logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Desa sehat di Malang

Desa sehat di Malang“Bu, istri saya sudah ngerasa,” kata suami Maria Ulfa pada Jumaiyah (45), Agustus lalu. Bergegas Jumaiyah menyiapkan kendaraan untuk mengangkut Maria Ulfa, tetangga yang akan melahirkan. Jumaiyah, Ketua RW 003 Kel-Ardirejo, Kec-Kepanjen, Kab-Malang, Jatim, mengantar tetangganya ke rumah bidan desa hingga menunggu proses persalinan selesai.

Jumaiyah adalah satu dari belasan ribu kader kesehatan di Kabupaten Malang. Setidaknya ada 3.441 kader di bawah BKKBN dan 15.000 kader kesehatan di bawah Dinkeskab Malang. Kader bertugas mendeteksi kasus kesehatan di desa mereka serta mendeteksi ibu hamil dan perempuan usia subur bersuami.

Sistem Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat (Sutera Mas) ini di setiap rukun tetangga di Kabupaten Malang memiliki seorang kader. Mereka rata-rata adalah kader posyandu atau Pembinaan Kesejahteraan Keluarga.

Kader bertugas melaporkan temuan penyakit menular dan tidak menular, mendata ibu hamil, serta mendata wanita subur bersuami di wilayahnya kepada tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan akan datang ke rumah warga yang melapor. Jika kasus yang dilaporkan benar, bidan desa akan mengirim laporan ke server milik Pemerintah Kabupaten Malang, baik melalui SMS maupun situs web.

Sistem Sutera Mas dipadukan dengan sistem Contraceptive for Women at Risk (Contra War) atau program keluarga berencana (KB) untuk perempuan berisiko tinggi. Perempuan berisiko tinggi diminta mengikuti KB dahulu sebelum hamil. Kader Sutera Mas dan Contra War sama.

Selama ini, kematian ibu di Kabupaten Malang sebanyak 80 persen disebabkan penyakit bawaan sebelum hamil, seperti TBC dan jantung. Itu sebabnya, untuk mencegah kematian ibu hamil karena penyakit, butuh penanganan kesehatan si ibu terlebih dahulu sebelum hamil.

“Perempuan berisiko tinggi diminta ber-KB. Selama ber-KB, penyakit diobati. Setelah sembuh atau stabil, si ibu boleh melepas KB dan hamil. Itu agar ibu selamat dan bayi lahir sehat,” tutur Hadi Puspita, inisiator Sutera Mas yang kini menjabat Kepala BKKBN Kab-Malang. Ia juga yang kini menggagas sistem Contra War.

Puskesmas Kepanjen
Sistem Sutera Mas awalnya milik Puskesmas Kepanjen, yang dibuat pada 2004. Saat itu, petugas puskesmas mencatat setiap kasus yang terjadi di wilayahnya dan membuat grafik secara manual, lalu dibandingkan dengan data sebelumnya.

Sutera Mas dikerjakan Hadi Puspita bersama dua mitranya, Sri Lesmono Hadi, Kepala Bagian Tata Usaha Puskesmas Kepanjen; dan Riyanto, pegawai negeri sipil di Puskesmas Kepanjen. Mereka meminta bantuan seorang ahli teknologi informasi (TI) untuk merancang program tersebut.

Tahun 2009, sistem dibuat berbasis TI dengan nama SMS gateway. Saat itu, puskesmas mendapat dana dari Badan Perencanaan Pembangunan Jawa Timur Rp 300 juta. Sistem diperbaiki dari waktu ke waktu.

Dengan sistem SMS gateway, tim reaksi cepat harus tiba di lapangan paling lama 15 menit sejak menerima SMS peringatan kejadian luar biasa jika lokasi kasus dekat. Jika lokasi jauh, korban harus dibawa ke RS paling lama satu jam agar kasus bisa ditangani dengan cepat dan pasien selamat.

Intinya, masyarakat harus mau mendeteksi kasus di sekitarnya dan melaporkan secepat mungkin kepada tenaga kesehatan. “Jika terus bergantung pada data kesehatan bulanan atau tahunan, kapan Indonesia bisa sehat,” ujar Sri Lesmono Hadi.

Kunci keberhasilan sistem adalah sukses menggerakkan kader. Perhatian terhadap kader berbentuk nonmateri merupakan kunci utama. Perhatian nonmateri penting karena perhatian berbentuk materi hanya berupa insentif Rp 10.000 per bulan untuk kader KB. Uang itu akan diputar untuk arisan kader.

Setiap bulan, ada acara temu kader sebagai ajang berbagi pengalaman dan penyegaran kemampuan kader. Saat itulah Hadi hadir untuk mendekatkan diri dengan kader dan membagi ilmu kesehatan. Menurut Hadi, kader ingin disapa, diperhatikan, dan mendapatkan penyegaran pengetahuan.

Sistem penanganan kesehatan tidak berhenti di Sutera Mas dan Contra War. Program ditambah dengan sistem kesehatan daerah berbasis desa. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Abdurrachman, setiap desa memiliki bidan dan perawat.

“Ambulans” desa disiapkan dengan menggilir kendaraan milik warga, yang bisa siap setiap hari selama seminggu. Tenaga kesehatan desa pun diwajibkan berkunjung ke rumah pasien yang tidak mampu menjangkau layanan kesehatan. Semua puskesmas beroperasi 24 jam.

Dengan seluruh sistem penanganan kesehatan ibu dan masyarakat, Kabupaten Malang merasakan dampak positifnya. Tahun 2013, angka kematian ibu masih berjumlah 32 kasus. Tahun 2014, kematian ibu menurun menjadi 27 kasus dan tahun 2015 menjadi 24 kasus.

Tiga tahun ber-turut2 puskesmas2 : Puskesmas Gedangan, Pujon, Dau, dan Kasembon, sama sekali tidak memiliki kasus kematian ibu dan anak. Upaya Pemerintah Kabupaten Malang menangani kesehatan ibu patut diacungi jempol karena tidak mudah untuk menekan angka kematian ibu.

 

Sistem pemantauan kesehatan ala Kabupaten Malang dapat menjadi potret gerakan mewujudkan Indonesia sehat berbasis masyarakat. (Dahlia Irawati; Lusia Kus Anna; Harian Kompas dan http://health.kompas.com/read/2015/09/16/141900423/Indonesia.Sehat.ala.Desa.di.Malang)-FatchurR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita