lalu akhirnya saya berhasil menyingkirkan kantong empedu saya, yg selama ber-tahun2 membuat perut saya sakit.

Tahun lalu saya bersyukur bisa pensiun dg kondisi sehat walafiat. Sekarang saya bisa menggunakan waktu saya untuk menulis sesuatu dg lebih fokus & penuh kedamaian.  Pada tahun yg sama, ayah saya yg berusia 95 tahun meninggal dunia. Syukurlah beliau meninggal tanpa melewati kondisi kritis.

Dan masih di tahun yg sama, anak saya telah menempuh hidup baru. Mobil kami memang rusak berat akibat kecelakaan lalu lintas, tetapi anak saya selamat tanpa cacat sedikit pun.
Pada kalimat terakhir si istri menulis: Tahun itu tahun dg keberuntungan luar biasa, yg bisa kami lalui dg rasa takjub.

Sang penulis tersenyum & seketika mengalir rasa hangat di dadanya atas penafsiran positif sang istri dalam kehidupan keluarganya.

PESAN MORAL: Di dalan hidup ini rasa susah-senang, ternyata ditentukan dari sudut pandang kita.
“Be grateful for what you have and stop complaining. If you still complain, it bores everybody else and doesn’t solve any problems. Be positive”. (Andre W-A68; dari grup sebelah)

———–

 

Marah

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.
Bolehkah marah? Marah yg “belum berdosa” :
Saat kita marah, jangan sampai menimbulkan dosa lanjut seperti mengumpat, menyakiti hati org lain, apalagi menyakiti fisik.. Dan poin kedua, amarah itu tdk boleh “lama”..

Ada kondisi yg mewajarkan kita marah. Tapi kendali itu tetap ada pada kita. Apakah kita harus marah.. Melanjutkan marah kita ke dosa selanjutnya atau tidak. Dan sampai kpn kita mau mempertahankan kemarahan itu..

Marahlah untuk hal kebenaran. Dan marahlah yg benar dlm waktu yg benar : *tdk ada pengorbanan yg mudah, dan tdk ada pengorbanan yg sia2 (Andre W-A68; dari grup sebelah)

———-Guyon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita