logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Berhentilah Politisasi Olok2 soal Tol

keindahan tol salatiga(m.mediaindonesia.com)-SETIAP kali melakukan perjalanan ke luar kota, saya kagum dan harus berterima kasih pada pemerintah, siapa pun presidennya, dari Soeharto hingga Jokowi. Sederhana saya kagum dan mengapresiasi ke pemerintah (siapa pun presidennya).

 

Mengelola pemerintahan negara yang dihuni 250 juta orang tidak mudah. Tiap orang punya kepentingan dan selera berbeda, apalagi jika dilatarbelakangi pandangan politik yang berbeda pula. Suatu kali saya naik KA Jakarta – Semarang pp. Mengatur jadwal keberangkatan KA itu tidak mudah. Namun, faktanya, KA beroperasi tepat waktu. Kondisi gerbong juga bagus.

 

Saya bayangkan dunia perkeretaapian berikut masalahnya dikelola PT KAI. KAI berada di bawah Dephub (sekarang Kemenhub). Karena saat itu yang menjadi kepala pemerintahan adalah Presiden SBY, maka saya bayangkan sosoknya yang tinggi besar dan murah senyum sedang memimpin rapat kabinet.

 

Saya berkesimpulan SBY pasti bekerja mengatur ini lewat para pembantunya. Saya bersyukur tinggal di Indonesia yang punya pemimpin melayani rakyat. Saya selalu berusaha berpikir positif. Saat saya mudik berkendaraan pribadi — waktu itu jalan bebas hambatan (tol) tidak sebanyak dan sepanjang sekarang –, saya kagum pada pemerintah mulai dari Soeharto sampai SBY.

 

Mengapa saya kagum dan mengapresiasi pemerintah? Sederhana saja, sebab saya leluasa membeli BBM di mana dan kapan pun. Persediaan BBM di SPBU cukup, padahal menyiapkan cadangan BBM termasuk pendistribusiannya, apalagi di saat musim mudik Lebaran, tidak mudah.

 

Saat itu, karena yang jadi presiden itu SBY, maka lagi2 saya bayangkan wajah SBY dan menerawangkan Kemen-ESDM dan Pertamina. Dalam hati saya berucap: “Terima kasih SBY, terima kasih pemerintah, terima kasih Pertamina karena pelayanan kalian, perjalanan mudik kami lancar.”

 

Saat ini yang bertugas sebagai pelayan rakyat dan menjabat presiden, Jokowi. Jika saya menemukan fakta2 menyenangkan berkait pelayanan pemerintahan, saya pasti membayangkan Jokowi sibuk kerja dan tak peduli cibiran segelintir orang yang tidak ingin ia menjabat lagi sebagai presiden (2019-2024).

 

Saat istri tidak mengeluh memasak lontong opor dan rendang menjelang Lebaran karena harga kebutuhan pokok tidak naik, maka saya bayangkan Mendag Enggartiasto Lukita, dan wajah Jokowi yang “ndeso” namun sangat islami itu. Belum lama berselang, saya ke Bandara Soekarno-Hatta mau ke Jambi memanfaatkan kereta bandara. Bak orang kampung baru ke kota, saya ter-kagum2 dengan kereta itu.

 

Kereta buatan bangsa sendiri itu mewah, bersih, sejuk dan wangi. Stasiun transit di Sudirman City (Jkt) dan Batuceper (Tangerang) dibuat modern dan Indah. Setibanya di Bandara, saya lebih kagum, sebab semua fasilitas mewah dan nyaman. Petugas dengan ramah bertanya pada penumpang yang norak seperti saya: “Bapak mau ke terminal berapa?”

 

Begitu saya jawab, petugas berkata: “Silakan Bapak tunggu sky train di sana.”

Di kawasan Tangerang, kereta melintas di atas perkampungan. Saya duga, sebelum proyek kereta bandara rampung, pasti banyak bangunan warga dan tergusur. Pemerintah (Kemenhub) tidak mudah mengelola proses ganti rugi rumah2 warga yang tergusur.

 

Bahwa proyek kereta bandara ini rampung tentu berkat kepiawaian pemerintahan di bawah Jokowi. Sebelumnya proyek ini ter-katung2 tak jelas kapan rampung. Rupanya pemerintahan Jokowi bijak dan cerdas mengelola masalah. Di Stasiun Batuceper, saya lihat ada prasasti ditandatangani Jokowi dengan latar nama2 warga Tangerang yang rela rumah dan tanahnya tergusur proyek kereta bandara.

 

Melihat itu, saya bayangkan sosok Jokowi yang sederhana namun cerdas, amanah dan bertakwa. Saya bayangkan ia terus berupaya jadi hamba Allah layaknya matahari yang memberikan sinar dan terang kepada rakyatnya tanpa pernah mem-beda2kan yang mencintai dan membencinya.

 

Hari itu (Senin, 11/6/18), keponakan dan kakak saya dan cucu2nya pergi dari Semarang ke Malang ber-mobil. Mereka melintasi tol yang dibangun gencar oleh Kemen-PUPR. Keponakan lewat grup WA kirim foto2 perjalanan termasuk situasi terkini di tol yang dilewati. Saya bercanda dan menulis kata2 seperti diramaikan netizen : “Jika kamu nggak suka Jokowi, jangan lewat tol, tapi lewat got saja.”

 

Pembangunan infrastruktur, antara lain tol, itu luar biasa. Ruas tol tumbuh cepat. Sebagai perbandingan, supaya tidak salah data, izinkan saya mengutip yang ditulis editorial Media Indonesia (11/6).

 

Pemerintahan Soeharto, begitu editorial MI, terbangun 490 km tol. Di era Habibie yang singkat, terbangun 7,2 km tol. Di masa Gus Dur dilanjutkan Megawati Soekarnoputri, beroperasi sekitar 40 km tol. Selama pemerintahan Presiden SBY, terealisasi 212 km tol.

 

Di era Presiden Jokowi, hingga akhir 2017, kita dapat tambahan 568 km tol. Itu artinya, panjang tol yang dibangun di masanya yang baru 3 tahun jauh melampaui panjang tol yang dibangun 32 tahun pemerintahan Soeharto atau 2 periode pemerintahan SBY.

 

Ironisnya, di tahun politik ini, prestasi di bidang infrastruktur itu dipolitisasi dan dijadikan olok2. Politisasi dan olok2 soal tol itu makin santer terdengar ketika musim mudik Lebaran. Spanduk bertuliskan ‘Tol Jokowi’ terpampang di ruas tol baru yang dibangun pemerintah.

 

Tak mau kalah, kelompok yang tidak suka dengan prestasi itu membalas kira2 seperti ini: “Jalan ini bukan milik Jokowi, tapi milik rakyat dan dibangun dengan uang rakyat. Kami lewat jalan ini juga bayar!” Dalam suasana mudik ini sebaiknya kita setop olok2 soal tol. Sebab, seperti ditegaskan KStaf Kepresidenan (KSP), tol yang dibangun untuk semua tanpa melihat perbedaan pandangan politik.

 

Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP, Eko Sulistyo Eko mengatakan, pembangunan infrastruktur, termasuk fasilitas jalan oleh Presiden Jokowi bukan untuk kelompok tertentu. “Semua lapisan bisa menggunakan fasilitas yang disediakan negara.”

 

Jadi, ayo para pendukung #2019 Tetap Jokowi setop atau sudahi olok2 ke kaum #2019 Ganti Jokowi, seperti “yang tidak suka Jokowi jangan lewat tol, tapi silakan lewat got saja.”

Mari kita ubah olok2 itu dengan sapaan ramah seperti ketika kita berada di pesawat terbang yang akan tinggal landas dan pramugarinya yang cantik jelita itu berkata :

 

“Para pemudik yang kami hormati. Selamat datang di tol milik kita bersama. Saat ini pengguna tol  berada di km nol dari arah Jakarta menuju Surabaya. Perjalanan akan kita tempuh dalam 9 jam, lebih cepat 5 jam dari waktu biasanya sebelum ruas tol ini selesai dibangun.

 

Demi keselamatan kita bersama, kami persilakan pengguna tol tetap mengenakan sabuk pengaman selama perjalanan dan tak melanggar peraturan lalin seperti menyalip kendaraan lain dari bahu jalan. Bahu jalan hanya untuk situasi darurat. Petugas kami siap membantu pengguna tol saat kendaraan bapak dan ibu mengalami gangguan.

 

Sepanjang jalur tol ini dilengkapi rest area yang dapat dimanfaatkan beristirahat, mengisi BBM  kendaraan, makan dan minum. Kami tidak perkenankan pengemudi melanjutkan perjalanan di ruas tol ini jika masih mengantuk karena dapat membahayakan keselamatan kita dan pengguna jalan lainnya.

 

Akhirnya kami awak petugas tol mengucapkan selamat menikmati perjalanan dan semoga selamat sampai di tujuan dan selamat berjumpa kembali dalam perjalanan berikutnya.”

 

Betapa indahnya mudik Lebaran kali ini jika kita menyetop debat (maaf) “tolol” soal tol sambil terus berharap agar pemerintahan terus dan serius bekerja, bekerja dan bekerja demi rakyat. (*Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta Bahan dari :   http://m.mediaindonesia.com/read/detail/165746-setop-politisasi-dan-olok-olok-tolol-soal-tol)-FatchurR *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita