logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical

Cintai taman kota ramah anak

Meski kondisi perekonomian global lesu, ragam destinasi wisata tak pernah sepi pengunjung. Dunia pariwisata disebut memberi kontribusi terbesar kedua terhadap perekonomian dunia. Demikian halnya di Indonesia, kinerja sektor pariwisata justru naik, di saat kinerja sektor lainnya melambat.

 

Hemat saya, salah satu destinasi wisata keluarga yang murah dan nyaman, adalah taman kota. Jika destinasi wisata ramah publik ini dikembangkan, tak mustahil wisatawan mancanegara (wisman) pun tergoda menyinggahinya. Apalagi bagi warga sekitar, yang membutuhkan wahana rekreasi keluarga yang murah, aman, dan nyaman.

 

Alun-alun kota misalnya, dapat disulap menjadi sebuah taman indah ramah anak. Namun sayang, terkadang kita pandai membangunnya, namun tak pandai merawat dan melayani pengunjung. Selain komitmen pemerintah, partisipasi warga akan kotanya sangatlah dinantikan.

 

Untuk itu, saya hendak sharing pengalaman, saat mengunjungi pesona dua taman kota ramah anak. Pertama, Taman Kota Malang yang dulunya adalah Alun-alun Merdeka Malang. Setelah direvitalisasi dengan anggaran sekitar Rp 5,9 milyar, hasilnya luar biasa. Di dalamnya, ada salah satu wahana Beautiful Malang, playground tempat bermain anak-anak yang dapat diakses secara free.

 

Kedua, alun-alun Kota Batu yang indah. Di kedua lokasi tersebut, saya pernah jumpai beberapa wisman sedang menikmati suasana taman. Di akhir tulisan, saya hendak memberikan masukan, yang barangkali berguna bagi keberlanjutan pelayanan taman yang ramah anak.

 

Pesona Alun-alun Merdeka, Taman Kota Malang

Saya bersama isteri dan anak-anak kami, sengaja melihat dari dekat Taman Kota Malang, yang sebelum dipugar dikenal sebagai Alun-alun Merdeka. Taman itu telah diresmikan sejak 17 Juni 2015 lalu.

Keren…! Taman Kota itu direvitalisasi dengan anggaran sebesar Rp 5,9 miliar.

 

Pemkot Malang cukup kreatif, sumber dananya diperoleh dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) BRI, sehingga tidak harus menguras kocek APBD Pemkot. Hal menggambarkan, pembangunan kota tanpa partisipasi dari warga dan dunia usaha sulit berkembang.

 

Setelah wajah lama “Alun-alun Merdeka” Malang dipermak (face off), alun2 itu jadi Taman Kota Malang nan cantik dan berkesan luas. Dulu alun2 merdeka itu dipagari, sehingga sulit dijamah warga. Setelah pagar pembatas dipugar, seolah taman menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Pemugaran pagar pembatas melambangkan keterbukaan, seolah Pemkot dengan warganya tidak ada jarak lagi.

 

Terbentang jalan lebar sekitar 15 meter menuju taman. Di kiri kanan berjajar kursi-kursi duduk yang nyaman, tampak warga dari berbagai latar belakang sedang duduk-duduk sambil membaca. Ada pula yang duduk-duduk sambil mengusap-usap layar gadget.

 

Sebagian yang lain tampak asyik berfoto ria di sekitar taman. Pasangan keluarga muda juga terlihat asyik sedang mendorong anaknya dengan kereta bayi. Para pengunjung remaja tampak tersenyum sambil berfoto selfie, groovy, atau apapun namanya, hehe… asyik.

 

Saat saya mengitari taman, anak kami melihat taman bermain, playground bertuliskan Beautiful Malang. Dengan serta merta dia segera minta berhenti. Horee…! dia berlari girang memasuki area play ground, taman bermain anak yang bersih dan nyaman. Kami menyaksikan sekumpulan anak-anak bergantian sambil tertawa girang bermain plorotan di arena Beautiful Malang. Tampak anak-anak lain sedang asyik bermain ayunan dan ragam jenis permainan lainnya.

 

Taman bermain anak itu diawasi oleh penjaga khusus, yang bertugas mendampingi anak-anak agar tidak saling berebutan, aman dan nyaman selama bermain. Sementara para orang tuanya menunggui di pinggir area.

 

Bahkan disediakan ruang laktasi, ruang khusus bagi ibu-ibu agar nyaman ketika bayinya membutuhkan air Susu Ibu (ASI). Tidak elok kan, jika ibu-ibu sedang meneteki bayinya di tempat umum? Hehe….  Ramah anak bukan? Eit… ramah ibu juga kan?

 

Bagi anak-anak yang kehilangan tempat bermain sepeda karena lahan kota semakin sempit dan kurang aman, disediakan ruang bermain sepeda. Asyik…! Setidaknya di hari libur akhir pekan, anak-anak dapat memanfaatkan secara bebas tempat bermain itu, sekaligus sebagai wahana sosialisasi. Ruang publik taman kota yang ramah, memungkinkan perkembangan fisik dan psikis anak-anak dapat tumbuh sesuai fitrahnya, bebas tanpa tekanan.

 

Meskipun hari Jumat, tampak banyak pengunjung di hari itu. Bahkan saya sempat bertemu dan meminta izin mengambil gambar dua wisman yang wajahnya jelas bertampang Asia. Saya berjanji padanya, foto itu akan saya kirimkan sebagai kenang-kenangan untuknya.

 

Setelah saya ambil gambarnya, dia memberikan alamat email pada saya. Dia tersenyum dan menunjukkan jempol jarinya. Thank You!. Benar, setelah saya kirimkan foto-foto itu melalui email, dia membalasnya.

 

Namun saya kerepotan membaca huruf2 China, entah itu huruf Kanji, Hiragana atau Katagana. Maka saya baca aja yang bahasa Inggris. Dia dengan ramah membalasnya demikian: “Hi, Thank  you  for  your  photos.  My name is Liu, and I work in Machung University. I’m a Chinese teacher. Welcome  to  my  university”.

 

Menarik bukan, ternyata taman tidak saja tempat rekreasi, tetapi juga bisa menjadi sarana sosialisasi, sharing and connecting seperti motto Kompasiana. Tidak saja tamu Asia, dua wisman asal Eropa pun saya lihat sedang asyik mengitari taman.

 

Tampak dua wisman itu sedang berhenti sejenak di jogging area, sambil membaca peta dan berdikusi dengan pasangannya. Hemm… ternyata, jika taman dibangun dengan konsep yang ramah untuk semua, bisa mengundang wisman tuh. Kini tinggal bagaimana merawatnya dengan baik, pasca dibangun.

 

Sebagai bahan bandingan, saya pernah beberapa bulan sebelumnya mengitari Taman Wisata Kota Batu. Taman itu dulunya juga alun-alun Kota Batu, yang lokasinya tepat di depan masjid jamik kota Batu. Sebelum dipugar, taman itu layaknya gambaran alun-alun pada umumnya. Namun setelah dipugar, pesonanya tak kalah indah dengan Taman Kota Malang, Alun-alun Merdeka yang baru dibangun itu.

 

Satu pelajaran menarik di alun-alun Kota Batu, adalah soal pelayanan taman bagian dalam. Di dalam taman yang bersih dan indah itu, ada beberapa penjaga khusus yang selalu memberi peringatan. Setiap pengunjung dihimbau untuk tidak merokok di dalam taman, membuang sampah tidak pada tempatnya, dan seterusnya.

 

Tidak saja diingatkan, tapi disediakan tempat sampah khusus dan mudah dijangkau, sehingga tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan. Disediakan pula smoking area agak jauh, letaknya di luar taman. Tempat ini khusus buat mereka yang nggak tahan dengan kebutuhan khususnya itu, hehe…

 

Unik, di luar taman alun-alun Kota Batu banyak penjaja makanan, tempat-tempat kuliner yang aduhai. Disebut unik, karena saya sempat mengalami ada pengamen jalanan yang meminta-meminta di tempat-tempat kuliner di luar taman.

 

Terutama saat menjelang sore hingga malam. Namun di dalam area taman, benar-benar bersih dari PKL, pengamen, dan mungkin dari pencopet. Benar-benar aman dan nyaman. Itulah uniknya. Dua dunia yang cukup kontras.

 

Anak saya yang masih berusia Balita, merasakan nyaman bermain di taman bermain anak, di salah sudut taman kota Batu, gratis lagi. Namun untuk wahana lainnya, seperti “roda berputar” yang digerakkan oleh mesin itu masih harus membayar karcis. Anak saya kebetulan paling suka bermain di tempat yang tanpa karcis itu, ramah dan nyaman. Alasnya berbahan kuat dan aman bagi anak.

 

Untuk menjaga kebersihan bermain di taman anak ini, sandal dan sepatu harus dilepaskan. Sementara orang tua atau keluarganya menunggui di pinggir area bermain, yang tempatnya menyatu dengan wahana itu. Jadi, anak masih merasa dekat dengan orang tuanya.

 

Masukan untuk Pengelola Taman-Taman Kota

Secara keseluruhan, pembangunan wahana Taman Kota Malang maupun Kota Batu sudah cukup baik. Namun ada beberapa hal yang perlu dilengkapi, dikembangkan atau dirawat, antara lain:

 

Pertama, perlu dikembangkan wahana bermain untuk anak-anak difabel, atau anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam konsepnya, saya lihat taman Kota Malang sudah mengapresiasi kebutuhan itu, namun saat saya berkunjung di sana, belum terlihat anak-anak difabel bermain-main seperti layaknya anak-anak lainnya.

 

Sementara di Batu, belum ada wahana yang menyediakan tempat bermain untuk mereka yang tergolong berkebutuhan khusus. Di masa depan, kiranya hal itu perlu dipertimbangkan.

 

Kedua, bila memungkinkan, “Taman Bacaan Anak” keliling selalu tersedia di Taman Kota Malang, setidaknya pada jam dan hari-hari tertentu yang menarik minat anak membaca dan jadwalnya pasti.

 

Misalnya setiap Jumat – Minggu sore. Bila perlu, anak-anak dimotivasi dengan pertunjukan ramah anak, seperti kegiatan mendongeng, mewarna, fotografi, dan lain sebagainya.

 

Ketiga, sebagian area rerumputan di Taman Kota Malang mulai terlihat mengering, apalagi di saat musim kemarau. Mungkin karena diinjak pengunjung atau kurang penyiraman. Pagar terbuka, setelah direvitalisasi, memang ada konsekwensinya.

 

Area taman menjadi terbuka, yang memungkinkan rerumputan terinjak. Maka, di tahun-tahun awal pemanfaatan taman, selain perlu papan peringatan, mungkin dipandang perlu ada petugas/media khusus yang mengingatkannya.

 

Seperti halnya di Taman Kota Batu, ada alat pelantang suara ramah publik yang secara perodik megingatkan para pengunjung untuk ramah terhadap taman. Jika sudah membudaya, maka peringatan melalui speaker bisa dihilangkan.

 

Keempat, penataan lahan parkir. Penataan lahan parkir di Taman Kota Malang, tampaknya perlu diperbaiki. Di Kota Malang, lahan parkir relatif menyempit, tidak seluas sebelumnya. Hal ini sebagai akibat dari perluasan area taman.

 

Sementara para pengunjung dilarang parkir di dalam area taman. Efek positifnya, area dalam taman menjadi bersih, indah dan luas. Namun, pendapatan petugas taman kian mengecil karena terbatasnya lahan parkir.

 

Pengalaman saya saat pergi ke Taman Kota Malang, bahkan saya tidak diberi karcis parkir, meskipun saya membayar uang Rp 4.000 untuk parkir mobil. Menurut petugas parkir waktu itu, jika memakai sepeda motor dikenakan beaya parkir Rp 2.000.

 

Hemat saya, perlu ada perhatian khusus terhadap masalah ini. Misalnya, ada petugas khusus perawat rumput, bunga-bunga, dan aneka flora-fauna dalam jumlah dan gaji yang memadai. Tak kalah pentingnya, ada petugas pelayanan khusus dalam taman yang melayani pengunjung.

 

Sementara kekurangan lahan parkir, bisa dicarikan di tempat lain, yang memungkinkan para pengunjung tertarik mendatanginya. Misalnya, di tempat parkir baru, disediakan tempat-tempat wisata kuliner, apparel, dan lain sebagainya. Berikan space dan peluang yang bernilai sosial dan ekonomi buat mereka.

 

Intinya, taman kota lebih dari sekedar ikon kota atau tempat rekreasi. Taman kota merupakan ruang publik yang ramah untuk semua. Ramah secara sosial, lingkungan dan ekonomi. Untuk itu, komitmen pemerintah daerah, partisipasi dunia usaha dan warga memiliki peranaan penting bagi  terwujudnya pembangunan kota yang inklusif. Cintai Taman kota yang ramah anak!. (Yunus; http://www.kompasiana.com/m_yunus/cintai-taman-kota-ramah-anak-undang-wisman-asean_561a146d359373d8068b4568)-FatchurR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita