logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Kisah Listrik Rakyat

pembangunan pltu(beritasatu.com)-Kendati hari listrik nasional (HLN) dirayakan 73 tahun, namun belum semua rakyat menikmati. Kini, rasio elektrifikasi nasional 97,15%. Ada 3% rasio elektrifikasi yang perlu dikejar.

 

“Artinya 7,5 juta masyarakat belum berlistrik,” kata Menteri ESDM Ignasius Jonan, saat membuka acara HLN ke-73 ; Power-Gen Asia 2018 di Indonesia Convention Exhibition BSD, Tangerang Selatan (18/9). Ini rangkaian HLN yang dirayakan tiap 27/10. Diperingati pertamakalinya (1946) di Gedung Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogya.

 

Listrik penting, jadi diharapkan ditemukan solusi menciptakan listrik terjangkau. “Pemerintah mendorong harga listrik makin terjangkau”. Itu sebabnya butuh percepatan pembangunan kelistrikan. Program ini dimulai sejak Pemerintahan SBY, yaitu Fast Track Program (FTP) 1 dan 2. Namun belum berhasil.

 

Program FTP itu dilanjutkan. Hingga Januari 2018, status program 10.000 MW sampai 6.424 MW, artinya 64.2% beroperasi. Sisanya dalam tahap konstruksi dan menemui kendala. Selain meneruskan FTP, Juga dicanangkan program proyek 35.000 MW (2015). Penyelesaian proyek ini mencapai 17.116 MW sampai Maret 2018. Selebihnya tahap tanda tangan kontrak serta tahap pengadaan dan tahap perencanaan.

 

Dirut PLN, Sofyan Basir menambahkan, kemajuan proyek 35.000 MW sudah 30%-40%. Dia perkirakan masa pembangunan PLTA perlu 5-6 tahun, panas bumi (PLTP) bisa 5-6 tahun, PLTU di atas 600 MW bisa 6 tahun, dan di bawah 600 MW mencapai 3 tahun, serta PLTG gas bisa 8 bulan sampai 1 tahun.

 

Bukti kemajuan pembangunan, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9, serta PLTU Jawa 10. Total kapasitas 4.000 MW yang diresmikan pada (5/10/2017). PLTU Jawa I di Cilacap sudah 37%. Percepatan pembangunan kelistrikan ini mengantisipasi kebutuhan yang terus meningkat. Kalkulasi PLN, konsumsi listrik naik dari 183.226 MW (2013) jadi 244.346 MW (2020), atau bertambah 61.000 MW.

 

“Jadi program itu keharusan,” kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka, kepada wartawan.

 

Melibatkan swasta

Dicanangkannya program 35.000 MW, diperintah Presiden melibatkan swasta dalam mengembangkan infrastruktur kelistrikan. Tujuannya, dengan swasta terlibat, lapangan kerja jadi besar sekali, industri lokal tumbuh. Maka multiplier effect tercipta banyak, pertumbuhan ekonomi jadi lebih tinggi.

 

Kkemampuan keuangan PLN tidak bisa menutup kebutuhan investasi. Dari total investasi Rp 120T per tahun, 50-60% dialihkan ke swasta, atau Rp 60-72T. Kemen-ESDM menerapkan tiga kebijakan utama. Pertama, dalam proyek 35.000 MW ini 25.000 MW dibangun oleh Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik swasta, PLN tinggal beli listrik dari IPP.

 

Kedua, PLN didorong menggandeng swasta lokal pelaksanaan program 35.000 MW di daerah2. Ketiga, infrastruktur ketenagalistrikan dalam program 35.000 MW didorong menggunakan produk lokal. Menurut Ketua Asosiasi Produsen Listik Swasta Indonesia (APLSI), Arthur Simatupang, kehadiran swasta  sejak Fast Track Program.

 

“Boleh dibilang keterlibatan IPP ini 10-15 tahunan” kata Arthur. “Waktu Presiden membuat rencana nasional membangun 35.000 MW itu jadi gong, kita langsung menyambut dengan baik.”

 

Program ini kepentingan nasional. “Artinya pengusaha merah putih (pengusaha lokal) berkepentingan di sini. Apalagi secara bisnis masuk akal, kuenya besar 35.000 MW,” katanya. Dalam implementasinya tetap ada kendala, pada perizinan. “Problem klasik pembangunan infrastruktur itu akuisisi lahan, ketika disurvei kadang tanah adat, belum lagi soal tumpang tindih dari sisi fungsi” katanya.

 

Ditunda

Di saat semangat membangun kelistrikan tumbuh di kalangan pengusaha, Menteri ESDM Ignasius Jonan menunda proyek pembangkit listrik kebanggaan ini. Berdasarkan data Kemen-ESDM, penundaan itu mencapai 4.600 MW. Pembangkit diundur pengoperasiannya hingga pasca 2019, paling lama 2024.

 

Jonan memberi dua alasan. Pertama, mengurangi pertumbuhan dan kecepatan impor barang ditengah tekanan nilai tukar rupiah. Kedua, terkait lambatnya pertumbuhan kebutuhan listrik. Meski APBN 2018 memproyeksikan pertumbuhan permintaan listrik tahun ini 8%, hingga kuartal II-2018 hanya 4%.

 

Padahal Dirut PLN (persero), Sofyan Basir, menyatakan 95% proyek infrastruktur ketenagalistrikan menggunakan produk rakitan dalam negeri. Hanya komponen mesin pembangkit listrik yang diimpor. Manajemen PLN menegaskan, proyek 35.000 MW tak berdampak negatif neraca transaksi berjalan.

 

Sofyan mengaku ada komponen pembangkit listrik yang diimpor, seperti mesin turbin. Sedangkan untuk boiler dengan daya kecil, berasal dari dalam negeri. Komponen lain memiliki kandungan dalam negeri (TKDN) tinggi.

 

Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto menambahkan, komponen infrastruktur asal  dalam negeri itu mulai dari gardu induk hingga jaringan transmisi. “Barang kita kalau yang gardu, transmisi itu 95% lokal”. (Nurlis E Meuko; Bahan dari : http://www.beritasatu.com/fokus/riwayat-listrik-rakyat)-FatchurR *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita