JANGAN LARUT
Seorang anak kecil menangis keras. “Mengapa kamu menangis?” tanya ibunya. “Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang,” jawab anak itu.
“Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya,” kata sang ibu sambil menyodorkan uang seribu.
Anak itu menerima dengan gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. “Lo, mengapa kamu malah menangis lagi?” tanya ibunya pula.
“Kalau uang dari Ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu.”
Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan sikap kita dalam keseharian. Kita kadang kala kerap lebih berfokus pada apa yang hilang dan mengabaikan apa yang ada.
Kita begitu sedih karena sesuatu yang “diambil” dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk mensyukuri sesuatu yang “diberikan” kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada yang sudah ada. Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam kesedihan, kita lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani.
Hidup tidak surut kebelakang, maka jalani dengan menatap kedepan. (Andre Wahjudibroto)







Jl. kedungsari 117-119 Surabaya
Telp. (62-31) 5312215-5353183-4
Fax. (62-31) 5312636
Buletin Media Alumni bag. 1, 

