FUEL PUMP JEBOL-2
Lima temanku, masing-masing mobilnya tidak jebol fuel pumpnya. Maklum mereka sudah berkurang aktivitas karena sudah pensiun. Jadi mobilnya menter aja. Namun jika anda ingin mengenal lebih mendalam lanjutkan membacanya, tetapi pastikan anda sudah membaca : http://alumnimaterdei.com/iptek-yang-perlu/fuel-pump-jebol-1.html#more-2670
Sejumlah mobil mengalami kerusakan pompa bensin karena menggunakan bahan bakar Premium. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menduga adanya kesengajaan yang dilakukan PT. P atau pihak tertentu untuk menurunkan kualitas premium agar orang beralih ke pertamax.
Menurut Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, penurunan kualitas premium yang dilakukan pihak tertentu itu, akan berimbas terhadap mesin mobil karena saat ini saja kualitas BBM di tanah air masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan standar internasional.
“Dengan adanya temuan atau dugaan premium yang rendah itu mungkin disengaja oleh pihak tertentu agar orang beralih ke pertamax. Ini sangat logis kalau didekati dengan indikasi semacam itu. Tapi ini sangat licik,” ujar Tulus di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/7/2010).
Ia menduga penurunan kualitas BBM beroktan 88 itu bertujuan menekan penggunaan BBM bersubsidi. Saat ini pemerintah mencari cara untuk menekan penggunaan BBM bersubsidi, karena diperkirakan konsumsi BBM itu tahun ini akan membengkak menjadi 40,1 juta kiloliter, sementara kuota BBM itu dalam APBN-P 2010 dipatok di level 36,5 juta Kl.
“Jangan dengan cara seperti ini. Karena dari alasan apa pun BBM itu yang paling lazim digunakan adalah dengan pengendaliannya harga. Tanpa harga memang sulit melakukan itu,”. “Tapi kalau bermain dengan mengurangi kualitas dan segala macam justru pelanggaran terhadap UU perlindungan konsumen dan UU Migas” .
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Djaelani S saat ditemui usai menghadiri raker dengan Komisi VII DPR, di Senayan, Selasa (20/7/2010) memastikan kualitas premium yang dijual di SPBU milik BUMN Migas itu tidak mengalami perubahan. “Kualitas itu tidak berubah, Kalau saya merubah spesifikasi yang sudah ditetapkan Ditjen Migas, saya bisa digebuki orang,” ungkapnya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan masih menunggu hasil analisis para ATPM terkait maraknya fuel pump rusak. Hal itu diutarakan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto.
“Kita tunggu saja, biar masing-masing merek menyelidiki sendiri,” ujarnya kepada detikOto, Selasa (20/7/2010). Karena permasalahan komponen yang rusak, lanjutnya, bisa disebabkan karena banyak hal. Sehingga, tidak bisa langsung menyalahkan kualitas Premium. ”Bisa saja tankinya kotor, atau mengisinya di SPBU mana, atau memang dari mobilnya sendiri. Ya, banyak hal lah,” paparnya.
Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) selaku wadah pengusaha SPBU rekanan PT Pertamina (Persero) menduga adanya black campaign dari kompetitor Pertamina
“Jangan-jangan ini black campaign dari kompetitor Pertamina dengan cara-cara yang tidak sehat,” ujar Ketua Umum DPP Hiswana Migas, Eri Purnomohadi saat dihubungi di Jakarta, Selasa (20/7/2010).
Eri menduga para pesaing itu ingin mengambil jatah BBM bersubsidi yang selama ini disalurkan oleh PT Pertamina (Persero). Apalagi saat ini, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tengah membuka tender distributor BBM bersubsidi jatah tahun 2011.
“Mereka mau ambil jatah BBM bersubsidi. Mereka harusnya tahu bahwa menyalurkan BBM bersubsidi tidak hanya untuk mencari keuntungan, tapi ada tanggung jawab sosial di sana,” jelas Eri.
Ia juga menjamin spesifikasi premium dan solar yang disalurkan Pertamina melalui SPBU-SPBU-nya, karena seluruh BBM yang dijual sudah melalui quality control sesuai dengan prosedur yang ditetapkan Ditjen Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).
“Untuk BBM itu kan dari kilang pengolahan ke depot, Pertamina selalu mengadakan sampling untuk mengecek kualitasnya. Begitu pun premium dan solar yang dibawa dari depot ke SPBU itu juga selalu disampling.
BBM yang dijual di SPBU, setiap pagi sebelum dijual, Pertamina tetap memeriksa kualitasnya agar sesuai dengan spefikasi yang ditetapkan,” paparnya. Untuk itu, para pengguna premium dan solar tidak bisa menyalahkan kerusakan fuel pump karena mutu premium dan solar yang digunakan.
“Jangan begitu saja menyalahkan kualitas BBM-nya. Fuel pump itu kan tidak bisa langsung rusak begitu saja, ada prosesnya. Bisa saja kualitas fuel pump-nya yang bermasalah,” tambahnya.
PT Pertamina menyarankan agar mobil yang diproduksi tahun 2007 ke atas harus menggunakan Pertamax agar mesin tidak rusak. Premium hanya cocok digunakan untuk mobil yang diproduksi tahun 2005 ke bawah.
Hal itu disampaikan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Djaelani S saat ditemui usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/7/2010).
“Mutu Premium memang sampai segitu. Mobil 2005 masih aman, tapi mobil 2007 ke atas, kecil atau besar Itu kompresinya sudah tinggi sehingga dia harus menggunakan Pertamax. Ini suara Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), bukan suara saya,” ujar Djaelani.
Lagipula, dalam buku petunjuk penggunaan mobil yang diproduksi 2007 tahun ke atas, para pemiliknya disarankan menggunakan BBM beroktan 92 karena sudah sesuai dengan spesifikasi mesinnya.
“Sudah diproduksi dengan kompresi tinggi. Coba lihat di buku manualnya itu kan sudah menggunakan RON 92. Kalau mesin ngelitik itu menunjukkan kalau oktannya tidak cukup. Kalau BMW pakai itu, masak tidak berani beli BBM mahal,” tanyanya. Jadi jangan gampang menuduh tanpa alasan yang kuat. (Harry Soedjono; bahan dari epi / ddn; Nurseffi Dwi Wahyuni dan Bagja Pratama detikOto)







Jl. kedungsari 117-119 Surabaya
Telp. (62-31) 5312215-5353183-4
Fax. (62-31) 5312636
Buletin Media Alumni bag. 1, 

