logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical
Komentar baru

Penamaan bilangan dan petuah usia Jawa

petuah jawa kunoMencermati urutan bilangan, terutama dalam bahasa Jawa, akan menimbulkan pertanyaan tentang nama bilangan yang menyimpang (berbeda) dari pola yang ada. Penyimpangan tersebut terjadi pada beberapa angka sampai angka 60. Ya, sampai angka 60, tidak jauh-jauh dari capaian usia manusia Jawa.

 

Sepertinya penyimpangan tersebut ditujukan untuk mengingatkan usia manusia. Coba kita lihat. Pertama angka 11-19 tidak disebut sepuluh siji, sepuluh loro, …, sepuluh songo; melainkan sewelas, rolas,…, songolas. Disini sepuluhan diganti welasan.

 

Artinya pada usia 11-19 adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) terutama kepada lawan jenis. Masa akil balik. Masa remaja. Dalam banyak bahasa bilangan 11-19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Dalam bahasa Inggris disebut dengan teen, sehingga remaja pada usia tersebut disebut teenagers.

 

Selanjutnya bilangan 21-29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada. Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua,…, dua puluh sembilan.

 

Dalam bahasa jawa tidak diberi nama rongpuluh siji, rongpuluh loro, dst; melainkan selikur, rolikur, …, songo likur. Di sini terdapat satuan LIKUR yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi.

 

Pada usia 21-29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya. Namun demikian ada penyimpangan di atas penyimpangan tadi.

 

Bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe. SELAWE singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok. Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebutlah pada umumnya orang menikah (dadi manten). Mungkin tidak tepat pada usia 25, tapi diantara 21-29 lah yang pas.

 

Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah. Bilangan selanjutnya sesuai dengan pola: telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst. Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50.

 

Setelah sepuluh, rongpuluh, telung puluh, patang puluh, mestinya limang puluh. Tapi 50 namanya menjadi seket. Pasti ada sesuatu di sini. SEKET dapat dipanjangkan menjadi SEneng KEthonan, suka memakai kethu/tutup kepala/topi/kopiah.

 

Tanda Usia semakin lanjut, tutup kepala bisa utk nutup botak, atau rambut yg memutih. Di sisi lain bisa juga  Kopiah atau tutup kepala melambangkan orang yang beribadah. Pada usia 50 mestinya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya.

 

Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat. Dan kemudian masih ada satu bilangan lagi, yaitu 60, yang namanya menyimpang dari pola, bukan enem puluh melainkan sewidak atau suwidak.

 

SEWIDAK dapat dipanjangkan menjadi SEjatine WIs wayahe tinDAK. Artinya: sesungguhnya sudah saatnya pergi. Maka kalau usia kita sudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus. (Ary Gang Pen-P65; https://panseradventure.wordpress.com/2015/06/20/penyimpangan-pola-penamaan-bilangan-usia-petuah-jawa/)

One Response to Penamaan bilangan dan petuah usia Jawa

  • GoHwieKhing King Gaudi says:

    Itulah hebatnya budaya leluhur kita.
    Salah satu yang saya syukuri adalah menangi jaman dimana Kakek Nenek bias hidup serumah dengan Ortu saya. Kamipun menikmati cerita dongeng mereka akan leluhur kami yang pelarian politik dari Tiongkok. Gagal menjatuhkan dynasty Qing tahun 1864 dan selanjutnya, Kakek Buyut iuber uber intel Dinasty Qing. Tahun 1870 an2 perahu minggat ke Nusantara. Sembunyi di Puger Pantai Selatan Jember. Ganti nama keluarga ada yang pakai nama keluarga GO, ada yang KWEE ada yang LIE. Makam pun tidak boleh dipasangi nisan apalagi di Bongpay. Toh para Beliau tidak lupa berterima kasih pada KWEE SING ONG yang didewakan saat pelarian mendapat badai di Laut China Selatan. Mereka berdoa mohon Kongco KWEE SING ONG minta TUHAN menyelamatkan mereka. Jadi bukan langsung minta pada TUHAN. Ini tradisi orang Tionghoa untuk minta
    bantuan orang yang bisa mensukseskan permintaannya. Bukan langsung minta kepada TUHAN sendiri. Jadi bukan memuja Berhala! ! ! Bahkan boleh dibilang memperalat orang yang punya hubungan baik dengan TUHAN lah, biar lebih ada kepastian dikabulkan.
    Maka KakekBuyut ikut menyumbang mendirikan Kelenteng Probolinggo dan menaruh patung KWEE SING ONG dipavilyun Kelenteng. Menuruti pesan leluhur, sampai sekarang kami masih menghormati Kelenteng ini, meski sudah menganut berbagai agama.

    Budaya Jawa dan legenda kuno Jawa serta kisah perjuangan Kemerdekaan, selalu diceritakan kepada kami. Kamipun selalu diperkenalkan kepada beberapa tokoh Nasional yang berkunjung kerumah berhormat taklzim kepada Kakek.

    Bahkan menurut Kakak saya GO HWIE LIANG salah satu tamu yang sering kerumah adalah Pahlawan Pemberontakan PETA SOEPRIjADI yang dinyatakan hilang itu. Yang saya tau dulu GO HWIE LIANG pernah merengek minta tidur bersama pedang samurai Beliau saat bermalam dirumah. Besoknya tidak mau mengembalikan. Setelah kami dewasa bari diberitau siapa sebenarnya yang selalu kami sebut Oom Klampok ini. Dialah Pahlawan SOEPRIJADI kata Kakek.

    Jaman sekarang, kasihan banyak Anak Cucu tidak lagi sempat diajari dan menjalankan adat istiadat oleh Ortu atau Kakek Nenek mereka. Jadi The Lost Generation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita