logo-FIFGROUP-vertical logo-FIFASTRA-vertical logo-SPEKTRA-vertical
Komentar baru

Pelajar Indonesia sabet 5 emas di Karate dunia

Pelajar Indonesia kembali mengukir prestasi internasional dalam bidang olahraga dengan meraih lima medali emas, tiga perak dan satu perunggu pada turnamen karate internasional Banzai Cup Open di Jerman.

Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad menjelaskan untuk jenjang SMA emas diraih Juanda Risman asal SMA 9 Banda Aceh yang menang di kata perorangan putra dan Sharon V Ririhena pada kumite perorangan putri asal SMA Kartika XIII-1 Ambon.

Medali perak diraih Krisda Putri Aprilia di kategori kata perorangan putri asal SMA 1 Makassar dan Dimas M Rifqi yang meraih perunggu di kumite perorangan putra asal SMA 6 Surabaya.

“Tingginya semangat dan motivasi bertanding yang tinggi menjadi faktor penentu keberhasilan pelajar kita. Kami bangga mereka tetap percaya diri walau ada tantangan berat dari tim negara lain,” kata Hamid Muhammad usai Coffee Morning di Kemendikbud, Kamis (15/10).

Tim karate Indonesia di jenjang SD juga mempersembahkan lima medali. Tiga emas diraih antara lain Lala Diah Pitaloka dari SD 1 Welagati Jawa Barat meraih emas di kata perorangan putri U-12 dan juga Gibran Atthariq dari SD 066 Pekkabata Polewalimandar dan I Putu Agus Mahardika Putra dari SD 2 Padangsambian Bali.

Adapun dua medali perak juga diraih Indira Maureen Reva Wibowo dari SD Plus Rahmat Kediri di kata perorangan putri U-12 dan Fadillah Akbar dari SD 11 Pagi Lobangbuaya Jakarta di kategori kumite individual U-12.

Menurut Hamid yang turut menyambut kedatangan tim karate di Bandara Soetta, bersama Direktur Pembinaan SMA ,Purwadi menyatakan prestasi atlet karate SD maupun SMA telah mengharumkan bangsa di kancah internasional.

Prestasi ini membuktikan atlet karate SD Indonesia pun mampu bersaing dengan atlet luar negeri. Ia berjanji peraih medali ini akan mendapat hadiah uang serta difasilitasi menempuh pendidikan.

Sukses ini juga membuktikan keyakinan Purwadi , akan kemampuan tim Indonesia. “Saya yakin anak-anak akan mempertahankan tradisi medali emas,” kata Purwadi.

Tim pembina karate, Alex Firngadi mengatakan pengalaman dan pelatihan motorik para karatekawan di tingkat nasional merupakan ide dari Kasubdit Peserta Didik dan Kelembagaan Direktorat SMA, Suharlan.

Sementara itu, peraih emas Sharon V Ririhena mengungkapkan mereka mengikuti latihan selama 22 hari di Jakarta. Menurutnya, latihan lebih keras dan intensif dibandingkan saat latihan di daerah. “Kami dilatih fisik, tehnik dan mental. Kelemahan kami diasah selama pelatnas. Kecepatan dan kekuatan kami semakin baik,” ujarnya.

Lala Diah Pitaloka menambahkan saingan terberat kompetisi karateka Jerman namun selama kompetisi dia selalu mengingat pesan ayahanda untuk tetap fokus dan percaya diri.

“Awalnya saya cemas karena mereka berbadan besar namun pesan ayahku saya harus tetap tenang dan fokus. Aku juga berdoa sebelum bertanding,” cetusnya.

?Lala mengaku mengenal karate sejak umur tujuh tahun. Hingga kini dia sudah mengkoleksi 26 medali. Ia bercita cita ngin menjadi atlet karateka untuk masa depan. Dan ia berharap dapat mengikuti kompetisi Sea Games.

Ia juga ingin di masa depan ada atlet karateka dari Indonesia yang juga mendunia.

Pembina dari PB Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Yoyo Satrio menambahkan kejuaraan karate Banzai Cup Open Internasional diselenggarakan pada 10-11 Oktober. Kompetisi ini merupakan kejuaraan reguler yang diselenggarakan di Sporthalle Charlottenburg, Berlin, Jerman dan dikelola World Karate Federation (WKF-Sportdata). Kejuaraan ini diikuti 1500 peserta dari 33 negara mulai dari usia 12 tahun hingga diatas 17 tahun.(Q-1; http://mediaindonesia.com/misore/read/3976/Pelajar-Indonesia-Ukir-Prestasi-Sabet-5-Emas-di-Kejuaraan-Karate-Dunia/2015/10/15)-FatchurR

———–

 

Biar makin lengkap ikuti artikel lainnya :

  1. Anak poetani bikin Mesin pengirit BBM- juara Nasional
  2. Suroboyo one village one product

—————

 

Anak petani bikin Mesin pengirit BBM- juara Nasional

BANDA ACEH, KOMPAS.com – Dia berusia remaja, tapi tubuhnya terlihat bergetar. Matanya ber-kaca2.Di sebuah pengeras suara bervolume kuat, namanya terdengar menggema. Untuk area seluas lapangan sepak bola berkapasitas penonton sekita 40.000 orang ini, sebutan namanya cukup jelas terdengar.

Tri Waluyo! Sebut si pembawa acara. Sebuah panggung ukuran besar menyambut langkah kakinya yang tadi terlihat kaku dan gemetar. Tak lama kemudian ia pun menerima hadiah piala ukuran setengah tinggi badannya.

Tri waluyo baru saja menerima penghargaan tertinggi di indonesia, sebagai seorang penemu mesin pengirit bahan bakar jenis bensin untuk kendaraan roda empat pada kompetisi gelar karya Teknologi Tepat Guna (TTG).

 

Hadiah diterimanya langsung dari tangan Mendagri Tjahjo Kumolo di arena Pekan Inovasi Perkembangan (PIN) desa/kelurahan dan Gelar Karya Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Nasional XVII yang berlangsung di Banda Aceh, 7-12 oktober 2015.

Anak petani asal Takengon, Aceh Tengah, ini bahkan tak pernah membayangkan buah dari rasa resahnya terhadap kondisi masyarakat di kampungnya itu bisa memberikan asa yang manis.

“Ide ini bermula dari rasa resah yang saya rasakan sendiri akan kehidupan ekonomi kami di Takengon yang sungguh terjepit pasca-bencana gempa tahun 2012 lalu,” kenang Tri saat membuka pembicaraan dengan Kompas.com, Sabtu (10/10/2015).

Berawal dari keprihatinan
Saat itu, kenang dia, semua sendi kehidupan rusak akibat gempa, lalu ditambah lagi harga bahan bakar minyak yang tak stabil tapi terus naik ini sangat menyulitkan bagi kehidupan masyarakat Takengon, Kabupaten Aceh Tengah yang mayoritas adalah petani.

Terus melambungnya harga bahan bakar minyak membuat masyarakat terjepit dalam situasi ekonomi yang sulit, biaya transportasi pun melambung tinggi akibat dari harga bahan bakar yang melangit.

“Saat itu saya berpikir menurunkan harga BBM tidak mungkin, tapi jika saja kita bisa mengirit bahan bakar ini akan lebih baik, dan kemudian kami pun mencari banyak referensi untuk menciptakan alat yang bisa mengiritkan penggunaan bahan bakar,” ujar remaja kelahiran 5 September 1997 ini.

Kabupaten Aceh Tengah merupakan daerah dataran tinggi di Provinsi Aceh. Kontur daerah perbukitan membuat kendaraan roda empat menjadi sarana transportasi penting bagi para petani untuk mengangkut hasil kebun mereka.

Bersama seorang rekannya bernama Eky Yolanda, kedua siswa asal SMK Negeri 2 Takengon, Aceh Tengah, ini akhirnya berhasil menciptakan sebuah mesin pengirit bahan bakar yang digunakan pada kendaraan roda empat.

 

Mesin tersebut adalah tabung irit bbm yang dinamakan Pemrit. Ini merupakan tabung penghemat bahan bakar bensin dengan sistem penguapan bahan bakar dalam pipa dengan cara pemanasan menggunakan fluida cair atau cairan pendingin mobil.

Kerja keras Tri Waluyo dan Eky Yolanda ini mendapat dukungan dari Bidang Teknologi Tepat Guna (TTG) Badan Pemberdayaan Masyarakat-Pemerintahan Kampung (BPM-PK) Kabupaten Aceh Tengah. Akhirnya para siswa ini pun menghasilkan rekayasa teknologi yang berguna bagi masyarakat.

“Kami pernah nyaris putus asa ketika tak menemukan gas analyzer untuk mengukur kadar emisi, namun dengan bantuan dari BPM-PK akhirnya kami bisa menemukan alat tersebut di sebuah SMK di Aanda Aceh dan kami pun meminjam pakai alat tersebut, sehingga hasilnya mesin yang kami hasilkan ini memiliki kadar emisi yang normal,” ujarnya.

Hasil kerja keras Tri Waluyo ini tak sia-sia. Dalam kesempatan kompetisi karya teknologi tepat guna, siswa SMK 2 Takengon ini didapuk sebagai penemu TTG terbaik di Indonesia dan menduduki peringkat satu di tingkat nasional.

“Ini sebuah berkah pastinya bagi kami, dan ini adalah sumbangsih kami untuk daerah dan tanah air,” jelas remaja anak dari pasangan Ahmadi dan almarhumah Muayah ini.

Sementara sang ayah, Ahmadi, mengaku tak pernah tahu apa yang dilakukan putra ketiganya ini saat di sekolah yang menyebabkan dia selalu pulang malam. Ahmadi mengaku baru mengetahui prestasi sang anak saat dinyatakan sebagai juara tingkat nasional.

“Saya tak pernah menyangka dia bisa mengerjakan semua ini, saya sungguh terharu, kami sangat bangga dan bersyukur,” kata Ahmadi terbata-bata.

Incaran warga Aceh
Sementara itu, staf Bidang TTG BPM-PK Kabupaten Aceh Tengah, Sumadi mengaku bangga melihat hasil temuan dari siswa SMK 2 Takengon tersebut.

“Pemerintah daerah tentunya sangat berbangga, selain memberi harum nama daerah, tentunya hasil temuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah yang sangat mengandalkan transportasi untuk mengangkut hasil bumi mereka,” jelas Sumadi.

Teknologi penghemat bahan bakar ini kini menjadi incaran bagi warga Aceh Tengah yang mayoritasnya adalah petani. Dengan menghemat bahan bakar hingga 40 persen, secara tidak langsung juga meringankan biaya transportasi bagi mobil-mobil angkutan komoditas pertanian dari daerah ini.

“Saat ini, sudah ada 20 unit kendaraan roda empat yang kini dipasang Pemrit pada mesinnya, termasuk mobil saya yang sudah dibuktikan dengan perjalanan jauh rute Banda Aceh-Takengon yang sudah kami tempuh dua kali bolak-balik,” jelas Sumadi.

Sejumlah keunggulan menjadi daya tarik dan nilai lebih dari mesin pemrit ini, di antaranya memberikan proses pembakaran mesin yang lebih optimal, menambah tenaga mesin, tidak mengubah kadar karbondioksida dan menghasilkan kadar emisi normal.

Dengan ditemukannya sistem penghemat BBM kendaraan roda empat ini diharapkan bisa menanggulangi kenaikan harga BBM yang selalu jadi masalah bagi rakyat kecil. (Penulis : Daspriani Y Zamzami; Editor Farid Assifa; http://regional.kompas.com/read/2015/10/10/15102671/Bikin.Mesin.Pengirit.BBM.Anak.Petani.Ini.Sabet.Juara.Nasional.Kompetisi.TTG?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp)-FatchurR

 

———

 

Suroboyo one village one product

“Untuk mengenal suatu kota, yang terbaik adalah jalan kaki.”

Anitha Silvia dari Manic Street Walker, klub jalan kaki di Surabaya yang terkait erat dengan c2o, sudah bilang begitu sejak awal saya mengutarakan maksud hendak mengenal Surabaya lebih dekat. Dalam rangka kerja kala itu. Topik utamanya adalah melihat perkembangan kota Surabaya sampai kini.

 

“Sampai kapan di Surabaya? Kalau sempat, nanti jalan kaki bareng2 sama Manic Street Walker,” Anitha Silvia yang biasa disapa Mbak Tinta menawarkan demikian. Saya beruntung sempat menemuinya di c2o, sebuah perpustakaan kasual di Surabaya yang terletak di Jalan Dr. Cipto. Saya cuma mesam-mesem mengingat banyak kerja yang mesti dirampungkan. Segera. Terdesak deadline.

 

Walau tidak benar2 jalan kaki pada akhirnya, tapi saya sempat juga mblusukan, ditemani dua teman saya naik motor keliling Surabaya. Satu bernama Ayos Purwaji. Ia adalah orang pertama yang mengonsep dan menjalankan Hifatlobrain, sebuah situs (juga komunitas) perjalanan yang fokusnya ada pada pengalaman dan rasa beperjalanan. Basis Hifatlobrain juga di Surabaya.

 

Yang kedua, Lukman Hakim. Masih anak Hifatlobrain. Posisinya social media strategist, tapi sehari-harinya gemar modus ke perempuan2 yang “smart and sophisticated”. Itu tipenya. Keduanya sama-sama berbasis di Surabaya. Baik Ayos atau Lukman (yang biasa saya dan teman-teman panggil Simbah), keduanya juga sama-sama sempat ngerjain saya saat mblusukan.

 

Ayos dengan motornya yang kehabisan bensin. Simbah dengan ban motornya yang bocor. Tapi di luar semuanya, Ayos dan Simbah berjasa banyak, setidaknya mengarahkan jalan yang saya buta sama sekali, juga mengantarkan ke tempat-tempat makan enak.

 

Jadi, di sela mblusukan jalan kaki dan naik motor di Surabaya yang terik, saya girang bukan main melihat-lihat Kampung Pecinan, Ampel, sampai ke bangunan-bangunan Eropa di kawasan yang dulunya disebut Kampung Eropa. Perihal kampung etnis sudah dibahas di tulisan yang terdahulu.

 

Dan, dalam pencarian, ketika kampung-kampung etnis sudah dirasakan tanahnya, beberapa ahli (sejarah atau arsitektur), seperti Muhammad Cahyo dari noMADen Studio dan Andri Ariyanto, sejarawan dari Universitas Wijayakusuma, punya isu baru. Kampung di Surabaya tidak cuma sebatas kampung etnis. Ada yang namanya kampung tematik.

 

Dari ngobrol-ngobrol santai tapi bernas dengan Mas Cahyo dan Mas Andri itu, tiba-tiba saya sudah ada di depan gedung Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya di Jalan Pacar. Ada Mas Iman Krestian di sana yang banyak membantu saya untuk mendapatkan berbagai peta Surabaya tempo dulu sampai sekarang, juga rancangan tata kota Surabaya (juga dulu sampai sekarang).

 

Buku Johan Silas yang disusun dengan beberapa orang lainnya berjudul Kampung Surabaya: Menuju Abad XXI terbitan Bappeko juga diberikan Mas Iman. Di dalam buku tersebut, terurai sejarah Kota Surabaya dari sudut pandang dongeng ataupun sejarah nyata.

 

Juga, jalan cerita sampai akhirnya Surabaya berkembang menjadi sekarang, dimulai dari hanya terdiri dari kampung2 etnis (tadi), sampai akhirnya Pemkot Surabaya menggalakkan program perbaikan kampung. Program ini sudah dimulai sejak 1923 di Surabaya. Program inilah yang akhirnya memunculkan kampung-kampung tematik.

 

Menurut Mas Cahyo yang pernah meriset tentang kampung2 Surabaya dalam penelitian berjudul “Pentas Kota dalam Jagat Kampung”, kampung-kampung tematik ini muncul pertama kali terinspirasi dari kota kecil bernama Oita di Jepang Selatan. Oita mengumumkan program One Village, One Product (OVOP) pada 2001, yang berarti “paling tidak satu kecamatan menghasilkan satu produk unggulan”.

 

Sampai akhirnya, program ini juga digunakan oleh Thailand untuk mengurangi kemiskinan. Istilah di Thailand adalah One Tambon, One Product (OTOP). Lalu, berturut-turut Cina, Filipina, Malaysia, juga Indonesia ikut terinspirasi.

 

Dalam program implementasi penanganan permukiman kumuh dari sisi ekonomi (2011), Pemkot Surabaya memetakan kampung2 tematik di Surabaya. Ada 14 kampung tematik tersebar di berbagai wilayah; mulai dari Pusat hingga Barat. Di antaranya, Kampung Kue Basah di Tegalsari, Kampung Batik di Rungkut, Kampung Olahan Hasil Laut di Bulak, dan Kampung Sepatu di Tambak Osowilangon.

 

Johan Silas, dkk dalam Kampung Surabaya Menuju Abad XXI menyebutkan 8 kampung tematik di Surabaya. Dengan catatan, “Kampung tematik dalam buku ini baru sebagian yang ditampilkan.” Buku ini menyebutkan : Kampung Lontong di Banyu Urip Lor, Kampung Daur Ulang di Gundih, Kampung Tas di Morokrembangan, Kampung Pertanian di Made, Kampung Pengolahan Limbah Mangrove di Kedungbaruk, dll.

 

Simbah sempat mengantarkan saya sampai ke Kampung Lontong yang letak tepatnya di Banyu Urip Lor. Kampung yang menarik, menurut saya, bahkan mulai dari gang depannya. Tidak boleh ada motor yang dinyalakan ketika lewat kampung ini.

 

Semua motor harus dimatikan mesinnya, lalu dibawa berjalan saja. Baru setelahnya saya tahu, tidak hanya Banyu Urip saja yang demikian. Masih ada beberapa kampung lain yang demikian, seperti satu gang di Kraton atau Peneleh.

 

Ketika Simbah harus salat jumat karena sudah tiba waktunya, saya lalu mblusukan sendirian di Kampung Lontong. Perkampungan ini begitu padat. Antara satu rumah dan rumah lainnya berdempetan. Tidak banyak yang punya halaman di depan rumahnya. Jalanan di antara rumah satu dan rumah seberangnya pun tidak terlalu lapang.

 

Siang itu terik. Surabaya memang lebih sering terik, ketimbang gloomy atau teduh. Saya lalu berbelok ke sebuah warung kelontong sederhana dan bertanya letak rumah Ari Siswanto kepada seorang bapak berbaju kokoh dan bersarung yang duduk di warung itu. Ia ringkas menjawab, “Lha, ini rumahnya,” menunjuk ke rumah yang baru saja saya lewati.

 

Saya masuk ke rumah yang tadi ditunjuk bapak berkokoh. Seorang anak lelaki hanya berkaus kutang dan bercelana pramuka membukakan pintu.

 

“Mas Ari ada?” tanya saya. Itu tadi anaknya ternyata. Ia hanya diam saja ketika ditanya, dan ngeloyor masuk rumah. Sekian menit kemudian, muncul seorang lelaki muda yang juga hanya berkaus kutang dan bercelana pendek. Di belakangnya anak lelaki yang tadi itu; memandang malu-malu.

 

Ari Siswanto adalah Ketua Koperasi dan Paguyuban Kampung Lontong di Banyu Urip Lor. Ialah yang memimpin usaha lontong yang sudah dimulai sejak 1990-an di Kampung Lontong. Ia tidak pergi ke masjid di Jumat siang itu.

 

Maka, obrolan kami segera berlangsung. Katanya, awalnya, hanya ada 1 atau 2 orang yang jualan lontong. Pemrakarsanya adalah Ramiya yang belajar membuat lontong dari Mbah Muntiyah puluhan tahun lalu. Buku Johan Silas juga sepakat demikian.

 

Ketika krisis moneter, banyak yang gulung tikar. Namun, pascakrisis moneter—sekitar tahun 1997-1998—mulai banyak lagi yang berjualan. Hingga akhirnya Paguyuban Kampung Lontong diresmikan pada tahun 2005. Sementara lalu menyusul Koperasi Kampung Lontong baru berdiri pada tahun 2009.

 

“Dulu itu, tahun 1940-1950-an, kampung (lontong) ini dikenal sebagai Kampung Tempe,” Mas Ari mulai cerita. Seisi kampung ini, dulu adalah pengusaha tempe. Hanya saja, karena harga kedelai memahal dan banyak kendala lain, termasuk persaingan di antara pengusaha tempe yang semakin kompetitif, banyak pengusaha tempe lalu gulung tikar.

 

Banyak produsen tempe dari kota lain masuk Surabaya, sehingga tempe2 lokal tergeser. Kini, pembuat tempe di Banyu Urip Lor tersisa tidak lebih dari 15 orang. Mata Mas Ari menerawang ke langit2. Di tengah renunangan, ia seperti tersentak. “Wah, Mbak belum ditawari minum, ya.” Ia lalu membuka-buka kulkas dua pintu miliknya, mengeluarkan air mineral botolan bermerek Aqua yang sangat dingin. Glek.

 

Mas Ari lanjut cerita. Lontong lalu mengambil alih masa kejayaan tempe. Di Kampung Lontong, tahun ini, ada nyaris 80-an produsen yang masih aktif membuat lontong. Hebatnya, Kampung Lontong di Banyu Urip Lor kini merupakan penyuplai lontong di pasar-pasar tradisional se-Surabaya.

 

Dalam sehari, Kampung Lontong ini menghabiskan total 2.300 kg/hari. Ari sendiri bisa menghabiskan 70 kg, atau sekitar menghasilkan 1.500 lontong/hari. Omset kotor sekitar Rp1 juta, dengan keuntungan bersih Rp200 ribu-250 ribu. “Selama bahan pokok masih ada dan harganya terjangkau, kita masih akan terus memproduksi tempe,” senyum Ari.

 

Mas Ari lalu pamit untuk mulai mengisi beras ke daun yang sudah digulung-gulung sebentuk lontong di dapur rumahnya. Kaus kutangnya dilepas. Ia bertelanjang dada. Istrinya membantu menjepit-jepit daun-daun pisang di kedua ujungnya dengan lidi pendek, setelah daun itu diisi beras.

 

Saya pamit, tapi Mas Ari menyarankan, “Mending kamu ke rumah Pak Marto. Dia masih jadi pembuat tempe sampai sekarang. salah satu dari sedikit pengusaha tempe yang tersisa sekarang.” Saya langsung mengiyakan.

 

Rumah Pak Marto tidak jauh dari Mas Ari, hanya ada selisih dua rumah di antara mereka. Pak Marto (56 tahun) kebetulan ada di rumah. Pak Marto masih melanjutkan produksi tempenya sejak ia memulainya pada 1965.

 

 

Bapak, yang ketika ditemui sedang mencetak kedelai yang sudah diragi menjadi tempe di dapur rumahnya, ini mengakui dulu sekitar tahun 1978 ketika ia pindah ke Banyu Urip Lor, kampung ini memang didominasi oleh produsen tempe.

 

Dulu, satu RW kesemuanya adalah pembuat tempe. Produksinya bisa menghabiskan hingga 1,5 kuintal kedelai per hari. Konon, tempe buatan Banyu Urip punya rasa lebih enak dibanding tempe dari daerah lain karena terbuat dari kedelai asli tanpa bahan campuran.

 

Seiring waktu, harga kedelai semakin mahal. Sementara, pemasaran juga kurang baik. Banyak pengusaha tempe yang berhenti membuat tempe. Atau, banyak juga yang sudah meninggal dan anak-anaknya tidak ada yang meneruskan.

 

Dihitung secara kasar, kini, produsen tempe di Banyu Urip Lor hanya tersisa 10 orang yang tinggal di RW006. Produksi tempenya pun berkurang banyak. Sekarang hanya menghabiskan sekitar 30 kg per hari.

 

Keringat mengucur banyak sekali dari tubuh Pak Marto yang bertelanjang dada. Tapi, ia terus saja mencetak-cetak tempe dan membungkusnya dengan daun pisang.

 

Tapi, kampung tematik di Surabaya tidak hanya soal Kampung Lontong dan Kampung Tempe. Masih ada banyak kampung yang berkembang. Kampung Tas di Monokrembangan, misalnya. Daerah ini terletak di sebelah utara Surabaya.

 

Dalam buku Kampung Surabaya Menuju Abad XXI dikatakan usaha kerajinan tas, terutama tas untuk perempuan, ini sudah berdiri sebagai usaha bersama sejak 1976.

 

Yang lain lagi adalah Kampung Jambangan yang fokus pada memisahkan sampah mulai dari tingkat rumah tangga dengan sampah basah, untuk dijadikan kompos. Produk-produk dari daur ulang di kampung ini telah diekspor sampai ke Jepang.

 

Namun, tidak seluruh kampung mampu bertahan. Kampung Bordir di Ngagel Madyo dan Kampung Sabun di Kedungbaruk sudah tidak ada sejak nyaris dua tahun yang lalu. Ibu Dwi, warga Kampung Sabun, mengatakan dengan ringkas saja alasan hilangnya kampung Sabun. “Kampungnya sudah tidak ada, tergerus karena munculnya pabrik-pabrik,” kata Ibu Dwi.

 

Di luar itu, ada kenyataan lain yang tidak sesuai dengan harapan. Artinya, ada beberapa kampung yang salah persepsi. Hanya segelentir orang di kampung yang menekuni suatu profesi, tapi profesi tersebut sudah menjadi nama kampung.

 

Seperti, Kampung Jahit (yang ternyata adalah jejeran orang-orang usaha vermak jeans di pinggir jalan di Gubeng. Atau, Kampung Kardus di Jalan Semarang, yang ternyata hanya toko-toko jual berkotak-kotak kardus kosong di sepanjang Jalan Semarang itu.

 

Biar bagaimanapun, kumpulan kampung tematik ini kenyataannya menjadi daya tarik tersendiri bagi kehidupan perekonomian di Surabaya. Konsep One Village, One Product bisa berhasil jika masyarakat punya keinginan untuk berkembang dan menjadi kreatif.

 

Apalagi, jika kampung-kampung yang memiliki ide dan kreativitas masing-masing ini bersinergi dan saling berkomunikasi, bukan tidak mungkin kesejahteraan masyarakat akan membaik. Dan, senada dengan hasil penelitian Mas Cahyo, pada akhirnya kampunglah yang menggerakkan kota.

 

Dan, untuk bisa menjangkau setiap jengkal kampung-kampung tematik yang menarik ini–yang jelas masih banyak yang belum saya jelajahi–, jalan paling tepat menurut saya ya, jalan kaki. Saya sepakat dengan Mbak Tinta. (https://renjanatuju.wordpress.com/2013/03/23/surabaya-one-village-one-product/)-FatchurR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel Gratis
Dengan mendaftarkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan selalu dapat kiriman artikel terbaru dari Alumnimaterdei

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Anda pengunjung ke
UD. Setiadarma
Best PRICE, Best QUALITY & Best for YOU! Setiadarma

UD. Setiadarma-Surabaya Sidharta Krisnamurti HP. 08165419447

Percetakan Offset Sidoyoso
Jl. Kedung Cowek 205 Surabaya (0351) 3770001-3718318 Fax. 3763186
Bosch
Bosch Jl. kedungsari 117-119 Surabaya Telp. (62-31) 5312215-5353183-4 Fax. (62-31) 5312636 email: roda_mas888@yahoo.com
Download Buletin Media Alumni Edisi 2
Buletin-MA-utk.-Widget Buletin Media Alumni bag. 1, kilk disini Buletin Media Alumni bag. 2, klik disini buletin Media Alumni bag. 3, klik disini
Alamo
alamo
Download Buletin
buletin-IAMDP 8 Download Buletin klik pada Gambar
Sahabat kita