Story dari Peneleh

PenelehSabtu pagi aku berniat mencoba Bakcang Peneleh yang katanya terenak se-Surabaya. Niat dadakan ini berawal saat temanku Thomas mengajakku ke TKP. Berhubung aku ngidam Bakcang sudah bulanan tanpa basa basi aku langsung say yes. Dan meluncurlah kami menuju Jalan Peneleh.

 

Kami lalui Jl. Makam Peneleh (terdapat makam Belanda). Makam ini kata masyarakat, merupakan makam tertua di Jatim. Didirikan 1814, luasnya 5,4 HA. Makam ini eksotika arsitekturnya bergaya Eropa kuno. Seertinya saat ini luasnya sudah menyusut.

 

Makam ini mirip puing rongsokan oleh sebab itu sejak 2000 Pemerintah setempat menyatakan kawasan ini sebagai Cagar Budaya. Makam ini ber nama resmi De Begraafplaats Peneleh Soerabaia ini terdiri dari beberapa makam warga kolonial Belanda, yang salah satu di antaranya adalah makam Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin, yang merupakan pendiri cikal bakal SMA Santa Maria di Surabaya.

 

Makam PenelehSelain itu, terdapat pula makam Gubernur Jenderal Pieter Markus, salah satu pejabat tertinggi Hindia Belanda yang meninggal pada saat menjabat. Makam ini andai dirawat pastinya sangatlah indah, bagai makam-makam di Eropa dengan patung malaikat yang tinggi menjulang.

 

Sayangnya sejak 2014 ini kita tidak bisa sembarangan masuk, kita harus mendapat surat izin dari Dinas Pertamanan Surabaya selaku penanggung jawab perawatannya. Setelah surat izin didapat kita baru akan dibukakan pintu gerbang makam.Mungkin sumday aku akan buat tulisan tentang makam ini.

 

Sekitar makam, kumuh lantaran diapit pasar lalu seperti pool bus walau hanya beberapa dan juga ada bak sampah yang mengganggu. Sampailah di jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Peneleh. tepat di depan Kali Mas. Di sini ada jembatan besi yang nampak biasa saja berwarna orange namun warga menyebutnya merah yang ternyata jembatan antik.

 

Dari Jalan Makam Peneleh bila ke kiri (ke arah jembatan) kita akan bertemu Gang VII Nomor 29 dan 31 (dua rumah dijadikan satu), rumah tua yang dibangun 1870. Penting ya bahas rumah itu? Ya iyalah, itukan rumah milik Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam yang akrab disapa Pak Tjokro. Rumah sederhana berukuran 36 di depan Kali Mas ini. Pada berhasil menjadikan SI organisasi massa terbesar. Berdasar sejarah, SI beranggotakan satu juta orang dari penjuru negeri.

 

Istri Pak Tjokro, Soeharsikin, dikenal sebagai ibu kos yang tegas. Anak-anak kos harus bangun pukul 04.00, salat subuh, dan masuk rumah paling lambat pukul 22.00. Soekarno muda sempat tinggal di sana dan harus membayar uang kos 12,5 gulden. Jumlah ini dinaikkan ketika ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, diangkat menjadi guru sekolah di Blitar.

 

Karena bekalnya pas-pasan, Soekarno sering lapar. Namun, dia tak bisa bicara banyak dengan Bu Tjokro yang sangat sibuk itu. Adapun Pak Tjokro lebih sibuk lagi sebagai pemimpin SI dan Dewan Rakyat. Untung, ada Mbok Tambeng, pembantu rumah tangga keluarga Pak Tjokro, yang sering memberi jajan dan makanan kecil kepada Soekarno.

 

Sebenarnya, Bung Karno tidak kebetulan ngenger di rumah Pak Tjokro, tokoh politik paling top masa itu. Sebab, awalnya keluarga Bung Karno sempat tinggal di Pendean VI. Kampung lawas yang jaraknya hanya 500-an meter dari Peneleh VII.

 

Bung Karno lahir di kampung itu. Ayah Bung Karno, Raden Soekemi, dan Pak Tjokro teman seperjuangan yang akrab. Maka, ketika Soekemi pindah kerja ke Mojokerto, sementara Bung Karno harus sekolah di HBS Surabaya, Soekemi memilih menitipkan Bung Karno ke Pak Tjokro.

 

Nah di seberangnya ada Toko Buku Peneleh yang sangat legendaris. Bangunannya didirikan kisaran tahun  1800. Konon, dulunya, toko buku ini merupakan percetakan sekaligus tempat untuk memajang buku tentang Islam.

 

Pada awal mulanya toko buku ini bersifat netral, artinya menjual banyak buku berbagai judul. Pada mulanya, toko buku Peneleh ini banyak yang menyebutkan sebagai perpustakaan karena pada zaman dahulu banyak para pengunjung membaca di tempat ini tanpa membeli.

 

Di dalam toko buku ini terdapat buku yang paling lama ada berkisar tahun 1980-an. Jarang ada yang mengetahui letak toko buku ini. Padahal toko buku ini menyimpan banyak sejarah. Bangunan toko buku ini adalah salah satu cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

 

Balik ke Jalan Makam peneleh, kalau kita belok ke kanan maka kita akan bertemu Bakcang Peneleh. Pemiliknya Oei Kung Giok. Hampir semua pecinta kuliner tahu tempat ini, rasanya lezat dan mumpung lagi ngidam Bakcang so aku datang ke sini.

 

Dari depan sepi bingit, seperti rumah biasa yang di samping kiri ada seperti toko namun tutup. Aku dan Thomas mikir, “Sabtu libur kali yee?” dan tiba-tiba muncul laki laki berusia 30 namun cacat C (mental) dia bilang “Bakcang masuk” dan itu diulang puluhan kali.

 

Lha aku ora mudeng, iki maksute opo lha wong sepi nyenyet. Tapi orang tadi gigih bicara “Bakcang masuk”, dan dengan ragu kita masuk ke halaman. Ini sepertinya keluarga kaya, rumah Kolonial nan megah berasal dari masa 1800an nampak kokoh namun tidak terawat. Sebagai pencinta sesuatu yang antik, dengkulku lemes. Banyak bingit furniture keren dari masa 1800an mulai kursi hingga lemari.

 

Dari teras ada sebuah pintu dengan bel sensor dipasang di atasnya, rupanya agar saat ada orang lewat dia akan berbunyi, mirip di toko-toko. Jadi kalo kalian ke sini nggak usah bingung, dari luar emang bukan toko dan sangat sepi, langsung masuk aja coz pagarnya terbuka lalu melintasi taman dan akan terlihat teras dengan lantai tahu era Kolonial.

 

Di situ ada pintu terbuka langsung masuk, tentunya bel akan berbunyi otomatis. Di dalam ada ruangan panjang terus aja jalan (Ini sepertinya ruang keluarga atau ruang makan) dan tiba di bagian belakang. Di sanalah bergelantungan Bakcang yang siap dibeli dan disantap.

 

Pemesanan pada musim pecun ini memang meningkat drastis. Kalau hari biasa hanya 400 bungkus, saat ini melejit hingga 6.000 bungkus. Naik 1.400 persen! Panen besar untuk Bu Giok dan dua anaknya yang menekuni usaha ini sejak 20 tahun silam.

 

Bakcang PenelehDalam satu hari industri rumahan ini mampu menghabiskan beras ketan sebanyak 20-25 kilogram dan menghasilkan 400 bacang siap bungkus. Oh iya Bu Giok juga terima pesanan Nasi Kuning, Nasi Kotak, Nasi Goreng, Soun Goreng, Pastel Tutup, Nasi Campur, Kue Cang.

 

Banyaknya order ini juga tak lepas dari perubahan kebiasaan di kalangan masyarakat Tionghoa. Kalau dulu bacang dibuat di rumah, masak sendiri, cukup belanja ketan, daging, bumbu, dan bahan-bahan lain, sekarang orang lebih suka membeli bacang yang sudah jadi.

 

Sebab, proses memasak bacang yang makan tempo lima sampai enam jam, dengan api kompor atawa panas yang stabil, memang cukup merepotkan. Keluarga ini sangat ramah, dengan cekatan mereka melayani kami. Pilihan kami Bakcang Ayam Biasa dengan harga satuan IDR 18.000.

 

ada juga Bakcang Vegetarian (By Order), Bakcang Babi Biasa, Bakcang Ayam Spesial (Ada tambahan telur, sosis dsb), Bakcang Babi Spesial dsb. Yang spesial dihargai IDR 27.000 dan Vegetarian sekitar IDR 13.000. Bakcang merupakan nama asing dari nama-nama makanan di sekitar kita, karena sudah dikenalnya, sering kali kita tidak mempertanyakan apa makna dari nama itu.

 

Kita tidak asing dengan nama bala-bala (karena komposisinya macam2 dan terlihat sembrawut/bala), cilok (aci dicolok), cireng (aci digoreng), gehu (toge dalam tahu), batagor (baso tahu goreng), dan lain-lainnya, karena memang nama-nama makanan itu kebanyakan adalah singkatan dari bahasa kita Nah Bakcang apaan? Bakso Kacang? Hmm aja ngawur kuwe! Nah ini ada sedikit kisah nyang aku ambil dari beberapa artikel.

 

Bacang adalah makanan dari dataran Cina, tepatnya dari negeri Chou (atau Zhou), nama asli “Ba Cang”. Dan Bacang erat kaitannya dengan sejarah kerajaan Chou, yakni sejarah antara mentri Khut Gwan (Wikipedia Indonesia dan artikel-artikel lain menyebutnya Qu Yuan) dengan sang rajanya.

 

Mentri Khut Gwan merupakan mentri yang suka menasehati rajanya, namun sering kali nasihatnya diabaikan raja. Bahkan suatu saat Khut Gwan difitnah yang menyebabkan dipecat dari kedudukan mentrinya. Peristiwa pemecatan dan pengabaian nasihatnya kemungkinan besar menjadi faktor utama dirinya menjadi frustasi.

 

Mentri Khut Gwan bunuh diri dengan menjatukan diri ke sungai (Konon nama sungainya adalah Miluo) sambil memeluk batu besar yang mengakibatkan dirinya tenggelam dan meninggal. Raja Chou menginsafi kekeliruannya dan menyesal. Dia kemudian menyuruh orang-orang untuk mencari mayatnya.

 

Namun usaha yang dilakukan gagal. Mayat Khut Gwan tidak ditemukan. Penyesalan sang raja Chou mendorongnya melakukan ritual permohonan maaf dengan menghanyutkan makanan ke sungai tempat Khut Gwan menceburkan diri.

 

Namun makanan itu setiap kali baru dihanyutkan langsung habis dimakan ikan. Namun pada suatu malam, konon roh Khut Gwan datang dalam mimpi dan berpesan agar makanan itu dibungkus dengan daun anjuang dan daun bambu.

 

Makanan dari beras ketan isi daging babi dan dibungkus daun bambu ini kemudian diberi nama Ba Cang Sementara makanan tawar yang terbuat dari tepung ketan dan dibungkus dinamainya dengan Kwe Cang. Dua makanan ini dilemparkan ke sungai. Kejadian ini menjadi upacara adat yang terus dilakukan dalam setiap perayaan pesta air orang Tionghoa.

 

Balik ke Bakcang Peneleh. Rasanya enak, terutama di-isiannya yang padat dan berbumbu meresap. Seperti dimasak kecap namun tidak manis menyengat. Di mana-mana yang namanya bacang itu bahan dasarnya beras ketan. Tapi, menurut Bu Giok, beberapa pelanggan dari Jakarta malah senang memesan bacang dari beras biasa.

 

Bu Giok, yang suaminya sudah meninggal dunia ini, pun melayani dengan senang hati. Bacang pakai beras ini jadinya seperti lontong di pasaran. Dan mungkin aku ini termasuk aliran orang Jakarta yang lebih suka Bakcang dari beras biasa bukan ketan. Bagiku Bakcang bahan beras lebih yummy dan itu belom kesampaian sampe notes ini diturunkan. Ini penampakan Bakcang beras biasa (nasi) yang masih menghantuiku.

 

Seperti industri rumahan umumnya, Bakcang Peneleh ini pun mula-mula dirintis sebagai usaha kecil-kecilan oleh Bu Lena (Sekarang 86 tahun), mamanya Oei Kung Giok. Setiap kali pecun, banyak orang memesan bacang sama Bu Lena. Nah bagi aku yang lebih suka Bakcang Nasi so kehadiranku di kediaman Keluarga Giok ini belum mengobati rasa mupeng bayangin Bakcang.

 

Di seputar Peneleh banyak kisah masa lampau yang patut dikenang, belum lagi soal kuliner yang sepertinya juga wajib dicoba. Selain Bakcang, ada Cakwe dan Bikang. Pengelolanya  warga keturunan Tionghoa dan pastinya sudah turun temurun.

 

Bagi peminat Bakcang Peneleh, ini bisa dikirim ke semua kota bahkan ke Belanda. Menurut Keluarga Giok dijamin tahan sampai tujuan. Caranya nelpon langsung lalu transfer dan dia kirim ke tujuan, INGAT tidak ada minimal order, semua dilayani.  Kalau mau datang langsung ada di Jl Peneleh nomer 92 Surabaya. (Andre Wahjudibroto; http://baltyra.com/2014/11/25/the-story-of-peneleh/comment-page-1/)

One Response to Story dari Peneleh

  • GoHwieKhing King Gaudi D50-A60 says:

    Tulisan mengenai Jalan atau Kampung Peneleh ini, melihat foto Makam Peneleh, saya jadi nelongso malu melihat Papan Petunjuknya yang jelek murahan tidak terawat, tembok sekeliling sejak saya sering liwat sampai sekarang juga tidak terawat. Dulu makan Pengarang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya di Kapas Krampung Surabaya malah bersebelahan dengan tumpukan sampah berikut gerobak sampahnya. Walikota Bu RISMA musti peka pada kondisi pertamanan makam ini.

    Tulisan ini diawali cerita tentang siapa tokoh pejuang yang pernah tinggal di Peneleh ini. Saya ingin tambahkan, selain Bung KARNO, H.O.S TJOKROAMINOTO. Cak ROESLAN ABDULGANI yang Menteri Luar Negeri dan Juru Bicara Revolusi jaman Bung KARNO serta Pak DUL ARNOWO juga dibesarkan di Peneleh.

    Bakcanya, pasti saya kunjungi kalau pulang nanti. Selama di LA kalau bukan bikinan sendiri, beli, tetapi rasa kurang cocok.
    Dulu di Probolinggo kalau musim Pek Cun, sembahyangan kelaut dirumah saya menyediakan bakcang, yang bikin Bok NAH Pengasuh saya yangsudah mahir bikin bakcang ini. Bikinnya banyak sekali karena memang untuk siapa saja yang mampir, dikirim ketangga dan para sobat. Dua keluarga yang juga bikin bakcang enak adalah Tante SIE THJOEN KHING, bikinnya gede baget, isinya super banyak dan paling lezat. Lalu Tante NONIK, Ibunya FREDDY YAP sama enaknya. Kadi kalau musim bakcang, kami sepedahan keluyuran berkunjung, perlunya untuk menikmati bikinan para Beliau ini. Belum jaman bakcang dijual sehari hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita