logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Peranakan Tionghoa

pembauran anak chinaTak semua peranakan Tionghoa semakmur Liem Sioe Liong. Di masa tuanya, Encek (paman) Ek Ceng  mencangkul kebun yang ia tanami singkong, pepaya, kacang, serta buah2an untuk menghidupi keluarga. Hingga kedamaiannya terusik oleh pembangunan perumahan buat orang-orang gedongan.

 

Hari-hari Ek Ceng sebagai petani pun berlalu. Sebagian tetangga Ek Ceng pindah ke udik dan bertani di pedalaman. Sebagian lainnya mencoba berdagang di kota, namun menjumpai peruntungan mereka bukan di situ. “Kita semua turun-temurun jadi petani. Tidak punya keahlian untuk berdagang atau hidup di kota,” tutur Yap Cun The, petani (60) yang tersudut hingga di Nalagati, dusun di Kab-Tangerang.

 

Perbauran hidup antara orang2 kerap disebut Cina Benteng-suku Betawi-Banten-maupun Sunda berlangsung akrab. Hidup mereka cair tanpa sekat berkat gambang kromong, tari cokek, kawin campur, hingga kue keranjang untuk perayaan Imlek. Lenong Betawi-barongsai-wayang potehi kerap tampil bersama merayakan acara tahunan yang digelar di kelenteng.

 

Jejak peleburan peranakan Tionghoa ke kultur setempat, terasa pula di Bali, bahkan sejak akhir tahun 1200-an. Ditandai perkawinan Raja Jaya Pangus-Kang Tjin We. Kenangan pasangan ini diukir dalam sepasang barong landung: lelaki berkulit hitam bermata lebar dan perempuan berkulit putih bermata sipit. Hingga kini, karakter pasangan ini dihormati oleh warga peranakan maupun Bali.

 

Lewat sketsa pendeknya dalam buku Peranakan Tionghoa di Nusantara (2012), Iwan Santosa mengisahkan kehidupan peranakan Tionghoa. Kisah perihal kesukaran ekonomi, ketersingkiran dari ‘kemajuan zaman’, ketertinggalan dalam pendidikan yang mereka alami.

 

Sama persis seperti yang dirasakan suku lain. Sketsa ini bicara betapa peranakan Tionghoa itu bukanlah komunitas tunggal dengan stereotip yang diembuskan Orde Baru: antisosial, gila uang, dan tidak peduli lingkungan. Buku ini menampik stereotip seperti itu.

 

Pembauran yang berlangsung alamiah terjadi sebelum rezim Orde Baru menggaungkan gagasan serupa, yang dalam praktiknya dibingkai kepentingan politik yang sanggup membangkitkan prasangka dan mudah menyulut prahara. Di dalamnya terpateri jejak kolonial yang membagi masyarakat ke kelas2 : Eropa, Asia (termasuk Arab dan Tionghoa), dan pribumi.

 

Iwan menyusuri tempat-tempat yang menjadi bukti bahwa peranakan Tionghoa bukanlah warga yang datang ke negeri ini kemarin sore.Seperti direkam oleh Iwan, di Kampung Pekojan, di sisi kawasan Glodok, Jakarta Barat, orang Tionghoa asli kampung ini memiliki tradisi bersalaman ala Muslim.

 

Di kampung ini, orang Tionghoa-Arab-Melayu bersaudara sejak zaman dulu. Asimilasi, pembauran, peleburan, berjalan tanpa dipaksakan dan tanpa aroma politik sedikitpun. Sebagai kumpulan sketsa, tumpang tindih dan pengulangan cerita masih terjumpai dalam buku ini.

 

Namun ini tak mengurangi kualitas pesan dari Iwan bahwa kohesivitas di masyarakat akar rumput demikian kuat dan berlangsung lama. Jejaknya melekat dalam wayang potehi yang dimainkan dalang arek Suroboyo, masjid Lautze bergaya arsitektur paduan Cina-Arab, novel Bunga Roos dari Tjikembang (1927) yang ditulis sastrawan Kwee Tek Hoay, dan historis mereka dalam perjuangan kemerdekaan.

 

Catatan perjalanan Iwan ini, dengan desain sampul yang “sangat Indonesia”, mengingatkan pada pengalaman masa kecil saya ketika kepentingan politik berusaha memporakporandakan kohesivitas itu selepas peristiwa berdarah 1965.

 

Tapi bagi anak SD di kecamatan tepi Sungai Brantas, Jatim, upaya itu tak mampu menghancurkan persahabatan anak Jawa dengan peranakan Tionghoa. Kami tetap bermain bola, menirukan kungfu ala Bruce Lee, membuat lampion bersama untuk merayakan Imlek, dan berbagi es lilin.

 

Sayangnya, untuk waktu yang lama pembauran alamiah itu tercemar oleh stigma negatif yang diembuskan rezim penguasa. (Andre Wajudibroto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita